Revolusi Nusa Damai Ktut Tantri Sebuah Resensi

Hasil scan cover buku, buku diterbitkan oleh Gramedia

Buku ini sebenarnya sudah lama terpajang di toko buku langganan, tapi sering kulewatkan. Kupikir tadinya adalah novel mengenai orang Bali yang ditulis orang Bali. Sampai kemudian aku membaca resensinya di kompasiana. Ternyata dugaan awalku itu  salah. Buku ini memoar atau otobiografi seorang perempuan asing yang pernah tinggal di Indonesia pada tahun 1932-1947. Perempuan ini juga turut berjuang dalam pencapaian kemerdekaan Indonesia saat itu. Hmm, menarik. Layak dikoleksi. Maka saat ada diskonan di salah satu toko di Bogor, buku ini akhirnya kubeli.

Oleh pers asing, Australia dan Singapura, dia dikenal dengan nama Surabaya Sue. Dikenal sebagai mata-mata dan juga penyiar radio perjuangan Indonesia yang bergerilya dari satu tempat ke tempat yang lain. Perempuan ini berdarah Inggris namun berkewarganegaraan Amerika. Bakat bertualang didapatkan dari ayahnya, seorang petualang yang meninggal di Afrika karena malaria.

Keinginannya berkunjung dan tinggal di Bali, diawali oleh ketertarikannya setelah melihat film tentang Bali, Last Paradise, yang ditayangkan di Hollywood, tempat tinggalnya saat itu. Ada perdebatan mengenai hal ini. Terutama mengenai urutan waktu yang dituliskannya di buku ini. Di sebuah web, seorang yang pernah meneliti tentang film-film yang menceritakan Bali atau berlatarkan Bali mengungkapkan kesangsiannya. Menurutnya, tak ada film dengan judul tersebut yang ditayangkan di Amerika pada tahun sebelum 1932. Adanya adalah film Bali Lost Paradise yang ditayangkan pada tahun 1939, tujuh tahun setelah Ktut Tantri telah berada di Bali (jika memang Ktut mengaku telah ke Indonesia sejak tahun 1932). Hal inilah yang kemudian memunculkan keraguan, apakah buku ini memang sebuah memoar atau hanya novel fiksi berlatarkan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Di sisi lain, Bung Tomo dan istrinya pernah memberikan kesaksian, bahwa yang diungkapkan Ktut Tantri adalah kebenaran. Wallahu alam, entah siapa yang benar..

Lanjut lagi ke kisah Ktut Tantri. Perjalanannya ke Bali dimulai dengan pendaratannya di Batavia yang kemudian diteruskannya dengan perjalanan dengan mobil hingga ke Banyuwangi. Sungguh, aku merasa perjalanan ini tampak sebagai sebuah keajaiban. Demikian pula dengan kisahnya ketika tersesat masuk sebuah puri (istana) kerajaan Klungkung, hingga kemudian diangkat sebagai anak dan diberi nama Bali Ktut Tantri oleh raja Klungkung, pemilik puri tersebut. Jadi berasa seperti alur cerita sinetron atau film. Sehingga kadang aku sangsi, ni beneran ga sih.. Namun keberuntungan yang dialaminya juga  tak bisa kuingkari, karena saat melakukan perjalanan aku pun sering mengalami keberuntungan, meskipun tak sedramatis yang dialaminya. Selain itu, bisa jadi, fisiknya yang bule itu, menjadi kunci keberuntungannya. Di saat itu, bangsa kulit putih kan menduduki strata pertama di bangsa, sebagai bagian dari politik kolonial untuk melanggengkan kekuasaannya (kayaknya sampe sekarang juga masih demikian, tu buktinya muka bule lebih laku di tv daripada muka pribumi). Jadi dengan berkulit putih, seolah-olah kemudahan sudah ada dalam genggaman tangannya.

Apakah kehidupannya selalu dinaungi keberuntungan ? Ga juga, ada kalanya kemalangan juga menimpanya. Meski pun sama kulitnya dengan kolonial, namun dia tak canggung berinteraksi dengan para pribumi. Hal inilah yang kemudian mengganggu para penguasa kolonial di Bali. Mereka menganggap interaksi ini akan merendahkan superioritas kaum kulit putih atas pribumi. Oleh karena itu, mereka sering meneror Ktut Tantri. Hal inilah yang kemudian secara perlahan membentuk antipati Ktut terhadap kolonialisme. Simpatinya beralih pada rakyat pribumi. Bumi Bali dan Indonesia pun secara perlahan-lahan mulai dicintainya. Dan mulailah dia “tercemplung” dalam perjuangan Indonesia untuk mencapai kemerdekaan. Dan ketika itu terjadi, nyawanya pun jadi taruhan. Dia sempat menjadi tawanan Jepang dan mengalami siksaan mental dan fisik di luar batas kemanusiaan selama dua tahun. Beruntungnya, dia mampu bertahan.

Selepas dari penjara, dia makin terlibat dalam perjuangan. Menurut pendapat subjektifku, hal ini terjadi karena fisiknya yang bule dan kemampuannya berbahasa Inggris itu. Fisiknya yang bule memudahkannya untuk dijadikan mata-mata menghimpun informasi pergerakan tentara Belanda dan Sekutu. Sedangkan kemampuannya berbahasa Inggris dibutuhkan untuk publikasi. Pada saat itu, pemberitaan dalam bahasa Inggris sangat diperlukan untuk menegaskan pada dunia luar bahwa perjuangan yang Indonesia lakukan adalah perjuangan untuk meraih dan mempertahankan kemerdekaan yang telah diproklamirkan, bukan perjuangan para ekstrimis, seperti yang diklaim oleh Belanda. Selama ini, Belanda selalu menganggap proklamasi yang dilakukan Soekarno-Hatta adalah lelucon dan perjuangan yang dilakukan rakyat adalah pemberontakan terhadap pemerintah kolonial. Karena itu perlu pemberitaan kepada masyarakat dunia, tentang apa yang sebenarnya terjadi. Dan di sinilah perannya dibutuhkan. Dia pun menjadi penyiar radio perjuangan yang mengudara dari tempat yang berpindah-pindah.

Setelah proklamasi kemerdekaan, bidang baru selain pemberitaan radio didelegasikan kepadanya. Yaitu sebagai corong RI di luar negeri untuk menggalang pengakuan dunia internasional terhadap kemerdekaan Indonesia yang telah diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945. Maka dia pun diselundupkan ke Singapura melalui perjalanan laut. Bukan hal yang mudah, mengingat saat itu Belanda memblokade seluruh wilayah laut Indonesia. Namun lagi-lagi perencanaan yang matang, plus kenekadan dan keberuntungan kembali menaunginya.

Membaca Ktut Tantri ini benar-benar mengasyikkan !! Beralih dari satu petualangan ke petualangan berikutnya, tiada akhir. Bedanya, yang ini terasa lebih dekat, karena latarnya adalah bangsa kita sendiri. Yang menarik dari buku ini adalah, kita bisa mendapatkan persepsi orang luar, bangsa Barat yang diwakili oleh Ktut Tantri, terhadap apa yang dilakukan oleh kolonial Belanda terhadap bangsa kita. Bahwa penindasan dan manipulasi yang dilakukan oleh para pejabat kolonial Belanda terhadap bangsa kita bukanlah sesuatu yang bisa diterima.

Beberapa pemikiran Ktut Tantri tentang kolonialisme ini sempat membuatku jadi berpikir. Jangan-jangan pola pikiran kolonial inilah yang justru diwarisi penguasa bangsa ini sekarang. Karena sepertinya mereka melakukan berbagai upaya sistematis untuk melanggengkan kekuasaannya karena kekuasaan itulah yang diyakininya akan mengantarkan mereka pada kesejahteraan. Persis seperti yang dilakukan para penguasa kolonial saat itu. Pantaslah jika kemudian dari dulu sampai sekarang, kesejahteraan di bangsa ini hanya mengumpul pada mereka yang berkuasa atau pada mereka yang dekat dengan penguasa. Sementara rakyat biasa ya masih dalam posisi yang tak berubah, tetap tertindas.

Terlepas dari perdebatan apakah novel ini adalah sebuah roman atau hanya sekedar novel yang berlatar masa perjuangan kemerdekaan Indonesia,  setidaknya buku itu telah mengingatkan kembali patriotisme yang harus dikobarkan terus terhadap bangsa dan negara yang didirikan di atas perjuangan jutaan manusia ini. Jika warga bangsa lain saja bisa begitu mencintai negara ini, kira-kira bagaimana denganku. Apa yang sudah kuberikan pada bangsa ini. Hmm, apa ya.. ?

One thought on “Revolusi Nusa Damai Ktut Tantri Sebuah Resensi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s