Resolusi Kebangkitan Pribadi: Bijak dan Ngirit untuk Sedikit Berbagi

Kebanyakan libur jadi bingung sendiri, musti ngapain lagi. Kerjaan rutin sudah terselesaikan dari tadi dan tanggal tua ga memungkinkan untuk pergi ke mana-mana lagi. Hufp..

Iseng, mulailah sibuk menghitung dan mencermati. Sebenarnya berapa banyak alat bertenagakan listrik yang kugunakan dalam kebutuhan sehari-hari. Sudah efektifkah penggunaannya ?

Setelah mengamati dan mencermati, ternyata banyak alat yang tumpang tindih fungsinya. Misalnya heater dan dispenser. Fungsinya sama, pemanas air. Dan sayangnya lagi, sebenarnya fungsi keduanya bisa juga kusubstitusikan dengan satu alat, yaitu kompor gas. Dan kompor juga bisa mensubstitusikan dua alat berikutnya, yaitu bread toaster dan rice cooker. Jadi, kesimpulannya, alat-alat itu ga seharusnya kubeli. Hakhakshaks, nyesel deh !

Trus apalagi.. Tiga alat terpisah: dvd player, speaker dan radio sepertinya juga bentuk pemborosan berikutnya. Harusnya, aku cukup membeli satu alat yang daya listriknya hanya 1/3 dari total daya yang dibutuhkan 3 alat itu: home theater. Hmm, pc komputer kayaknya juga ga kuperlu lagi, karena sudah ada laptop yang lebih hemat energi. Ahh, rasanya aku memang harus lebih cermat lagi sebelum memutuskan untuk membeli.

Kenapa si ribet bener.. Alat-alat tu kan simbol gaya hidup modern. Menawarkan kepraktisan dan teknologi mutakhir. Kalo ga punya itu, kita bakal kelihatan miskin dan ga modern a.k.a kuno !

Waduh.. Sebenarnya tulisan ini ga ingin menghambat anda untuk mengikuti modernisasi dengan mengkonsumsi barang-barang yang wah, sophisticated dan sebagainya. Bukan.. itu mah hak anda.. Yang kucoba tulis di sini adalah pandanganku untuk mengingatkanku sendiri untuk lebih bijak berkonsumsi, mengingat sekarang aku hidup di zaman disko, yang lampu (listriknya) kedap-kedip, kadang nyala, kadang ga.

Tak ada yang bisa kulakukan selain mulai mengadaptasikan diriku dan sumber daya yang kumiliki terhadap kondisi tersebut. Atau kalo mo make istilah yang revolutif ya mule mengurangi ketergantunganku pada listrik. Itulah solusi yang kupikir bisa dilakukan. Jadi sekali lagi, masalahnya bukan pada ga mau ikuti perkembangan zaman atau ketidakmampuan membayar tagihan listrik.

Mulai bijak dan realistis berkonsumsi adalah solusi, karena ga ada yang bisa jamin listrik PLN bakal nyala selamanya, selama pembangkit listriknya hanya mengandalkan air dan batubara saja. Inget, keduanya adalah sumberdaya yang makin tipis pasokannya.

Jadi ya bagiku, kalo bisa melakukan sesuatu tanpa listrik ya kupilih saja yang itu. Jadi, aku ga akan uring-uringan berkepanjangan kalau tiba-tiba mati listrik. Uring-uringan yang hanya bikin ga mood untuk melakukan aktivitas selanjutnya dan bener-bener bikin keki (kalau ga ditanggapi).

Kata teman, “Ngapain ngirit, ntar malah bikin PLN rugi..” Hahaha, aku ngarepnya si ga sampai segitu. Kalau banyak orang yang mo ngirit kaya gini, setidaknya PLN akan “terpaksa” mencari konsumen baru dan meluaskan jaringan ke tempat-tempat yang selama ini masih dalam kegelapan (jumlahnya diperkirakan masih ribuan). Jadi bless disguised kan..? Hmm, semoga.. πŸ™‚

* mengetik di hape sambil mengingat kata-kata Panji Pragiwaksono di metro tv kemarin (smoga ga salah kutip), ada 2 macam manusia di dunia: 1. Yang menuntut perubahan 2. Yang menciptakan dan melakukan perubahan. Hmm, berteriak, menuntut perubahan memang mudah dan perlu. Tapi jangan lupa, bahwa ada energi dalam diri untuk memulai perubahan itu. Sungguh, menaklukkan diri sendiri memang jauh lebih sulit daripada menaklukkan siapa pun. Namun belum terlambat memulainya, dari diri sendiri.
Mengutip seorang kompasianer, 20 Mei tak hanya hari kebangkitan nasional, namun juga momentum untuk kebangkitan pribadi.
Semoga tetap konsisten dengan pilihan ini.. πŸ™‚

Iklan

2 thoughts on “Resolusi Kebangkitan Pribadi: Bijak dan Ngirit untuk Sedikit Berbagi

  1. Hahahaa..kayaknya nggak usah repot-repot mikirin PLN rugi deh. Yang penting kita nggak usah mbayar listrik banyak-banyak. Kalo aku mungkin lebih seneng manggang roti pake toaster ketimbang kompor. Soalnya toaster pake listrik, kompor pake gas. Jadi pemanasan di dalam rumah bisa dihemat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s