Kucinta karena Becaknya..

Aku menyukai kotamu. Bukan karena keindahannya, karena dinamikanya, karena fasilitasnya, karena keramahan penduduknya atau karena apa pun. Aku menyukai kotamu karena ada becaknya πŸ™‚ .

Becak di Jembatan Merah Surabaya. Foto dok.pribadi

Moda beroda tiga, bertenaga manusia ini bisa kutemui di sudut mana pun di kotamu. Di tepian jalan protokol, di setiap perempatan atau pertigaan, selalu ada. Tak hanya satu dua, namun puluhan. Bahkan mungkin juga mencapai ratusan (kutemukan di kawasan Jembatan Merah).

Pemandangan yang cukup mengherankan. Di saat kota besar lainnya mulai menyingkirkan moda kendaraan ini dari jalan-jalan protokolnya, namun tidak dengan kotamu. Predikatnya sebagai kota kedua terbesar di Indonesia, belum menciptakan kesombongan untuk menyingkirkan kendaraan beroda tiga yang identik dengan wong cilik ini. Hmm, pemihakan yang cukup membanggakan. Apalagi di saat bumi ini sudah dikotori karbon dari berjuta-juta kendaraan bermotor. Semoga bisa jadi solusi semakin meningkatnya polusi.

Jika dibandingkan, konstruksi becak di kotamu ini berbeda dengan becak yang ada di kota lain. Cukup sederhana dan tampak lebih ramping daripada becak yang kunaiki di Jogja ataupun Pati. Akibatnya mungkin agak sesak jika dipakai bertiga. Berdua saja sudah cukup sesak, apalagi jika bertiga πŸ™‚

Begitu pula dengan penutup bagian atas penumpangnya, cukup sempit. Sempat terpikir wah, kayaknya kalau kunaik, muka bakal tetap kena panas nih.. Tapi, pas ternyata dicoba, prasangka awalku pun terbukti salah. Hehehe, ternyata ga panas ah, meskipun aku mencobanya di tengah hari, saat matahari lagi panas-panasnya, dalam perjalananku ke Masjid Ampel. Adem masih bisa kunikmati dari angin yang bertiup sepoi-sepoi. Ahh, ternyata kotamu ini tak sepanas seperti yang sering kau keluhkan. Atau mungkin karena kunjunganku pas kebetulan lagi agak adem kali ya.. Ga taulah, kalau memang begitu, feel blessed saja aku. Meskipun matahari bersinar dengan garangnya, namun hawa adem yang terbawa angin masih bisa kurasakan.

Karena ada di mana-mana, maka ialah yang kupilih sebagai moda untuk mengeksplor kotamu (meskipun angkot juga ada di mana-mana). Memandang muka para tukang becak yang cokelat terbakar, memandang berharap pada setiap pejalan kaki, hati mana yang tak trenyuh melihatnya. Mendengarkan rayuan mereka dengan nada memelas mengatakan bahwa sampai siang dia belum mendapatkan penumpang sama sekali, β€œMari Mbak.. buat penglaris.. Rp 3000,- an saja, gpp (padahal jarak yang ditawarkan cukup jauh)” siapa pula yang sanggup menolaknya.

Jika biasanya si penumpang menanyakan berapa biaya untuk mencapai ke sana dan ke sini dengan harapan bisa menawar, kali ini aku memilih tidak melakukannya. Sudah lama tak mbecak, seandainya kena harga yang mahal, ya sudahlah, anggap saja konsekuensi sebagai pengunjung. Toh sudah jarang menaiki moda ini. Anggap saja sebagai harga dari sebuah nostalgia. Terakhir naik becak, ya di Jogja tahun awal tahun 2009 silam. Hohoho, betapa lamanya.

Andaipun mendapat harga yang mahal, yah anggap saja sedikit berbagi rezeki pada mereka. Menurut tuturan tukang becak yang kunaiki saat ke jembatan merah, kadang dalam sehari mereka bisa tak mendapat penumpang sama sekali. β€œYah, namanya juga rezeki Mbak.. Ada naik turunnya. Lagian saingan yang mbecak kan banyak. Sementara makin lama penumpangnya makin dikit, karena dah banyak yang punya motor, mobil ber-AC.. Lha kalo berganti kerjaan lain, saya ga mampu.. Wong bisanya ya cuma ngontel saja..” Hmm, sungguh trenyuh mendengarnya. So, apabila mereka menaikkan ongkosnya seribu dua ribu rupiah (biasanya tak akan lewat dari ini), biarkan saja. Toh, pada sopir taksi yang menaikkan tarifnya semena-mena dan kadang mengakali argonya saja bisa kita terima (meski kadang hati nggerundel juga karena naiknya memang tak cuma seribu dua ribu saja). Apalagi buat mereka yang mengandalkan tenaga sebagai pengayuhnya. Sudahlah, ikhlaskan saja.

Ahh, enak juga mengeksplor kotamu ini dengan becak. Kaki yang telah pegal bisa kuistirahatkan untuk sementara.. Ditambah ngobrol dengan tukangnya tentang berbagai hal dan macam yang terkait dengan kota. Seolah-olah menyusuri kota bersama pemandu wisata. Hmm, akan kucoba lagi jika suatu saat nanti aku tiba (lagi) di kota ini ! Titip pesan buat pemkotmu, tolong jangan musnahkan mereka sebelum aku kembali.. πŸ˜‰

Iklan

5 thoughts on “Kucinta karena Becaknya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s