Baca Oh Baca..

Mengapa suka membaca..? Siapa yang dulunya mengajak untuk hobby baca..? Itulah yang sering ditanyakan teman-teman yang melihat kamarku yang tak ada barang lain kecuali buku dan bahan bacaan.

Jika ditanyakan tentang hal itu, pasti jawabanku emmh, entahlah. Yang jelas aku tak bisa kalau tak membaca. Dalam sehari, pasti ada beberapa jam yang kuluangkan untuk membaca, sesibuk apa pun itu. Bahkan saat, maaf, buang air besar pun aku lebih suka melakukannya dengan membaca, entah buku, entah sesobek koran. Pokoknya harus ada bahan bacaan yang kubawa ke toilet. Kadang aku juga rela berpuasa untuk bisa membeli buku atau bahan bacaan yang lain. Hehehe, untunglah sekarang ada smartphone yang bisa surfing internet, jadi kebutuhan membaca ku bisa lebih fleksibel. Ga  harus beli buku, tapi cukup baca ebook-nya saja. Hehehe.

Kalau ditanya siapa yang mengajarkan untuk suka baca. Aku juga tak tahu. Di rumah kayaknya yang maniak baca cuma aku. Tapi kalo ditrace, bisa jadi bakat dari keluarga besarku, karena paklikku ada juga yang suka membaca dan beberapa sepupuku (yang di Bekasi) juga sangat suka membaca.

Walau dalam keluarga inti yang suka baca cuma aku, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa kebiasaan bacaku ini memang lahir karena adanya fasilitas dari bapak dan ibu. Pada usia pra dan TK, bapakku sering membawa banyak buku yang dipinjamkan dari SD tempatnya mengajar. Jika liburan dan diajak main ke sekolah tempatnya mengajar, maka perpustakaanlah tempat favoritku. Apalagi, ternyata perpustakaan di sekolahku ga aktif, maka pasokan bacaanku pun datang dari bapakku. Majalah yang dikhususkan untuk sekolah semacam Belia, Ceria juga kupinjam dari sekolah bapakku. Habis baca, balikin lagi ke perpustakaan, berbagi dengan murid bapakku.

Walaupun kehidupan kami pas-pasan, bapak tetap meluangkan gajinya untuk berlangganan koran harian untuk membuka wawasan kami. Maklum saat itu  kami belum punya teve (teve baru kami punya setelah aku SLTP). Jadi berita dan informasi sebatas dari radio. Seingatku, kami berlangganan kedaulatan rakyat dan wawasan. Mungkin inilah sebabnya kenapa aku menyukai Umar Kayam. Kolomnya di KR menjadi bagian yang tak pernah kulewatkan saat itu.

Lalu bagaimana dengan bacaan anak-anak seperti Bobo, smurf, tin tin, donald bebek, dan lain-lain. Wah, ga terakses sama sekali tuh, dalam artian tidak bisa kumiliki, hehehe, habis harganya mahal sih.. Meskipun demikian, aku tetap bisa membacanya dengan meminjam dari teman-teman ataupun dari teman kakakku. Beruntungnya,  pakdheku selalu membawakan bendel Bobo sebagai oleh-oleh ketika datang berkunjung. Meskipun hanya berupa bendel dari majalah Bobo bekas, namun tetap saja menyenangkan, masih banyak ilmu dan informasi yang bisa kudapatkan.

Beranjak ke kelas-kelas akhir SD, paklik dan bulikku mulai lulus kuliah, maka bahan bacaanku semakin beragam karena semua bahan bacaan mereka saat kuliah terkumpul dalam sebuah lemari besar di rumah mbahku. Itulah masa perkenalanku dengan Tempo, koran Kompas, jurnal sosial politik (karena om dan bulikku kuliah di Sospol UGM). Buku dan bacaan sastra karya Umar Kayam, Ahmad Tohari, Goenawan Muhamad (karena ada juga bulikku yang kuliah di sastra), dan juga tentang buku dan majalah mengenai tanaman (karena ada yang kuliah di pertanian) juga menjadi santapanku sehari-hari.

Hehehe, bacaan yang lumayan berat untuk anak SD ya.. karena ga ada yang melarang, ya kuembat sajalah, meskipun jujur, kadang bingung dan bin pusing juga membacanya. Karena tidak ada teman untuk mendiskusikannya, maka pertanyaan yang muncul ketika membaca suatu bacaan kucari sendiri jawabannya dengan membaca bacaan yang lain. Karenanya, tak pernah ada bosan untuk membaca. Semakin membaca jadi semakin penasaran, terasa seperti sebuah petualangan.

Ketika remaja dan teman-temanku mulai membaca Gadis, Aneka dsb, bacaanku justru berkembang ke bidang filsafat, agama dan hal-hal yang ‘berat lainnya’ setelah buku karya Emha, Nurkholish Madjid juga kutemukan di lemari itu. Pandanganku jadi meluas, dan kadang sering berbenturan dengan pandangan bapakku yang cenderung konvensional. Hahaha, hubungan kami jadi sering mengalami konflik karenanya. Dulu aku masih sering ngotot pada beliau, namun semakin dewasa, aku pun bisa meredamnya. Sebisa mungkin menghindari percakapan yang membahas sesuatu secara mendalam dengan bapak, biar ga jadi perdebatan. Hahaha.

So beginilah aku. Masih tetap dengan hobiku. Membaca dan mengumpulkan bacaan, terutama yang terkait sejarah dan geografi. Semoga saat berkeluarga dan berketurunan nanti, anak-anakku bisa mewarisi hobby ini. Banyak teknologi yang memudahkan dilakukannya hobby ini, jadi tak ada alasan untuk tak suka baca.. 😀

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s