Membayar di Muka..?

Gambar copasan

Aku memilih film ini bukan karena daftar pemainnya yang tergolong nama-nama yang wah. Yap, di sana memang ada nama Jon Bon Jovi berperan sebagai Ricky McKinney. Jujur, cukup mengundang penasaran. Gimana si aktingnya rocker yang katanya sayang keluarga ini (merujuk lirik lagunya The Dance Company). Di sana juga dibilang bahwa sutradaranya adalah Mimi Leder yang biasa men-direct serial ER. Hmm, oke, cukup menggoda. Selanjutnya ada ada nama Haley Joel Osment. Terbayang deh muka innocent (namun tertekan) nya di Sixth Senses. Dan juga suara nakal menggemaskannya ketika mengisi suara karakter Mowgli di The Jungle Book 2. Hmm, cukup menggoda untuk ditonton. Tapi bukan alasan yang cukup kuat mengingat beberapa film yang dibintangi aktor terkenal yang pernah kutonton ternyata juga tak bagus-bagus amat ceritanya (hahaha, gaya benar ya..)

Aku memilih film ini untuk ditonton juga bukan karena film ini telah berhasil memenangkan satu award untuk pemeran pembantu pria dan dinominasikan untuk tiga kategori lainnya. Bukan-bukan.. Aku memilih film ini karena judulnya Pay it Forward. Gubrak..! Emang apa yang menarik dari judul itu..? Hehehe, karena penguasaan idiomku lemah, maka judul yang simpel itu justru membuatku penasaran. Pay forward.. ini artinya bayar di muka ya ? Hmm, terkait kredit dan transaksikah..? Tapi pas baca resumenya kok ga ada kaitannya dengan dua hal itu ya..? Cuma dibilang bahwa kisahnya menyentuh hati. Ah, karena lagi pengen yang trenyuh dan nangis-nangis, akhirnya film itu kupilih dah..! *dasar pemilihan tontonan yang aneh, jangan ditiru*

Cerita dimulai dari kesialan seorang reporter amatir yang mobilnya rusak ditabrak pelaku penyanderaan yang sedang diliputnya. Hujan, mobil ringsek, ga dapat bahan berita. Hmm, kombinasi yang pas banget bukan 😉 Kemudian, datanglah seorang jutawan dermawan yang memberikan mobil jaguar barunya pada si reporter. Ingat, memberikan bukan meminjamkan ! Gila banget kan.. Ketika ditanya, apa yang harus dilakukan untuk membalas kebaikan tersebut, si jutawan cuma menjawab, lakukan saja kebaikan pada 3 orang lain. Hmm, mungkin adegan ini agak berlebihan. Tak heran jika kemudian muncul kritik dari sebagian orang. Sekaya-kayanya Bakri, mau ga sih, dia ngasih jaguarnya buat orang yang baru dikenalnya..?

Slap, langsung berganti adegan keempat bulan sebelumnya. Suasana di kelas saat pelajaran IPS dimulai (catatan untuk adegan ini, haa, enak sekali sih murid-muridnya.. Ga perlu pake seragam atau pakaian formal. Cukup dengan kaos, bahkan yang tanpa lengan. Anehnya, saat si murid berpakaian begitu santainya, si guru justru sangat formal dan rapi: jas dan berdasi).

Si murid terpana dengan penampilan si guru IPS, Eugene Simonet, yang cukup mengerikan (diperankan oleh Kevin Spacey yang pernah berakting di American Beauty dan puluhan film lainnya). Mukanya penuh luka bakar. Dan mereka makin heran, ketika ditanya,  apa yang mereka harapkan dari dunia dan apa yang dunia harapkan dari mereka. Dengan lugas dan polos Trevor McKinney (diperankan oleh Haley Joel Osment) menjawab, “Nothing.” Bukan jawaban yang salah memang, mengingat mereka masih berumur 11 tahun, masa anak-anak di mana mereka belum mendapatkan kewajiban dan hak sepenuhnya sebagai warga negara. “Jangan sampai ketika masa itu datang, dunia dan kehidupan yang kita hadapi jauh dari yang kita harapkan, our life is being suck..” jelas si guru lebih lanjut. “Karena itu, belum telat bagi kita untuk mempersiapkannya. Caranya adalah mengubah yang tidak kita sukai dari dunia ini menjadi sesuatu yang kita sukai,” ujar si guru sambil membuka peta di papan tulis sehingga terbentanglah tulisan “ Think an idea to change our world- and put it into action”. Itulah tugas si murid selama setahun ke depan. “Weird.. hard.. crazy..bummer..” begitulah tanggapan para murid terhadap tugas itu. “Tapi bukan hal yang mustahil untuk dilakukan kan..” tandas si guru untuk meyakinkan mereka.

So, pada pertemuan berikutnya mereka mempresentasikan kira-kira apa yang akan mereka lakukan untuk mengubah dunia sesuai yang mereka inginkan. Dari sekian ide yang dipresentasikan oleh murid-muridnya, satu yang menarik perhatian Simonet, yaitu ide si Trevor. Menurut Trevor, dunia akan jadi lebih baik, jika setiap orang saling membantu. Idenya, satu orang memberikan bantuan pada tiga orang, namun ketiganya tak harus membalas kebaikannya tersebut langsung padanya. Yang harus mereka lakukan adalah memberikan bantuan berikutnya kepada tiga orang yang lain. Dan begitu seterusnya. Ide yang simpel, namun tampak utopis memang. Apakah bisa diwujudkan ? Hal inilah yang kemudian ingin dijawab film ini.

Perubahan bukanlah sesuatu yang mustahil dilakukan, efeknya pun tidak akan muncul segera sesuai keinginan kita. Inilah argumentasi yang dibawa film ini. Pada suatu titik, si Trevor pun sempat putus asa dan menganggap proyeknya gagal ketika ketiga orang yang ditolongnya ternyata tidak menunjukkan efek sesuai yang diinginkannya. Jerry tetap menjadi pemadat meskipun sudah punya tempat tinggal, Simonet tetap tak bisa jadi pendamping ibunya, temannya tetap menjadi korban kekerasan dan dia hanya bisa melihatnya tanpa memberikan pembelaan.

Kekecewaannya membuat dia tidak sadar, bahwa di luar efek yang diinginkannya, sebenarnya perubahan itu terus berjalan dan mengubah orang-orang di sekitarnya pada tingkat tertentu dan mencapai batasan geografis yang di luar perkiraannya. Hal ini baru disadarinya ketika reporter Los Angeles yang tampil pada adegan awal ini berhasil merunut rantai kebaikan yang telah dilakukannya hingga ke rumahnya yang berada di pinggiran Las Vegas.

Dari yang kubaca dari  sini banyak yang mengkritik film ini sebagai drippy, cheesy, schmaltz, utopis namun menurutku film yang cukup menarik kok. Di luar adegan awal yang kusebut di atas, film ini tampil cukup realistis. Trevor, si sosok inspiratif tetap tampil dan berpikir layaknya anak yang berumur 11 tahun. Si guru yang menjadi sosok idola bagi si Trevor juga bukan sosok tanpa cela. Begitu pula ibunya (diperankan Helen Hunt). Apa yang salah dari ajakan untuk mempersiapkan kehidupan yang kita inginkan dari awal, sehingga kita tidak hanya sekedar mengutuk dan menyalahkan jika kemudian kehidupan tampil sebagai sesuatu yang kejam dan tidak kita inginkan ? Bukan hal yang mustahil untuk dilakukan kan..?

Meskipun ada beberapa adegan yang kadang bikin bertanya, mmhh, adegan ini maksudnya apa ya..(terutama adegan yang terakhir banget), namun esensi cerita tetap terjaga kok. Akhir yang sedih juga mempertahankan cerita ini sebagai sesuatu yang membumi, bahwa tak semuanya harus berakhir bahagia (beda banget ma sinetron Indonesia !!). So, menurutku sih, film ini tetap layak ditonton..

* sumber gambar di sini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s