Ngampel Denta

Sebenarnya tak merencanakan untuk ke sana, tapi pas paginya sempat terbersit juga di hati, kalau cukup waktu, boleh dah mampir ke sana. Tapi pas diklik di google dan di peta kota yang kupegang, kok tampak susah menemukannya ya.. Tapi pas turun dari sebuah bis kota di Jembatan Merah, tiba-tiba ada seorang tukang becak dan menghampiri, Ngampel mbak.. 5000 aja deh.. Masih dengan muka ga yakin, tapi kuiyain aja. Dalam hati mikir, haaa.. akhirnya kesampean juga ke Ampel..!!

Saat itu jam sudah menunjukkan hampir pukul 12.00, melajulah becak dengan kencang masuk ke gang sebelum pintu masuk Kembang Jepun Area (jadi keinget novel Remi Silado). Membelah gang kecil yang dipenuhi warung dan toko yang berjajar. Sepertinya pasar.

Gerbang menuju Kembang Jepun. Foto koleksi pribadi

Becak masih belak-belok, dalam hati berpikir ni kapan nyampenya ya.. Ngajak ngobrol tukang becaknya yang menjawab dengan logat Madura kental, “Bentar lagi” ujarnya. Dan berhentilah dia di depan gang yang bertuliskan Ampel Suci.

Ohh, ini tho batinku. Trus mana masjidnya.. Ini kok cuma selasar selebar 2 meter yang kanan kirinya penuh dengan warung-warung souvenir yang menjual pernak-pernik kesantrian, macam kerudung, kopiah, gamis, tasbih, kaset dan mp3 Al Qur’an, buku-buku Islam, dsb. Karena ga tahu apa-apa, ya sudah, ngikutin aja orang yang berjalan di depanku. Lho, kok banyak bapak-bapak bersarung ya.. Oh, ya, kan Jumat ya, bentar lagi Jumatan ni. Kemudian ada beberapa bapak-bapak yang menegur, ayo ibu-ibu, pengunjung, tolong minggir dulu, kita mau sholat. Heee, batinku, maksudnya apaan. Kalo mo sholat ya di masjid kali, ngapain ngusir kita, batinku cuek terus berjalan ke dalam.

Selasar sempit, jalan masuk ke masjid

Ga sampai sepuluh meter, baru ngeeh, oh ternyata masjid ada di ujung gang dan sepertinya sudah penuh. So, bapak-bapak yang kebanyakan bermuka Arab itu shalatlah di selasar tersebut, bahkan ada yang shalat di dalam warung-warung. Aku pun menyingkir ke gang yang ada di samping kanan selasar. Mampir minum dawet pada ibu-ibu yang berjualan di situ.

Karena masjid penuh, mereka pun shalat di selasar. Foto dok. pribadi

Tak lama kemudian, shalat sudah selesai. Ibu penjual dawet pun berujar supaya aku segera nyesek masuk ke dalam, “Kalau ga nyesek, ntar nungguin lama banget lho..” Oya, akhirnya dengan pengunjung yang laen, aku pun beranjak ke dalam. Bayangkan saja, di selasar yang sesempit itu kami harus nyempil di antara 2 jalur jamaah yang akan mengular keluar. Padahal di tengah jalur tersebut telah berdiri ratusan dhuafa yang menunggu sedekah dari para jamaah shalat Jumat. Oalahhh… udara pun jadi puanasss… keringat pun mengucur deras. Hadowh, kok musti berjuang banget gini ya.. Ga kaya kalo kita berjuang ke Masjid Demak atau Menara Kudus.. (kalo Muria si sama aja kayak gini.. malah diperparah dengan tangganya yang beratus-ratus itu.. hehehe).

Akhirnya, setelah badan basah semua oleh keringat, berhasil juga aku masuk ke lingkungan masjid. Haa, akhirnya berhasil juga !! Di dalam lingkungan ini ada beberapa bagian, ada ruangan tambahan di sebelah kiri masjid, yang diperuntukkan bagi jamaah perempuan untuk shalat. Sedangkan di barat masjid tampaklah makam Sunan Ampel dan kerabatnya. Emmh, di mana tempat wudhunya, melihat orang yang tampak segar mukanya dan basah, keluar dari kompleks makam, kuasumsikan saja, bahwa di situlah tempat wudhunya. tapi lagi-lagi, ngantri aka berjubel banget pengunjungnya. Antara yang masuk dan keluar ga jelas, maka yang terjadi adalah kesemrawutan.

Puncak masjid yang berbentuk menara. Foto dok. pribadi

Hmm, pas belok ke tempat wudhunya, waduuh, kok pada ngantri mandi ya.. (ato ada kepercayaan dan mitos tertentu ya, makanya mereka berame-rame mandi..). Ga ngerti dan udah capek buat nanya, akhirnya aku memutuskan buat wudhu aja, kalo harus mandi, hadowwwh, ngantri lagi, panjang juga ularnya..!

Habis wudhu, melihat banyak orang yang meminum air langsung dari gentong yang menampung air dari keran. Wah, sepertinya ni ada mitosnya juga.. Meskipun ga tahu artinya, tapi kuikuti juga ritual meminum air mentah itu. Lumayan, air ku tadi ketinggalan di bis kota. Hehehe. Kemudian aku pun masuk ke kompleks makam. Berdoa sebentar, membaca Al Fatihah dan ayat kursi, aku pun segera beranjak keluar. Hmm, masih sesak juga.

Setelah berhasil keluar, aku pun shalat di teras masjid, daripada di ruangan yang dipenuhi jamaah perempuan. Toh banyak juga jemaah perempuan yang shalat di sini. Setelah shalat, menyempatkan diri mengintip ke dalam masjid. Oh, tiangnya banyak sekali. Beda sekali dengan masjid Menara Kudus dan Masjid Demak. Ga sempat berfoto-foto, karena ada tulisan dilarang memotret ditempel di dinding.

Gerbang keluar dan masuk masjid Ngampel. Foto dok pribadi

Akhirnya langsung beranjak keluar, haaa.. ga terasa badan capek juga setelah muter-muter seharian ini. Melirik jam sudah hampir jam 15.00. Sudah saatnya ke Mojokerto, ke tempat acara inti yang seharusnya kuikuti. Hehehe, so, penjelajahan hari itu pun kucukupkan di situ saja. Hehehe, dalam hati tetap terbersit kepuasan. Ahh, akhirnya nyampe juga di Ngampel, ke masjid yang menjadi saksi Sunan Ampel dalam mendakwahkan Islam di Surabaya. Mbecak lagi ke Jembatan Merah dan melewati pasar ikan yang sudah menampakkan aktivitas transaksinya.

Pasar ikan yang memulai aktivitasnya pasca shalat Dhuhur. Foto dok. pribadi

Ikan-ikan segar yang menggiurkan. Foto dok. pribadi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s