Uneg-Uneg tentang Pulau Seberang

Bali adalah kota pariwisata. Mereka begitu menyadari bahwa kehidupan pulaunya bersandarkan pada nama besarnya sebagai daerah favorit tujuan wisata. Oleh karena itu, mereka menyambut kehadiran para wisatawan dengan cara terbaik, memberikan kenyamanan terbaik kepada mereka sehingga mereka jatuh cinta dan kembali lagi ke Bali pada musim liburan berikutnya. Misalnya saja, mana pernah mereka mengolok dan menggodai orang yang lewat. Tidak seperti para pemuda di Jawa, yang ketika bergerombol dan melihat seseorang (apalagi cewek), maka secepat kilat mereka akan melontarkan kata-kata yang menggoda, kadang bikin merah di telinga karena terkesan melecehkan. Hal itu akan sangat jarang sekali kita temui di Bali.

Ketika berkunjung ke Lombok, aku pun mengharapkan sambutan yang serupa, mengingat Lombok juga destinasi yang cukup diminati oleh para wisatawan. Namun alangkah kecewanya diriku, karena hal sebaliknya yang kutemui. Di sepanjang jalan, sering sekali kami (aku dan teman seperjalananku) mendapatkan komentar yang memerahkan telinga dan perlakuan yang tidak menyenangkan. Dan kurasakan ini mencederai kenikmatan dan kenyamanan kami selama di Lombok. Sungguh, sayang sekali jika alam yang indah itu tak dibarengi keramahan penduduknya dalam menyambut wisatawan.

Sebelum ke Gili Trawangan, pada malam harinya aku sempat membuka google untuk mencari tahu lebih dalam mengenai pulau yang akan kukunjungi itu. Di beberapa blog yang kutemui, banyak tulisan mengenai pengalaman mereka yang tidak menyenangkan saat menyeberang ke tiga gili itu. Terutama ketika mereka dari terminal dan menuju ke kantor yang menjual tiket penyeberangan. Mereka akan dipaksa oleh orang-orang yang ada di terminal untuk menaiki cidomo, dengan harga yang cukup mahal, padahal cuma beberapa meter jaraknya. Hmm, berita yanga ga bagus ni, terutama untukku, backpacker dengan modal yang cekak. Untuk menghindari hal ini, aku menyiasatinya dengan naik ojek dari penginapan yang ada di sepanjang pantai Senggigi tersebut hingga ke halaman kantor dermaga. “Jangan berhenti di terminalnya Pak..” pesanku. Yup, akhirnya selamat dari pemaksaan.

Namun saat akan masuk ke kantor tersebut, banyak asongan yang menanti dan kemudian mengerubutiku. Mereka menawar dagangannya dengan gaya preman a.k.a memaksa. Arrrrgh, sungguh menyebalkan. Namun kucuekin aja dengan ga banyak komentar dan pasang muka serem. Sampai di dalam, ada aja orang yang memanfaatkan keadaan dengan menjadi calo tiket, menjadi pemandu sampai ke Trawangan, dll. Padahal meja penjualan tiket sudah jelas-jelas ada di depan mata dan pemandu buat ke Trawangan.. haa, buat apa..? (semalam di blog ada yang menuliskan pengalamannya tertipu pemandu abal-abal yang menawarkan keramahan di awal, tapi kemudian sampai di Trawangan memaksa minta bayaran, padahal ga ada pun yang dilakukan selain mengobrol ringan).

Tiket ke Gili Trawangan sudah kudapatkan, dengan harga Rp 10.000,-. Lalu aku pun menunggu sampai ada panggilan dari loudspeaker buat penanda keberangkatan dengan melihat-lihat papan informasi yang ditempelkan di dinding kantor tersebut. Namun lagi-lagi, orang-orang mendekati (beberapa pemuda) yang melontarkan kata tidak senonoh.. Arrrgghhh.. sebal..! Setiap ada penumpang (wisatawan) datang mereka pun segera mengerumuninya. Sebagian memprovokasi wisatawan (yang terlihat kaya) untuk langsung memborong tiket 20 orang biar kapalnya langsung berangkat (padahal kuyakin penumpang pagi itu sudah cukup banyak kok..)

Akhirnya, suara mbak-mbak di loudspeaker mengumumkan agar para penumpang bersiap karena kapal akan diberangkatkan (itu adalah penyeberangan pertama hari itu, kira-kira pukul 07.30). Kami pun naik, weit.. kok jumlah penumpang sepertinya banyak banget.. tapi tadi katanya kuotanya cuma 20 penumpang. Ketika kuhitung ada hampir 40 orang di kapal itu. Yang ga kebagian duduk di tempat yang seharusnya pun duduk di bagian depan kapal, bahkan ada yang naik kea tap kapal yang cukup ditutup terpal itu. Ahh, belum lagi banyak sekali barang-barang yang diletakkan di antara penumpang yang duduk saling berhadapan. Ahh, pantes banyak terjadi kapal tenggelam ya.. Habis penumpang gelapnya aja lebih banyak daripada penumpang yang tercatat membeli tiket.. Ah, resiko berangkat dengan kapal yang paling pagi ya begini nih.. bercampur dengan orang lokal yang akan bekerja di Trawangan (sepertinya mereka penumpang gelap, kebayang kan kalo tiap hari pp harus bayar tiket terus, alias Rp 20.000,-/hari buat ongkos transport doank..)

Sampai di kapal, para pemuda yang bergerombol di darmaga sudah melontarkan “kata-kata aneh”lagi. Begitu pula dengan kusir cidomo saat menawarkan jasanya. Terkesan butuh ga butuh, menawarkan jasanya dengan kesan memaksa. Ketika kami menawar harganya, mereka malah marah dan mengatai-ngatai kami. Padahal harga tawaran kami anggap cukup wajar dan beralasan. Kemudian saat menyewa sepeda, si penyedia sepeda juga tampak tidak antusias melayani kami. Apakah tampilan kami memang begitu mengenaskannya (terlihat miskin) hingga sambutan mereka seperti itu, tampak ogah-ogahan dan tidak memberikan pelayanan terbaiknya ? Hal serupa selanjutnya sering sekali kutemui. Di beberapa tempat, misalnya di Kuta atau Tanjung Aan, para penjual souvenir keliling sama sekali tak memberikan kesempatan pada kami untuk menikmati alam mereka yang sangat indah itu. Mereka mengerubuti dan memaksa menawarkan dagangannya. Banyak pemuda berpenampilan seram yang terselip di antaranya.

Belum lagi soal angkutan umum yang ada di Lombok, banyak yang ga bisa menjangkau objek-objek yang justru diandalkan, seperti Tanjung Aan ataupun Kuta, mana ada angkot umum yang ke sana. Mo ga mo ya nyewa mobil, nyewa motor, naik taksi, atau ngojek. Angkot terbatas di kota atau daerah sekitarnya. Dan musti ati-ati, banyak angkot yang ngemplang ongkos ketika tahu kita wisatawan (kalo di Bali mah, wisatawan ma orang lokal tetap dihargai sama jika naik angkot). Buat yang berangkat sendiri dengan modal cekak sepertiku, sebaiknya ngojek karena kalo nyewa motor sendiri juga beresiko. Sebenarnya jalannya sih ga ribet-ribet amat, dalam artian tidak terlalu menyesatkan), tapi keamanannya diragukan bow. Dari yang kusurfing di internet, aku sering dapat berita tentang banyaknya wisatawan yang dirampas motornya di jalan (maklum jalan-jalannya yang ke objek-objek tertentu memang relatif sepi). Tapi kalo yang berangkat ramean, misalnya lebih dari 2 orang, nyewa motor memang pilihan yang sangat ekonomis.

Ketidaknyamanan tak berakhir di sana, bahkan saat di kapal penyeberangan, saat pulang, ketidaknyamanan kembali kami rasakan. Tiket menyeberang yang udah terpakai oleh penumpang , ditawarkan kembali kepada penumpang lain. Lalu mereka diselundupkan sebagai penumpang bis AKAP Bali-Lombok, sampai masuk ke dalam ferry. Karena penumpang selundupan, maka tak dapat tempat duduk, padahal antrian bis untuk masuk kapal lama banget, hampir 2 jam. Arrrgh. Pas nyampe di ferry, kami pun segera baik ke kabin. Namun di sana, banyak terlihat gerombolan pemuda yang ga jelas melakukan apa di atas ferry selama ferry belum berangkat. Jualan ga, ngamen ga, tapi pada ngomong ga jelas, njelekin dan nyindir penumpang yang inilah yang itulah (untung aku ga ikut dikomentari). Pas kutanyain pada penumpang yang sering naik ferry ini, hal ini memang selalu terjadi. Arrrggggh..

Sure, tulisan ini bukan bermaksud untuk menjelekkan, namun share keprihatinanku sebagai orang yang pernah berkunjung ke Lombok. Lombok alamnya sangat indah, namun jika perilaku para stakeholder (terutama penduduk lokal yang terkait pariwisata) masih tetap seperti ini, kurasa Lombok tak akan pernah bisa menyaingi dan menggantikan Bali sebagai destinasi wisata. Potensi yang mereka miliki akan tenggelam begitu saja, jika mereka tidak dengan bijak mengelola dan memanfaatkannya.

Selesai menuliskan uneg-uneg ini aku juga langsung teringat ma Franz Wisner (penulis Honeymoon with My Brother) yang pernah menjelajah ke Lombok. Sepertinya hal ini juga dialami dan ‘ditangkapnya’, karena itulah dia menyatakan secara eksplisit bahwa dia tak tak terlalu terkesan dengan Lombok. Hmmm, semoga ini cepat menyadarkan para stakeholder yang terkait di Lombok. Keindahan alam memang modal, tapi keramahan penduduk dan transportasi juga faktor penunjang yang menentukan. Sekali lagi, ni bukan tulisan untuk menjelekkan Lombok karena aku juga membuat banyak tulisan yang menyanjungnya. Tapi uneg-uneg dan keprihatinanku karena aku juga cinta Lombok, cinta Indonesia 😀

2 thoughts on “Uneg-Uneg tentang Pulau Seberang

  1. Ngapain sich liburan ke Lombok… Disana ga aman tau… Mending ke Bali, Wakatobi, atau ke Jogja…
    Lombok memang indah, tapi SDM pelaku pariwisata disana jeblok parah… Belum bisa menghormati tamu yang berkunjung ke daerahnya sebagai raja yang harus dihargai…
    Ngapain kita berlibur, tapi jiwa kita tertekan karena merasa tidak aman??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s