Memancing Rezeki

Kemarin, ada perlombaan mancing di kebun untuk merayakan ultah kebun yang ke-51. Meski belum pernah mancing sebelumnya, aku memutuskan untuk ikut. Iseng.. hehehe. Sekali-kali pengen juga ngerasain sensasinya umpan kita dimakan ikan hingga mata kail nyangkut di lehernya.. (ops, ko terdengar kejam ya.. btw, emang ikan punya leher..?) Kayak yang di tipi-tipi itu lho, kayaknya pada nikmat bener kalo mancing. Banyak yang kecanduan, bahkan mantan presiden Soeharto juga kecanduan ma aktivitas yang satu ini. Konon katanya lobby politik juga dilakukannya sambil memancing.

Karena ga punya alat pancing, aku pun menyewanya pada teman yang hari itu buka rental pancing. Lumayan, 5000 dapet pancing bonus cacing tanah sebagai umpan. Kemudian bergabunglah bersama ratusan teman yang telah mengerubungi kolam sepanjang 200 meter itu dengan alat pancing masing-masing. Baru aja nyemplung, beberapa teman sudah mendapatkan ikan. “Wadouh, cepet bener..” batinku. Tak berapa lama kemudian, teman yang sudah mendapatkan ikan itu pun mendapatkan ikan lagi. Lagi..?!

Dari yang berhasil mendapatkan ikan, beberapa diantaranya memang sudah terbiasa memancing di danau Beratan ataupun laut. Jadi, mereka sudah cukup pengalaman. Bahkan ada diantaranya yang tak memerlukan umpan lagi untuk memancing. Hanya bermodalkan mata kail. Jika ada ikan yang mendekat, mereka cukup menggerakkan senarnya hingga mata kail tersebut menancap di ikan tersebut. Lalu dengan cepat ditariknya ke atas. Tentu saja keterampilan ini datang dari pengalamannya setelah sekian kali memancing, bukan datang secara tiba-tiba. Buktinya, temanku yang pemula, tak berhasil-hasil juga ketika mencoba teknik ini. Hehehe.

Sementara yang mendapatkan ikan, meski hanya sedikit, biasanya adalah mereka yang pernah memancing namun tak sering. Ada pula diantaranya yang juga pemula, namun mereka jauh lebih sabar daripada kami, pemula pembosan, yang mudah putus asa, yang segera berhenti segera ketika gagal sekali..

Bagi yang tak mendapatkan ikan biasanya hanya biasa tersungut-sungut, nggerundel dan memandang iri pada mereka yang mendapatkan ikan. Lalu mendatangi mereka yang sama-sama gagal, sambil bercurhat, “Ah, aku ga dapet-dapet ikan nih, pasti karena umpannya bukan cacing yang segar..” (pembelaan versi 1). Sementara yang lain menanggapi, “Bukan, tapi karena ikannya udah dikasih makan sebelumnya, jadinya ga laper lagi en ga tertarik lagi ma umpan kita..” (pengkambinghitaman versi ke-16) bla..bla..bla.. Lalu ada pula yang saking keselnya ga dapet-dapet, dia membanting pancingnya atau kemudian iseng mengganggu teman lainnya yang masih berkonsentrasi.

Lalu, aku masuk kategori yang mana..? Hahaha, aku masuk kategori pemancing ASAL: yang asal memasang pancing, tanpa merhatiin di situ ada ikan atau nggak, lalu segera pergi makan🙂. Kemudian kembali lagi, mengamati apakah ada ikan yang nyangkut atau nggak. Lalu mindahin posisi pancing lagi ke tempat yang lebih banyak ikan setelah diprotes ma teman, hee, niat mancing kagak, tu pancingnya kok dipasang di tempat yang ga ada ikannya. Menungguinya sebentar, tapi sambil mengobrol ma teman. Lalu ditinggalkan lagi, sambil dititipin ke teman sebelah. Hahaha, bener-bener ga niat ya..😀

Saat berbincang dengan seorang teman dia berseloroh, “Inilah yang dinamakan konsep rezeki ya.. ikan yang tersedia di kolam ini sangat banyak. Cukup buat semuanya jika dibagikan merata. Namun, dari sekian banyak pemancing, hanya beberapa saja yang berhasil mendapatkan ikan, ada yang mendapat beberapa, ada yang mendapat banyak. Dan sebenarnya kita tak perlu saling iri karenanya. Mereka yang mendapatkan ikan memang pantas mendapatkannya karena mereka memang punya ketrampilan, kesabaran dan kemauan lebih”. Hohoho.. benar-benar.. Ternyata mancing juga bisa merefleksikan kehidupan ya..

Sumber gambar di sini

One thought on “Memancing Rezeki

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s