Membaca Laba-laba

Hai, ternyata dah lama ga nulis ya.. (smoga ga ada yang merasa kehilangan..gubrakkk). Pantes keypad hape terasa keras ya, udah lama ga dipencet-pencet ternyata..wakakak..

Halah, mo nulis apaan si, paling hal-hal yang ga penting lagi.. Hehehe, kayaknya si begitu. Buat yang ga berkenan, maaf ya..

Karena minggu-minggu ni lagi sebel-sebelnya ma laba-laba, jadi, sekarang mo nulis soal hewan berkaki 8 ini aja deh.. (tu kan, ga penting..hehehe). Kenapa sebel ma tu binatang ? Habis mereka ga sopan si. Membuat sarang/perangkap di mana-mana. Hari ini dibersihkan eee, besoknya muncul lagi. Hari ni di sudut kanan, eee besok di sudut kiri. Hadoowh.

Karena selalu direpotkan olehnya, tiap kali ketemu, rasanya ingin segera membunuhnya. Tiada kata ampun pokoknya, kalo ga dipencet pake gagang sapu ya ditepuk dengan buku !

Kadang sambil mencet tu laba-laba, hati pun menggrundel, ni makhluk apa si gunanya, selain bikin kotor rumah ? Dimakan kayaknya ga bisa, ngobatin penyakit kayanya belum pernah ada yang nyoba. Trus apa ya..?

Akhirnya, pertanyaan ini pun terjawab pagi tadi dalam acara kartun di global teve. Ternyata, di tangan mereka yang mau berpikir, laba-laba ini memberi inspirasi besar bagi lahirnya produk yang multi fungsi. Setelah diteliti, benang laba-laba ternyata memiliki kekuatan 5 lempeng baja.

Penelitian ini kemudian menghasilkan serat kevlar. Serat kevlar inilah yang selanjutnya digunakan jadi bahan baku bagi pesawat dan kapal laut, juga jadi fiber optik, sabuk pengaman mobil, baju anti peluru, dst.

Tak hanya itu, di bidang hiburan, laba-laba juga menginspirasi lahirnya tokoh super dalam kartun maupun film animasi yang mendatangkan untung puluhan juta bagi produsernya.

Tuh kan, itulah pentingnya “membaca”. Laba-laba yang tadinya seolah tak berfungsi pun bisa jadi inspirasi lahirnya produk yang berarti bagi manusia.

Hmm, itulah arti pentingnya membaca ya. Tak heran jika ia begitu ditekankan dalam agama kita. Menjadi perintah yang pertama turun dalam Al Qur’an.

Kupikir, membaca yang dimaksudkan di sini tentu saja bukan sekedar membaca seperti anda membaca tulisan ini, tapi juga membaca yang disertai mencerna untuk kemudian berpikir dan mencipta. Mengerti setiap makhluk, kejadian dan peristiwa di sekitar kita, memikirkannya, mengolahnya sedemikian rupa sehingga bisa jadi solusi bagi masalah kita.

Sayang, perintah membaca ini justru lebih dipahami oleh mereka yang tidak pernah mendapat perintah itu melalui Al Qur’an ya. Sementara kita yang mendapat perintah justru baru sekedar kita tahu dan menyadarinya. Kalo sudah tahu, sadar, memahami dan menerapkannya, tentu kita jadi umat yang produktif dan sejahtera ya.. Hmm, sayang, lagi lagi sayang. Karena kita lebih memilih jadi umat yang males baca, taunya cuma produk jadinya aja, tau makenya aja. Males buat membaca sampe ke sono-sono.

Ahh, betapa kita umat yang benar-benar merugi. Btw, kan kamu juga termasuk di dalamnya, Wi.. Iya-iya, aku memang golongan makhluk yang merugi itu. Hiks-hiks, tapi semoga bisa segera bangkit dari zona merugi itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s