Sang Pencerah yang Intens

So intens. Itulah kesanku tentang film ini. Tak ada pun dialog yang tak dalam. Selalu terkandung filosofi di dalamnya. Meski pun begitu, aku sempat tercenung dengan kalimat pembuka film yang mencantumkan nama Syekh Siti Jenar. Karena terlalu cepat, aku tak ingat apa kata-kata pastinya, tapi kesannya “menyalahkan” Syeh Siti Jenar sebagai pendorong makin lekatnya feodalisme dalam masyarakat muslim kala itu. Lho, bukannya yang selama ini dikenal dengan kalangan istana bukannya walisongo ya (persepsiku saja terhadap kalimat sekilas itu, bisa jadi salah..)

Menurutku, kita layak belajar dari film ini, terutama dari sosok Ahmad Dahlan dan dari kondisi yang dihadapinya saat itu. Kenapa ? Karena menonton film yang bersetting tahun 1880-an ini serasa melihat Indonesia di zaman sekarang.

Di zaman ini, perusakan tempat ibadah karena perbedaan masih sering juga dilakukan. Ucapan kafir kepada orang lain yang tak sejalan juga masih sering terlontarkan. Dikotomi tentang kafir dan muslim begitu kuatnya sehingga resistensi, penolakan terhadap pengaruh luar, produk dari luar selalu sebagai produk kafir yang akan merusak kita, budaya dan masyarakat, juga masih sedemikian kentalnya. Pyuuhh, benar-benar kondisi yang sama. Seolah-seolah kita berdiri di tempat yang sama setelah sekian ratus tahun. Meski model pakaian boleh berbeda, segala ragam peralatan telah jauh modern, namun ternyata karakter manusianya masih sama. Betapa dari dulu kita memang bukan bangsa yang toleran.

Entahlah.. Apakah ini pertanda bahwa kita buta sejarah..? Bahwa kita baru mereduksi sejarah sebagai tanggal dan kejadian penting yang hanya sekedar untuk dihafal saja, tanpa perlu pemahaman di dalamnya. Jika begitu tepatlah apa yang diungkapkan Taufik Abdullah, bahwa sejarah di Indonesia masih dihargai hanya sebagai pemberi jawaban sebuah pertanyaan kausalitas, bukan untuk memahami bagaimana dinamika pergolakan masyarakat dalam mengatasi kendala struktural dan kultural yang dihadapinya. Ah entahlah..

Dibanding dengan film Hanung lainnya, menurutku memang ini yang terbaik. Detil yang biasanya kurang diperhatikan ternyata mulai dipertimbangkan, meski ada satu kerudung Walidah yang terlalu “up to date” untuk masa itu dan jalan Malioboro yang terlalu rindang untuk ukuran jalan (maklum karena dibuat repronya di jalan kenari di dalam KRB), selepasnya lumayan.. Sebagai film komersil, bukan dokumenter, film ini punya beban untuk menyajikan perjuangan panjang tokoh besar menjadi sesuatu yang panjang singkat, informatif, inspiratif namun juga menghibur. Rasanya, film ini cukup berhasil. Jadi menunggu-nunggu, kira-kira kapan ya DVD-nya dirilis, karena film ini  layak dikoleksi sebagai bahan pembelajaran.

* pengakuan : Air mata menetes ketika langgar kidul dihancurkan. Sungguh sedih rasanya, keangkuhan tanpa pengetahuan menyebabkan begitu mudahnya manusia yang terlahir jadi pemimpin menjadi perusak.

* soundtrack yang dinyanyiin Rosa dan muncul di tengah-tengah film kok rasanya annoying ya, volumenya malah mengeras ketika dialog dimulai..

Sumber Gambar : http://www.google.co.id/imgres?imgurl=http://1.bp.blogspot.com/_wC1SNtsZris

Iklan

6 thoughts on “Sang Pencerah yang Intens

  1. sedikit info, maaf jika salah cmiiw :

    Jogja adalah kasultanan Mataram yang sangat-sangat dipengaruhi ajaran syekh siti jenar. Siti Jenar merupakan ulama Demak yang dianggap kafir krn mengajarkan manunggaling kawula gusti. Yaitu menyatunya manusia dgn Allah, shg ibadah shalat tidak diperlukan lagi karena manusia sama saja dgn Tuhan.
    Nah, salah satu pengikutnya adalah Joko Tingkir (Sultan Hadiwijaya), Ki Ageng Pemanahan, dan Panembahan Senopati. Panembahan Senopati inilah yang lalu mendirikan Mataram. Jadi sejarahnya Mataram memang dipengaruhi Syekh Siti Jenar, seperti penjelasan awal film tersebut. 🙂

  2. “Betapa dari dulu kita memang bukan bangsa yang toleran.” Kritik saja: bukan dari dulu, soalnya pada zaman lampau, toleransinya cukup tinggi…^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s