tentang Kita dan Ayat-Nya..

Tadi seorang dosen mengungkapkan keheranannya, mengapa ya.. jarang sekali skripsi, tesis atau disertasi yang diawali atau dilatarbelakangi oleh ayat Allah, padahal Qur’an kan sumber pengetahuan. Dan kami pun mengangguk-angguk, mengamini keheranan bapak tersebut. Hmm, iya.. selama ini memang yang kita tuliskan dalam skripsi, tesis dan disertasi itu adalah bahwa ini akan membantu masyarakat, menaikkan kesejahteraan mereka, membantu pemerintah mengambil kebijakan yang tepat..bla..bla.. Jarang sekali kita cantumkan bahwa ini terkait dengan kewajiban kita sebagai pemimpin, khalifah di dunia, sebagai bagian dari kewajiban kita untuk membaca dunia dan tanda-tanda kebesaran Allah. Hmm, apakah ini tanda-tanda bahwa kita memang semakin mengarah pada sekularitas, bahwa kehidupan sehari-hari, kegiatan akademis dan logika kita pisahkan dari kehidupan religiusitas kita.. Hmm entahlah, batin menentang, namun logika bilang, iya, sepertinya kita memang sedang melakukannya.

Dan siang ini, saat duduk di LSI, aku menemukan sebuah tulisan (dari Om google), tepatnya adalah skripsi seorang mahasiswa di Papua tahun 2002. Skripsi ini diakui oleh si mahasiswa  lahir dari sebuah surat yang dikirimkan oleh seorang kakak. Surat tersebut dicantumkan dan dilampirkannya tepat di belakang halaman cover.

=================

Surat tersebut diawali oleh ayat QS. Ar Ruum: 41. Telah tampak kerusakan di darat dan di laut dikarenakan ulah tangan-tangan manusia, kemudian Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatannya itu, agar menjadi peringatan supaya mereka kembali ke jalan yang benar.

Lalu beginilah isi surat tersebut,

“Dayat (penulis skripsi ini bernama Hidayat), gunung itu indah, memukau dan menyimpan sejuta tanda-tanda. santunilah ia, bicaralah dengannya tentang kehidupan, tentang air mata dan keringat serta jutaan kemegahannya yang telah tersapu pergi karena kejahilan.

Pandanglah, bagaimana orang Irian memahami alamnya, bagaimana mereka mengartikan kemakhlukannya setiap karya Allah, berapa yang mereka dapatkan dari karunia Allah ini untuk kesejahteraan mereka, dan berapa yang didapatkan oleh kaum borjuis kota dari kesadaran memanipulasi kebodohan kebudayaan masyarakat Irian ? Adakah masyarakat sekitar hutan mencicipi anggur merah dari penghayatannya itu ? Tuhanlah yang paling tahu, karena sejauh ini manusia sedia menutupi segalanya. Anda bisa merehabilitir itu ?

Hutan telah sepi, burung-burung pun telah pergi. Kita baru tersentak untuk meneropong bencana, sementara kesengsaraan kian mendekati dunia kita, dunia manusia Irian.

Tuhan, berilah dia kearifan untuk membaca sejuta tanda-tanda.

ttd

Cho”

=========

Hmmm, indah sekali bukan. Sebuah skripsi yang dilakukan oleh mahasiswa yang dibesarkan di Papua, bumi di mana muslimnya justru minoritas, namun justru di situlah lahir sebuah karya yang ditujukan untuk membaca sebagian tanda kebesaran Allah.

Alhamdulillah, hari ini aku telah diingatkan. Apakah nanti aku mampu melakukan hal yang sama.. mmmmmmmmmmmmmmmm……..Smoga.. 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s