Onrust, Restless Island..

Onrust adalah kata dalam bahasa Belanda untuk kata unrest yang berarti tidak pernah istirahat. Kenapa ? karena zaman dahulu pulau ini adalah darmaga yang tak pernah sepi dari aktivitasnya, dari pagi hingga malam hingga ke pagi lagi. Banyak kapal yang melintasi pulau dan berhenti untuk mengisi perbekalan atau memperbaiki kapalnya.

Pulau ini terletak 14 km dari Jakarta, dapat ditempuh 0,5 jam perjalanan dengan kapal motor yang berangkat dari TPI Muara Kamal. Pulau ini diapit 3 pulau yang lain, yaitu pulau Bidadari, Kelor, dan Cipir (Khayangan).

Peran Onrust sebagai darmaga dimulai pada tahun 1615, ketika Belanda membangun darmaga dan galangan kapal untuk memperbanyak armada kapal VOC. Kemudian pada tahun 1658, dibangunlah sebuah benteng kecil yang kemudian pada 1671 diperluas menjadi benteng segilima. Pada 1674 dibangunlah kincir angin yang digunakan untuk penggergajian kayu. James Cook (penemu benua Australia) diperkirakan pernah mendarat di pulau ini pada tahun 1770 untuk memperbaiki kapalnya selama 8 hari. Para pelautnya sempat membuat beberapa lukisan dan catatan tentang pulau ini. Dari catatan Francois Valentijn bisa didapatkan informasi bagaimanakah tingkat korupnya pejabat pulau Onrust Belanda saat itu.

Tahun 1800 Onrust diserang oleh Inggris. Namun kemudian dibangun kembali oleh Belanda pada tahun 1803, namun kali ini untuk stasiun pengamatan cuaca. Pada tahun 1806 diserang Inggris lagi, bahkan pada tahun 1810 dihancurkan sama sekali dan dikuasai Inggris hingga tahun 1816. Kemudian pada 1827, Onrust dibangun kembali atas perintah van Der Capellen. Proses pembangunan ini berlangsung hingga tahun 1848. Tahun 1856, sarana pelabuhan ditambah dengan dok terapung untuk perbaikan kapal. Namun pada tahun 1883, pulau ini hancur kembali untuk ketiga kalinya karena letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883.

Cerita Onrust tak berhenti sampai di situ saja. Pada tahun 1911-1933, pulau ini dimanfaatkan sebagai sanatorium TBC dan karantina haji sebelum dan sesudah mereka berangkat ke Mekkah. Karantina terhadap penyakit maupun karantina terhadap ideologi baru yang mereka peroleh setelah bertemu dengan para ulama di Arab. Hmm, untuk urusan “penjinakan” ini Belanda memang ahlinya ya.. šŸ˜¦

Lalu pada tahun1933-1940, pulau ini dijadikan tempat tawanan pemberontak Zeven Provincien. Kemudian, ketika zaman Jepang, pulau ini dijadikan penjara. Ada cerita khusus mengenaiĀ  masa itu. Dikisahkan bahwa untuk mendapatkan makan, para napiĀ  harus melewatkan proses tarung satu lawan satu (semacam gladiator). Hmmm, masa di zaman penjajahan Jepang memang banyak meninggalkan cerita agak mengerikan ya..

Perubahan fungsi pulau terus terjadi, hingga ke masa kemerdekaan Indonesia. Pada awal kemerdekaan, pulau ini digunakan untuk rumah sakit karantina bagi penderita penyakit menular hingga tahun 1960-an. Kemudian pada 1960-1965, digunakan untuk menampung gepeng yang dirazia dari Jakarta dan untuk latihan militer. Onrust juga digunakan untuk memenjarakan kriminal dan tokoh politik berbahaya (sama seperti pulau Cipir). Kartosuwiryo (Ketua DI/TII) dipercaya pernah dipenjara dan dieksekusi di pulau ini pada tahun 1964-an.

Pada 1968-an, pulau ini sama sekali tidak difungsikan. Karena dianggap tak bertuan dan tidak difungsikan, akhirnya sebagian besar isi pulau dijarah, termasuk batu bata, gerendel pintu, dan berbagai perlengkapan yang tersisa di bangunan. Dan jadilah pulau ini tinggal puing belaka. Beberapa bangunan yang masih tersisa utuh adalah penjara pada zaman Jepang dan rumah dinas dokter karantina yang sekarang dialihfungsikan menjadi museum Onrust.

Karena perjalanan panjangnya tersebut, pulau ini pun ditetapkan sebagai suaka purbakala yang dilindungi oleh Pemda Jakarta pada tahun 1972, dengan SK Gubernur DKI Jakarta No 08.11/2/16/1972. Ketika kunjungan kami kemarin, tampak pemukiman sementara penduduk terbangun di pinggirnya. Dibangun dengan bahan tripleks dan terkesan seadanya.

Prasasti Penetapan Onrust sebagai Cagar Purbakala. Foto dok Mb Rina

Formasi Lengkap minus Mb Rina, fotografer

Yang patut disayangkan dari pulau ini adalah soal kebersihannya. Banyak sampah yang terlihat di pinggirnya, entah sampah kiriman dari Jakarta, sampah pengunjung atau sampah penduduk lokal. Hmmm, penyakit orang Indonesia dari dulu juga masih sama ya..: malas buang dan mengelola sampahnya dengan baik. Rasanya, patut jika pemda memberdayakan penduduk lokal untuk pengelolaan sampah ini, kalau ingin pulau ini terus dikunjungi oleh wisatawan.

Oya, kalau membandingkan pulau yang di foto repro dengan pulau yang kami kelilingi kemarin, rasanya kok terjadi penyusutan luas ya. Bayangkan, dulu pulau ini dihuni oleh hampir 3500 jemaah haji, sementara saat kami kelilingi kemarin, tidak menghabiskan waktu hingga sejam. Kemudian dalam perjalanan ke Cipir, kami juga menjumpai reruntuhan yang terletak di laut yang menghubungkan dua pulau itu. Apakah itu berarti tadinya Onrust luasnya sampai ke reruntuhan itu ? Wallahualam.. jika memang benar, berarti isu kenaikan permukaan air laut memang benar adanya. Atau bisa jadi pulau semakin menurun karena penyangganya yang berupa terumbu karang semakin rusak karena limbah.

Pulau Onrust tempo dulu. Difoto oleh Dewi dari foto repro yang ada di museum P. Onrust

Bangunan untuk Karantina haji tempo dulu, sekarang tinggal puing pondasi. Difoto oleh Dewi dari foto repro di Museum Onrust

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s