Aku Bisa Saja Egois.. tapi..

Malam ini ngobrol dengan seorang sopir angkot dalam perjalanan ke BS. Diawali dengan keluhannya tentang sepinya angkot malam ini. “Ntar kalau musim ujian juga bakal sepi lagi nih..” Celetukku, “Bukannya sekarang memang sudah mulai sepi karena banyak mahasiswa yang memakai sepeda motor pak..” Jawabnya, “Oya, bener itu neng.. sekarang mah ni angkot bukan lagi angkot mahasiswa, tapi angkot mahasiswi. Habis isinya cewek semua, yang cowok pada naik motor semua..”

Yap, dibandingkan 4 tahun lalu memang sudah banyak perubahan terjadi di kampus ini. Terutama jumlah motor yang hilir mudik di kampus. Makin banyak saja, ga hanya motor mahasiswa, tapi juga motor tukang ojek. Kepraktisan adalah alasan yang melatarbelakangi mahasiswa (dan berjuta-juta orang lainnya) untuk menggunakan motor. Bisa lebih irit daripada harus naik angkot berkali-kali.

Tapi kembali lagi, bagiku motor bukanlah jawabannya. Membeli motor  bisa mengirit pengeluaran ? Ga juga tuh.. Bagaimana pun, setelah membeli motor kita harus punya SIM, harus rajin servis motor, harus membeli helm, rutin mencuci motor dan tak lupa membeli jaket dan kaos tangan biar ga hitam kalau naik motor siang-siang. Selain itu, ada pula non materi yang akan hilang ketika aku naik motor, misal, ga bisa berbagi dengan sesama penumpang, ga bisa memperhatikan hal-hal sepanjang perjalanan karena harus konsentrasi bawa motor, ga bisa berbagi rezeki dengan tukang angkot, pengamen, orang minta sumbangan masjid, dll.

Belum lagi dari segi lingkungan. Pengendara motor akan jadi penyumbang bagi polusi kota Bogor (yang sudah cukup tinggi dengan banyaknya angkot). So, ga perlulah ikut-ikutan naik motor. Apalagi selama di kota ini, mungkin kita tak bisa menanam pohon untuk menyerap sebagian kecil emisi itu. Jika tak membantu, maka setidaknya kita tidak makin merusaknya. 

Jadi naik motor atau tidak bukanlah masalah aku mampu atau tidak, bukan masalah mengikuti gaya hidup modern atau tidak, tapi masalah peduli atau tidak kita dengan kota ini. Kota yang potensial macet dan ruwet. Dan akan semakin ruwet dan macet, jika setiap penduduknya egois. Ingin cepat sampai ke tujuan dengan harga yang lebih murah, aman dan nyaman, sehingga memaksakan berkendara pribadi di kala kendaraan umum masih melimpah jumlahnya.

Tengoklah Jakarta, ibukota negara yang sekarang kemacetannya semakin kronis. Itu semua karena keegoisan. Semoga Bogor tidak seperti itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s