Pocket Picker

Ini adalah pengalaman yang kami (aku dan seorang teman) alami saat dalam perjalanan ke Grojogan Sewu, Tawangmangu yang berada di Kabupaten Karanganyar. Kami berangkat dari Pati jam 5, melewati Grobogan. Perjalanan lancar hingga di terminal Tirtonadi Solo. Lalu kami berpindah ke bis dengan trayek Solo-Tawangmangu. Tak menunggu lama, bis pun berangkat. Kebijakan yang berlaku di terminal ini menetapkan bahwa bis antar kota hanya ngetem selama beberapa menit, ndak seperti di terminal lain, di mana bis baru akan berangkat hanya dan jika semua kursi penumpang telah terisi semua.

Saat berangkat, bis memang baru terisi beberapa penumpang, namun selama perjalanan, banyak penumpang yang naik, sehingga makin lama makin penuh dan tak ada bangku kosong lagi. Kami duduk di depan, biar bisa melihat jalanan, karena kami penasaran (maklum baru sekali ini kami ke Karanganyar, kabupaten yang berada di sebelah timur Solo). Tak lama kemudian ada dua penumpang yang naik, dari pintu belakang. Mereka berjalan ke arah depan, ke kami. Lalu seorang berkata, hadowh panasnya, sambil berusaha membuka jendela yang ada di atas kami (aku kebetulan duduk di sebelah jendela, sementara mbak Atik duduk di sebelah persis orang itu). Seorang penumpang lagi duduk di belakang mbak Atik, lalu memegang-megang mbak Atik,  hingga mbak Atik pun noleh dan marah. Beberapa detik kemudian Mbak Atik berteriak pada orang yang ada di sebelahnya (yang seolah-olah membuka jendela di atasku itu), “Hei, ngapain kamu..!!” Ternyata ketika tangan kanan tu orang membuka jendela, tangan kirinya yang seolah-olah memegang jaket sedang membuka tas cangklong kecil yang ditaruh mbak Atik di atas backpack-nya. Huffpp, untung segera ketahuan.. !!  Begitu mendengar mbak Atik teriak dan menepiskan tangan orang tersebut, maka mereka berdua segera ngeloyor ke belakang dan langsung turun dari bis. Si kernet pun berjalan ke depan dan menanyai ibu yang duduk di seberang kami, “Siapa yang kena.. ibu ya..?” dan si ibu menggeleng dan menunjuk Mbak Atik. Hmm, berarti si kernet sebenarnya sudah tahu ya.. tapi kok ga mau ngasih peringatan sebelumnya ya.. (Atau karena dia takut jika melakukannya, maka jika lewat daerah itu lagi, bisnya akan dirusak kawanan copet tersebut ya.. * dugaan kami saja).

Hmm, sungguh pengalaman yang menyesakkan dan mengingatkanku pada kejadian pencopetan yang menimpaku 8 tahun lalu saat baru tinggal di Bogor. Bedanya, kalau yang di atas pengambilan belum sempat terjadi dan keburu ketahuan, kalau yang dulu menimpaku, sudah benar-benar kejadian. Pencopetan itu terjadi bukan di atas kendaraan, namun di jembatan penyeberangan dekat gedung Alumni, Bogor. Akibatnya, aku terpaksa kehilangan beberapa kartu-kartu identitas dan uang Rp 150.000,- yang baru saja kuambil dari ATM. Huuuaaa, kejadian yang sungguh menyesakkan bagi seorang mahasiswa yang kala itu hanya mendapatkan kiriman bulanan sebesar Rp 450.000. Sejak kejadian itu, aku pun malas menyimpan uang dalam dompet maupun membawa dompet dalam perjalanan. Trauma..!

Bagaimana dengan Anda, pernahkah anda kecopetan..? Bagaimana modus operandinya.. ? Apakah itu bikin trauma sepertiku.. ?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s