Malam Seni IPMM

Libur panjang, tugas banyak, ujian ga kelar-kelas, kantong menipis.. Lengkaplah sudah penderitaan. Ndak ada yang bisa dilakukan selain nonton DVD bajakan dan tidur berulang-ulang.

Sampe kemudian ketemu teman di Bara, yang bilang, “Eh Kak, malam ini ada malam seninya IPMM (Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Minang) lho, jam tujuh..bayar goceng, di GWW.” Wah, langsung antusias deh, lumayanlah daripada bosen di kamar. Dan kuajaklah beberapa teman yang dijamin availabel di malam minggu karena status yang sama-sama jomblonya. Dan akhirnya, sepakatlah kami buat berangkat nonton.

Ahh, pas masuk ke GWW (Graha Widya Wisuda), auditorium utamanya IPB, tercenganglah kami. Wuuuw, kuning kinclong, pelaminan guede menghiasi panggung. Hmm, jadi teringat pas ke TMII,  warna kuning  memang mendominasi pernak-pernik adat daerah-daerah di Sumatra.. Mengapa begitu ya.. Adakah yang bisa menjelaskan preferensi warna kuning di Sumatra ini..?

Gadang nian pelaminannyo.. (hehehe, bahasa Minang maksa). Foto dok.pribadi Dewi

Saat kami masuk, acara pemilihan putra dan putri Minang (lebih tepatnya adalah Uda dan Uni) sedang dilangsungkan. Yang menang pasti yang ganteng dan cantiklah. Dan kita langsung nyengir, ndak salah kita datang malam ni, banyak pemandangan seger tersaji di tribun dan panggung..hahaha, dasar !!

Dan kemudian, acara selanjutnya adalah Randai. Ndak ada penjelasan lebih lanjut mengenai randai itu apa dan kira-kira apa saja yang akan ditampilkan di dalamnya. Ni salah satu kelemahan dari sajian malam ini. Andai ada sedikit ilustrasi, keterangan mengenai apa yang ditampilkan, tentu akan sangat membantu kami, para penonton yang bukan orang Minang ini, untuk sedikit memahami. Kan sebagian penonton bukan orang Minang.. Mereka datang karena penasaran, ingin mengenal lebih dekat bagaimana budaya Minang itu. Jika kemudian ndak ada gambaran globalnya, ya ndomblong-lah yang bisa kami lakukan. Apalagi randai memang dibawakan dalam bahasa Minang. Yah, semoga ini bisa diperbaiki buat penyelenggaraan yang selanjutnya.

Kalo disimpulkan bebas dari apa yang kami lihat si, randai adalah drama, yang di dalamnya ada kombinasi silat, pantun, nyanyian dan tari. Sebagian besarnya benar-benar dibawakan oleh mahasiswa. Bahkan talempong, yang kata seorang teman, “Duuh, itu kan susah banget mainnya,” juga dibawakan oleh mahasiswa, begitu pula dengan kendangnya. Penari dan penyanyinya juga mahasiswa semua. Hanya satu bagian yang ndak dilakukan oleh mahasiswa, yaitu meniup saluang. Tampak peniupnya adalah bapak-bapak (mungkin sengaja didatangkan dari Minang, karena menurut penuturan teman, yang bisa meniup salung sekarang ini sudah jarang sekali).

Randai. Foto dok. pribadi Dewi

Beberapa tari yang dibawakan adalah beberapa tari pergaulan (aku ndak tahu namanya, karena memang ga ada penjelasannya) dan tentu saja tari piring yang fenomenal itu !! Dan ada satu lagi jenis tari yang hampir sama seperti tari Saman Aceh. Mereka melakukannya sambil duduk dalam satu barisan dan melakukan koreografi yang beriringan dan berbalasan. Persis seperti Saman. Namun diiringi dengan lagu “dingding badinding oey, dingding badingding..” Satu yang terpikir dari tarian-tarian ini, dinamis ! Dan tentu saja berbeda dengan tarian Jawa yang penuh kelembutan dan penghayatan itu. Namun demikian, tingkat kesulitan dalam melakukannya pasti ada. Pasti susah kan untuk mengharmoniskan gerakan dalam kecepatan yang cukup tinggi itu.. Dan mereka cukup berhasil melakukannya.

Tarian serupa Saman, ndak tahu namanya. Foto dok. pribadi Dewi

Kemudian satu yang menyita perhatianku malam ini adalah para lelaki pesilat bercelana galumbang yang membawakan koreografi silat sepanjang pertunjukan. Duuh, kerennya mereka melakukan gerakan-gerakan yang ndak tampak pura-pura itu (terutama dalam adegan perkelahian). Kalau banting ya banting beneran, duuh, kebayang..habis pertunjukan ini pasti bakal pegel-pegel ndak karuan. Belum pula gerakan-gerakan yang memukul-mukul sarung dan menghentakkan kaki ke panggung sehingga menghasilkan bunyi buk-buk-buk.. yang dilakukan berulang-ulang dari pukul 20.30 hingga pukul 22.00 itu. Tampak sekali di bagian akhirnya mereka begitu kepayahan, keringat bercucuran di mana-mana, namun mereka tetap bersemangat menuntaskannya.

Randai yang dimulai dengan koreografi silat dari para cowok bercelana galombang. Foto dok.pribadi Dewi

Ahh, bangga sekali melihat pemuda-pemudi ini masih menjaga antusiasmenya dalam berkesenian daerah. Rasanya anggapan bahwa kesenian daerah akan punah karena rendahnya minat generasi mudanya belum tentu benar. Buktinya ketika difasilitasi dengan momen yang seperti ini, antusiasme itu membuncah.

Salut lagi pada mereka karena menyiapkan pertunjukan seperti ini bukanlah hal yang mudah. Butuh komitmen tinggi untuk tetap berlatih di antara jadwal akademik IPB yang puadat itu. Butuh kerja keras untuk menyatukan mahasiswa sebanyak itu dalam sebuah pagelaran. Dan mereka berhasil melakukannya malam ini (meskipun di sana-sini masih tampak kekurangan). Maka, hanya satu kata salut buat mereka yang telah terlibat dalam pagelaran ini, tanpa kecuali. Semoga himpunan daerah yang lain tergugah dan melakukan yang sama. Kita butuh banyak pagelaran semacam ini. Bukan untuk mempertebal ke-primordial-an, namun sebagai sarana untuk mempelajari kembali budaya bangsa ini. Apa makna yang tersebunyi di baliknya, apa hikmah yang bisa kita ambil darinya. Pagelaran seperti ini juga menjadi sarana untuk saling belajar dan memahami  kebudayaan lain. Jadi,  pagelaran-pagelaran seperti ini bukan bernilai hiburan semata.

Ahh, keren..! Melihat penampilan mereka malam ini, membuatku bersyukur bisa kembali menginjakkan kaki di kampus ini, pada era di mana pertunjukan seni semacam ini bukanlah tabu, sesuatu yang harus ditentang dan dilawan. Keren, karena IPB sekarang mengakomodasi berkembangnya potensi dan bakat seni mahasiswa, sehingga mereka ndak melulu sibuk di lab, praktikum dan turun lapang. Andai pas S1 dulu kami merasakannya.. 😉

*talempong adalah alat musik pukul logam, yang bentuknya seperti bonang (kalau di Jawa). Jika di Jawa, bonang ndak terlalu dominan dalam gamelan, maka di Minang, talempong adalah unsur utama setelah saluang. Bunyinya pun lebih dinamis.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s