Sweet Seventeen-an GIGI

Hari itu, Kamis tanggal 26 Mei 2011 pukul 19.00. Aku sudah ada di seputaran FX Senayan untuk menunggu seorang teman. Sekian menit berlalu, akhirnya dia datang juga. Malam itu, kami berencana nonton konser 17 tahunnya GIGI di Istora Senayan.

Bagi kami berdua, ini adalah kali pertama kami nonton di Istora. Setelah berkali-kali nanya, sampai jugalah kami di Istora. Saat itu arloji sudah menunjukkan jam 20.00. Kami pun bergegas  masuk ke gate A-6. Saat kami masuk, kami telah melewatkan penayangan video klip “Bye..bye” dan dinyanyikannya lagu kebangsaan Indonesia. Tak lama setelah pengantar dari Tantowi Yahya, jreeenggg.. GIGI pun muncul dan membawakan lagu pembuka: Sang Pemimpi.

Awal muncul dengan Sang Pemimpi

Berikutnya adalah medley lagu kritik sosial: “1999 menangis dan Distorsi Manusia”. Setelah itu “Setia, bersama, menyayangi da..n mencintai” , lagu OST sinetron pesanan Dedy Mizwar pun dinyanyikan dengan koor penonton. Di sela-sela lagu, Armand pun menyapa dan berbincang dengan penonton. Untuk mengidentifikasi mana penonton yang bener-bener penggemar GIGI (GIGI kita) dan mana penonton generasi baru, Armand menanyakan apa judul lagu yang baru saja mereka nyanyikan. “Gw harap pada ga tahu deh, tanda kalian masih muda-muda, kayak kami juga..” canda Armand. Armand pun berusaha menggoda Budjana yang memang selalu tampak kalem. Thomas yang  selalu mengucapkan “fans adalah nafas gw” di setiap konser mereka pun menjadi objek ledekan berikutnya.

Medley lagu-lagu kritik sosial

Setelah itu GIGI pun berkolaborasi dengan Andi Rianto, disusul kolaborasi GIGI-Pasha-Andi Rianto untuk membawakan lagu “Damainya Cinta”

Kolaborasi GIGI-Andi Rianto-Pasha

Kemudian Arman kembali keluar dengan kostum yang berganti kaos disertai jubah garis-garis. Dan medley lagu rohani GIGI: “Ada Anak bertanya pada bapaknya, Lailatul Qadar, Amnesia, Pintu Sorga” pun terlantunkan.

Bersimpuh dalam Medley Lagu Rohani

Setelah itu, GIGI berkolaborasi dengan Ari Lasso, membawakan lagu “Andai”. Sementara itu, Arman masuk dan ganti kostum lagi.

Kolaborasi GIGI-Ari Lasso

Setelah itu panggung gelap. Lalu tiba-tiba Hendy muncul di belakang penonton untuk solo drum. Dengan panggung yang gelap dan efek lampu yang tersorot dari sekitar drum-nya, penampilan Hendy pun semakin memukau.

Solo drum Hendy. Tampil di tengah-tengah penonton dengan spot-light

Lalu disusul penampilan Thomas yang bersolo bass. Kemunculan Thomas pun membawa kejutan, yaitu muncul di tengah-tengah panggung secara perlahan-lahan dari bawah. Kemudian Thomas berduet dengan DJ Riri, Audy dan Iwa K. Kemunculan Audy ini untuk menggantikan Agnes yang sedang sakit. Kata Armand, Audi baru diminta buat tampil pada siang harinya, wajar jika masih pake “kepekan” lirik di tangannya. Selanjutnya lagu-lagu Gigi yang bertema agak disco, semacam “Terbang” dan “Hinakah Aku” pun dibawakan.

Audy yang tampak ga pede dengan kepekan lirik di tangannya 🙂

Lalu muncullah medley lagu GIGI di era 90-an, yang diawali kemunculan personel lama: Baron, Opet, Budhy, dan Ronald. Untuk malam itu, Budhy si drummer GIGI di era 97 justru memegang gitar dan merelakan Ronald untuk mengambil alih perannya sebagai penggebuk drum.

Dan di tangan mereka ber-8, lagu-lagu “Senyumlah, Janji dan Nirwana dan Ow..ow..ow” pun terlantunkan. Di antara lagu, Budi pun menceritakan bagaimana GIGI melewatkan masa manggung dari satu tempat ke tempat lain. Termasuk beberapa kejadian jorok dan porno yang mereka lakukan untuk mengusir kebosanan. Armand lalu menambahkan kisah masuk dan keluarnya Thomas dari GIGI karena masalah kecanduan narkotika yang dialaminya. Dia lalu berujar, “Mungkin di antara kalian (penonton) ada yang ngedrug juga.. Gw yakin kalian akan sembuh..”

Armand mewakili anggota GIGI yang lain pun mengucapkan terima kasih pada keluarga dan manajemen yang mendukung perjalanan 17 tahun mereka. Dia juga mengucapkan selamat datang pada ibu Budjana yang baru sekali ini datang dalam konser anaknya, setelah sekian tahun Budjana berkarir bersama GIGI.

Setelah Armand meminta jubah dari asistennya, maka penampilan mereka pun berlanjut dengan  format big-band dengan brass section di sisi kiri panggung. Ini merupakan kolaborasi kedua GIGI dengan Big Band Ron King, setelah kemunculan pertama mereka di Java Jazz. Mereka membawakan medley, antara lain “Yayaya, 11 Januari dan facebook “. Nuansa agak jazz pun tampak dari medley ini.

Mengaransemen beberapa lagu dengan format Big Band yang dilengkapi brass section

Selanjutnya adalah kolaborasi GIGI-Tohpati-Andi Rianto-Adi MS-Erwin Gutawa. Kolaborasi ini membawakan medley lagu, beberapa di antaranya adalah “Nakal dan Bye-Bye.” Erwin Gutawa yang biasanya menjadi konduktor pun menyerahkan perannya pada Adi MS dan kemudian memainkan bas. “Baru pertama kalinya nih, Erwin main bas di depan umum,” celetuk Armand.
Kolaborasi dengan arranger dan orchestra

Penampilan mereka makin memanas. Mendekati akhir, aksi panggung Armand makin emosional.

Armand mpe tiduran di panggung.. 😀

Setelah kolaborasi itu, mereka satu per satu dari panggung. Sebagian penonton ada yang berteriak,” lagi-lagi..”. Tak lama kemudian GIGI kembali dan membawakan lagu “Sahabat” secara akustik.  Sahabat adalah lagu di album terbaru mereka yang khusus dibuat untuk mengenang perjalanan selama 17 tahun ini.

Dan menjelang pukul 11.30, konser ini pun berakhir setelah “Kuingin” selesai dilantunkan. Pyyuuuh,  total ada 36 lagu dari 19 album yang mereka bawakan selama hampir 3,5 jam. Dan suara Armand pun tetap prima sampai di akhir.  Begitu pula tampilan Budjana yang kalem, gaya betot bas Thomas yang keren dan Hendy yang impresif. Hanya ada satu kata buat penampilan GIGI malam itu, keren !! Tapi sayang malam itu lagu Bumi Meringis ndak dimainin, padahal kayaknya bakalan keren tu kalo dipaduin dengan orchestra 😉

Btw, karena aku duduk di tribun atas dan hanya berbekal kamera poket, harap maklum ya, kalo fotonya kecil-kecil dan agak-agak buram gimana gitu. Hehehe. Maklum penonton kelas atas.. hahahaha..

Malam itu,saat perjalanan pulang, aku dan teman membahas, kira-kira bakalan balik modal ndak ya, konser GIGI malam ini. Dengan harga tiket yang hanya berkisar 100-400 ribu, bahkan harga tiket kelas 3 pada hari H yang hanya dipatok 25 ribu, dengan artis pendukung yang sebanyak dan sekeren itu. Hmm, jangan-jangan memang ndak balik modal ya..

Malam ini aku pun iseng ngeklik di sini, mencari info yang membahas tentang persiapan konser ini. Hmm, kesan yang tertangkap olehku adalah konser ini memang konser syukuran 17 tahun mereka, konser terima kasih pada fans, bukan konser yang semata-mata mencari untung belaka. Ahh, jadi makin suka ma GIGI..!!

dari tribun ataslah, foto-foto ini dihasilkan 😉

Di depan banner konser GIGI di Istora Senayan

Oya, buat anda yang ndak sempat nonton, mengutip kata Armand, nantikan saja penayangan di tv Indosiar (waktu tayangnya ndak diomongin). Okeh, sekian saja reportaseku. Terakhir, smoga GIGI terus eksis di dunia musik Indonesia dan terus jadi inspirasi bagi generasi baru !

Sumber foto: dokumentasi pribadi

2 thoughts on “Sweet Seventeen-an GIGI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s