Bukan semata-mata karena ndak punya uang..

Melihat banyak pengamen muda di jalanan, anak-anak kecil meminta sumbangan berbekal kertas fotokopian di jam-jam sekolah, pasti yang terpikir di angan adalah mereka pasti ndak bisa sekolah karena ndak ada biaya. Mereka adalah korban dari sistem pendidikan Indonesia yang makin komersil (Hampir semua sekolah menghabiskan biaya ber-jut-jut bukan..)

Itu pula yang terbersit di anganku beberapa waktu lalu. Hingga kemudian ibuku bercerita, ” Si Angga ga mau nerusin sekolah, padahal bapaknya udah nyiapin dana.. Males mikir katanya..” Seorang teman juga bercerita, “Adekku ndak mau nerusin lagi setelah lulus SMK. Mau kerja aja, males mikir katanya..”

Beberapa waktu lalu aku juga bertanya pada anak muda lulusan SMP yang menyopiri angkot kampus dalam. “Ndak sekolah..?” tanyaku. “Ngapain sekolah mbak, mending nyopir kayak gini. Ndak perlu mikir, dapat duit pula..” Lanjutku, “Berhenti sekolah karena ndak punya biaya atau bagaimana..?”
“Ndak juga,” katanya, “Orang tua saya sanggup ngebiayain kok.. Tapi pikir saya buat apa, yang saya dapat paling cuma mumet di kepala, ngapalin banyak pelajaran, ngitung-ngitung ga jelas.. Ribet.. Ndak perlu sekolah aja saya bisa ngasilin duit, sebaliknya yang sarjana banyak yang nganggur.. jadi sekolah itu ga penting..” Aku hanya manggut-manggut dan dia pun kutanya lagi, “Bagaimana kalau nanti angkot sepi, karena banyak orang yang lebih memilih menggunakan motor daripada naik angkot.. Mo kerja apa lagi..” Sambil nyengir dia pun menjawab, “Paling ngamen mbak, modal gitar kecil atau botol isi beras aja udah bisa menghasilkan lebih dari Rp 25.000 ribu lho.. ndak perlu suara bagus, ada aja yang ngasih..” ujarnya sambil menunjuk mereka anak muda yang ngamen di jalan.

Mendadak pusing, yang punya dana ndak mau sekolah karena males mikir dan alasan pragmatis lain: sekolah ndak bisa jadi jaminan mendapatkan kerja. Arrrgggh, padahal di luar sana, berjuta-juta anak lainnya terpaksa gigit jari dan menyesal sepanjang perjalanan hidupnya karena ndak berkesempatan sekolah. Seperti yang diungkapkan seorang anak lulusan SMK asal Pati yang kebetulan satu bis denganku. “Aku nyesel mbak, ndak bisa nerusin sekolah. Andai bisa nerusin sekolah tentu aku ndak perlu lontang-lantung kayak gini, kerja ndak jelas, penghasilan ndak jelas. Dikejar-kejar trantib kota S karena tidur-tiduran di lapangan sehabis seharian nguli, kehujanan karena ndak punya duit untuk mbayar kontrakan. Andai aku bisa sekolah kayak sampeyan, mungkin aku bisa kenal banyak orang, jadi peluang kerja pun lebih banyak, wawasan juga lebih terbuka setelah melihat dan berbagi pengalaman dengan teman-teman dari berbagai latar belakang. Jadi aku lebih bisa menangkap, apa yang kira-kira bisa dikerjain selain kerja pada orang lain. Ahh, andai aku kaya, pasti aku akan lebih memilih sekolah setinggi mungkin, sebelum memutuskan kerja.”

Benar-benar paradoks..!! Salah sistem ? Menurutku si bukan, tapi salah kita karena ndak bisa meyakinkan lingkungan sekitar, bahwa pendidikan yang kita jalani memiliki arti penting bagi tahapan hidup selanjutnya (Nyesel ndak bisa njelasin ke budhe yang kemarin berujar, “Duuh, ini dia ponakanku yang mengejar titel..” Sumpah budhe, bukan titel yang selama ini kukejar..😦 )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s