Sepeda Tandem: Ada Apa Dengannya

Kemarin kami praktikum ke TMII. Sambil menunggu teman lain yang belum datang, aku dan dua orang teman KVT memanfaatkan sepeda tandem teman MEJ yang jam sewanya belum berakhir.. Hehehe, lumayan ngirit, ga perlu bayar sewa..xixixi.

Tampak mudah dilihat, namun ketika dicoba susah ternyata. Banyak yang gagal, bergoyang-goyang ndak stabil, bahkan sampai jatuh. Pertama naik aku agak ragu, bisa ndak ya kami mengendarainya. Kalau sampai jatuh, malu juga ni, dilihatin teman-teman dan pak dosen..xixixi. Namun akhirnya dengan kiat-kiat tertentu, berhasil pulalah kami. Di awal, aku dan Elia memutuskan ndak memegang setang kami, supaya tidak membuat sepeda ini bergoyang-goyang ga karuan. Saat awal pun kami ndak mengayuh, hanya Ozi, yang duduk di depanlah yang mengayuh. Baru setelah sepeda stabil, kami berdua mulai membantu mengayuhnya dan terkadang memegang setang untuk sekedar berpegangan (bukan mengarahkan). Dengan mekanisme inilah sepeda tersebut bisa kami kayuh hingga mengelilingi beberapa bagian TMII.

Dengan melepas tangan dan menyerahkan kendali sepenuhnya pada yang di depan, sepeda lebih cepat stabil. Foto dokumen Richard Gatot Triantoro

Kalau direnungkan, dari naik sepeda tandem inilah mekanisme antara pemimpin dan yang dipimpin bisa dipelajari. Di sepeda ini, pemimpin ibaratnya seorang yang berada di sadel paling depan, yang mengendalikan setang utama. Sementara yang dipimpin adalah yang ada di sadel kedua, ketiga dst. Meskipun pengendara kedua dan ketiga mendapatkan setang juga, namun jika dia tak mengarahkan setangnya sesuai arahan dari pemimpin, maka jatuhlah yang akan mereka rasakan. Maka, percayalah pada pemimpin, dukung dia, lakukan hal yang selaras sesuai yang diarahkan pemimpin, maka kita semua akan sampai pada tujuan. Itulah yang kupelajari dari pengoperasian sepeda tandem siang itu.

Hehehe, yang penting ngayuh.. setangnya dipegang kalau dibutuhkan saja. Foto dokumen Richard Gatot Triantoro

Dalam prakteknya, si yang dipimpin ini banyak pula karakternya, ada yang memang bertanggung jawab, ikut mengayuh, namun ada pula yang free raider, numpang enak, sementara yang di depan menggenjotnya setengah mati (Hahaha, untung yang di depan bukan aku.. 😀 )

free raiders. Foto dokumen Richard Gatot Triantoro

Lalu dengan filsafat sepeda tandem tersebut, apa yang salah dengan sepeda Indonesia kita. Mengapa terus menerus bergoyang, terjadi instabilitas di berbagai bidang.. ? Karena rakyatnya yang memegang stangnya ndak sesuai arahan pemimpin, mutar-muter sesuka hatinya, atau karena pemimpinnya yang ndak kapabel ngarahin setang dan rakyatnya..? Au ah, pushienk.. 😉

Iklan

2 thoughts on “Sepeda Tandem: Ada Apa Dengannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s