Malam hari di kereta ekonomi

Kelelahan sangat tampak di wajah bapak-bapak itu, tapi mereka tetap saja memberikan bangku-bangku kosong itu pada kami, perempuan di KRL ini. Mereka ndak egois memakainya sendiri.

Aku yang ndak kerja fisik hari ini, aku yang jarang merasakan ke-hectic-an kehidupan di Jakarta seperti yang harus mereka hadapi setiap hari, jadi ndak enak menerima tawaran ini.

Rasanya mereka lebih pantas mendapatkannya daripada aku. Bertahun-tahun mereka harus menghadapi kondisi ini, nglaju tiap hari, di sebuah moda transportasi yang terasa ndak manusiawi. Berdesak-desakan untuk mencari penghidupan di Jakarta yang udaranya sudah teracuni. Sampai rumah jelang tengah malam dan harus berangkat lagi pagi-pagi nanti. Jadi biarlah sekali-kali mereka menikmati perjalanan pulangnya dengan mata terpejam di bangku itu. Dan biarlah aku menikmati wajah-wajah yang lelah namun tabah itu dari atas sini.

Tiba-tiba terpikir, anak-anak yang tidak mau berbakti pada orang tua yang sudah melakukan pengorbanan seperti ini sungguh tidak tahu diri..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s