Rewel soal Jembatan

Berapa bulan lalu aku pernah bertanya pada seorang teman yang bekerja di bidang konstruksi,”Apa pentingnya sebuah jembatan antarpulau dibangun ?” tanyaku. “Kemudahan transportasi hanya akan memicu konsumtivisme di kalangan penduduk pulau. Mereka akan berlomba-lomba membeli kendaraan bermotor. Polusi meningkat. BBM yang selama ini sulit diperoleh akan semakin langka, karena pasokan ndak sebanding dengan pengguna, harganya pun akan semakin melangit. Satu lagi, gaya hidup hedon dari pulau yang lebih berkembang juga akan cepat tersebar ke pulau yang terpencil..”

Temanku pun menjawab bahwa soal dampak polusi dan BBM sepertinya ndak akan sedramatis itu efeknya, karena pembangunan jembatan hanya akan mengalihkan BBM yang selama ini digunakan untuk kapal menjadi BBM yang digunakan kendaraan bermotor kecil. Tapi yang jelas pembangunan jembatan sangat penting artinya bagi distribusi kebutuhan antarpulau. Membangun dan memajukan perekonomian pulau.

Dan fakta akhir-akhir ini pun menjelaskan apa artinya jembatan antarpulau padaku. Kemacetan beratus-ratus km di Merak akibat kapal penyeberangan yang banyak rusak ternyata merusak perekonomian pulau. Barang kebutuhan tersendat, pedagang rugi, konsumen pun gigit jari. Akibatnya harga tak terkendali. Sementara itu di kepulauan Nusa Tenggara sana, penyeberangan antar pulau pun jadi tak jelas jadwalnya karena ombak laut yang semakin sering meninggi. Banyak kapal yang karam ataupun tenggelam jika memaksakan berlayar. Akibatnya pun tidak jauh berbeda dengan yang di Merak. Tak jauh dari Jakarta, di kepulauan Seribu, banyak anak yang bersekolah di pulau seberang terpaksa bolos berhari-hari karena ombak sedang tinggi.

Hmm, susah juga ya.. Negara kita negara kepulauan. Setiap pulau memiliki karakteristik tersendiri, sehingga saling tergantung satu sama lain. Pulau X tak bisa ditanami padi karena daratannya berpasir, mau tak mau mereka tergantung pada pulau di sebelahnya yang kebetulan menghasilkan beras. Pada akhirnya, mereka harus melintasi pulau, berdagang, bertukar komoditas dsb. Dan sarana transportasi menjadi sangat dibutuhkan. Di situasi alam dalam hal ini, laut, yang makin tak bisa diprediksi, keberadaan jembatan yang meminimkan ketergantungan terhadap cuaca dan gelombang tersebut menjadi sangat berarti.

Tapi tak bisakah perubahan karakter laut itu diimbangi dengan pembangunan kapal dan sarana transportasi laut yang lebih canggih daripada hanya dengan membangun jembatan ? Karena bagaimana pun juga kehadiran jembatan selain positif juga banyak negatifnya. Kalau mengutip celetukan temanku, orang Bali, “Tanpa jembatan saja teroris bisa masuk ke pulau kami, apalagi kalau ada jembatan, huu, mau jadi apa.. ” Dan tanpa jembatan, produk luar negeri saja sudah membanjiri negera kita dan mengalahkan produk lokal, apalagi jika jembatan antarnegara dibangun.. Tanpa jembatan saja, kita sudah ndak terlalu mencintai laut, menganggapnya ga terlalu penting bagi kita, apalagi jika ada jembatan..

Ujar seorang teman, “Duuh, rewel, bawel,  konservatif dan anti perkembangan banget si Wi, kapan bisa maju kalau mikirnya kayak gitchuuu.. kamu terlalu kemakan stereotipe bahwa kita suka membangun infrastruktur tapi melupakan suprastrukturnya.. Jangan pesimis mulu, ndak zaman..”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s