Kuliner Tradisional (dari Pekarangan)

Ngerasa ga sih, makanan sekarang makin seragam: mie ayam, bakso, capcay, ayam, bebek goreng, soto, sop iga, dll. Keragaman rasanya baru kita dapatkan kalo pulang ke kampung halaman dan mengunjungi pasar tradisional. Di sanalah makanan-makanan yang unik, jarang ditemui dan terbuat dari bahan-bahan yang kadang ndak terpikir bisa ditemukan. Rasanya dijamin ndak kalah ama bikinan chef Juno (HALAH).

Misalnya brengkesan (mmh, bahasa Indonesianya apa ya.. pepes atau apa ya..). Meskipun bungkusnya sama, daun pisang dan kemudian dipanggang atau digoreng, isinya bisa bermacam-macam. Bisa ikan, bisa kerang atau bahkan jerohan ikan (Kalau di sini ini disebut waleran). Untuk yang terakhir, meskipun rasanya agak pahit dan dibilang ndak baik buat kesehatan, tapi tetap banyak yang menyukainya.. Hehehe. Di mana-mana yang ndak baik itu memang agak susah ditinggalkan ya..

Brengkes kerang. Foto dokumentasi pribadi

Kemudian sayuran, ndak cuma sayuran yang umum kita jumpai seperti bayam, sawi, kangkung atau beraneka tumis, tapi juga sayuran yang aneh-aneh macam lompong, lembayung, bunga turi, bunga pepaya, bunga pisang. Semua ada. Bisa ditumis, diurap, dikuah santan dan macem-macem..!

Ahh, kalo ngomongin kuliner tradisional Indonesia emang ga ada habisnya, berlimpah seiring dengan banyaknya ragam tanaman dan SDA yang bisa dimanfaatkan. Dan ternyata manusia Indonesia juga kreatif mengolahnya. Satu bahan bisa dijadikan beraneka ragam masakan. Bunga pisang bisa dijadikan urapan, bisa dijadikan kaya gudeg dan bisa ditumis, kenyalnya hampir sama dengan ayam.

Kalau mengutip kata ibu dan kata orang Sunda, sebenarnya orang Indonesia adalah orang yang ndak bakalan kelaparan, karena semua yang di pekarangan bisa dimanfaatkan jadi makanan. Dan kurasa, itu memang benar.

Di tempat KKN-ku dulu, lompong yang kami panen sendiri dari sawah cukup direbus dan dimakan dengan sambal. Itu saja nikmatnya ndak terbilang. Kalau di Pati, lompong ini biasanya dibuat jadi lodeh santan. Rasanya juga manstab.
Beberapa tahun lalu, kami juga masih suka bikin sayuran singkil, yaitu daun singkil di pekarangan yang dirajang kasar kemudian diberi bawang merah, bawang putih, cabe dan laos serta irisan dadu tempe dan udang. Hmm, itu juga nikmatnya luar biasa. Satu lagi masakan yang berbekal tanaman pekarangan adalah pepes goreng peda. Ikan peda yang asin dan sangat ekonomis itu dipotong-potong lalu diberi irisan bawang merah, bawang putih dan cabe. Lalu dibungkus daun pace, disemat lidi dan diigoreng. Sajikan dengan nasi hangat. Hidih, nikmat nian meskipun tanpa tambahan yang macam-macam. 😀

Sayangnya, seiring perkembangan zaman dan mahalnya lahan, banyak yang ndak suka nanem di pekarangan ya.. Kita juga lebih suka sajian dari luar, meskipun kita tahu bahwa sebagian makanan itu ndak sehat). Kita merasa itulah gaya hidup zaman sekarang. Kalaupun ada yang mau berautarki , mengolah makanan dari kebun sendiri (mengutip istilah Prof Prasodjo tokoh dalam kumpulan kolomnya Umar Kayam), kita celetukin,” duhh, kaya kambing saja, makan apapun tanaman yang ada di pekarangan..”
*tema ngalor ngidul, ga jelas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s