Kultur Jaringan Skala Rumahtangga

Semester ini adalah masa menyenangkan. Banyak jalan, juga banyak ilmu baru yang didapatkan. Salah satunya, mengenai kultur jaringan skala rumahan. Selama ini aku tahunya kultur jaringan tu aktivitas perbanyakan tanaman yang biasa dilakukan di laboratorium instansi maupun akademisi. Harus sangat steril supaya bisa berhasil. Bahkan setahuku, di lab yang steril pun tingkat keberhasilannya juga masih sangat minim. Tak heran jika banyak orang menganggapnya sebagai metode perbanyakan yang sangat riskan, karena tingginya biaya produksi yang dikeluarkan ndak sebanding dengan output yang akan didapatkan.

Lalu apa maksudnya kultur jaringan skala rumahtangga..? Tentu saja maksudnya adalah kuljar yang dilakukan oleh rumahtangga. Konsep ini dikenalkan oleh salah satu dosen kami, sejak beberapa tahun ini. Kalau kataku si, konsep ini konsep pencerahan, konsep pendobrak terhadap paradigma yang berkembang selama ini, bahwa kuljar hanya bisa dilakukan dalam sebuah lab yang steril, dengan alat yang canggih dan tinggi harganya. Padahal pada kenyataannya, aktivitas kuljar ini bisa dilakukan di rumah biasa dengan peralatan yang standar minimal. Ini sudah kami perhatikan sendiri saat kami datang ke rumah dosen yang mempraktekkan kuljar di rumahnya. Dan hebatnya, tingkat keberhasilan kuljar di rumah ini  sangat signifikan, jauh di atas keberhasilan lab kuljar di kebun😀

Tak ada ruangan khusus dan steril yang digunakan pada praktek kuljar di rumah pak dosen ini. Semua adalah ruangan dalam rumah biasa yang berganti fungsi sebagai ruang inisiasi, ruang penyimpanan, ruang persiapan. Ruangan tersebut ndak mendapat perlakuan kebersihan yang berlebihan, biasa saja, cuma disapu dan dipel sehari sekali. Bahkan kataku juga ga bersih-bersih amat, masih banyak debu di mana-mana (buktinya pas pertama masuk aku langsung bersin-bersin, hehehe). Jadi memang benar, keberhasilan kuljar ndak tergantung pada kebersihan dan kesterilan ruangan. Bahkan ruangan terpenting yang menjadi tempat inisiasi atau penanaman yang menurut manajer operasionalnya paling menentukan keberhasilan kuljar juga ndak bersih-bersih amat ko. Bener deh..!

Jadi, apa dunkz yang paling menentukan keberhasilan kuljar skala rumahan ini ? Mmhh, setelah mengamati dan membandingkan, menurutku, yang tampak berbeda dengan apa yang dipraktekkan teman-teman di lab adalah penyegelan terhadap botolnya. Botol tanam di sini diikat erat dan berkali-kali, ibaratnya ndak ada celah lagi yang akan tersisa. Mungkin inilah yang menentukan keberhasilannya.

Selain itu, semua bahan eksplan juga didapatkan dari tanaman yang telah dikarantina selama beberapa waktu, disucihamakan dengan pestisida, bukan dari tanaman yang masih alami. Nah, ini dia ni, yang menurutku paling menentukan keberhasilan kuljar di rumah pak dosen ini. Selama ini teman-teman kan mendapatkan eksplannya langsung dari tanaman yang ada di lapangan, tanpa memberikan perlakuan suci hama dulu terhadap tanaman itu. Padahal tanaman dari alam tersebut biasanya terinfeksi bermacam-macam jenis, mulai dari virus, bakteri maupun zat-zat yang akan menimbulkan kontaminasi dan kegagalan kuljar. Mmmh, pantas yang di kebun sering kontaminasi..😀

Dengan melihat langsung aktivitas kuljar di rumah pak dosen tersebut, kami juga terpikir, wah peluang bisnis yang bagus juga ni. Karena dari aktivitas ini kita bisa menghasilkan banyak bibit tanaman yang kualitasnya seragam dalam waktu yang relatif singkat. Selain itu, kita juga bisa memberikan peluang kerja bagi orang lain, karena meskipun skalanya rumah tangga ndak mungkin juga kita mengoperasikannya sendiri (kecuali bukan untuk perbanyakan massal). Kuljar skala rumahtangga ini juga bisa jadi peluang bisnis yang tepat terutama bagi ibu rumahtangga. Karena bibit yang dihasilkan ndak cuma bisa dijual dalam bentuk bibit, tapi bisa juga dijadikan souvenir acara, dijual dalam botol-botol yang dihias cantik dengan ketrampilan pengolahan dari ibu-ibu tersebut. Mmhh, bisnis yang menarik bukan.. (agak tertarik juga aku mencobanya).

Cuma satu saja kelemahan kuljar skala rumahtangga yang dilakukan dosenku ini, yaitu hasil akhirnya masih berupa bibit dalam botol belum bibit hasil aklimatisasi. Padahal aklimatisasi inilah tahap tersulit dalam kuljar karena kita harus memandirikan tanaman yang selama ini hidup termanjakan dalam botol. Kebutuhan hidup yang semula tercukupi semua oleh media dan lingkungan hidup yang telah dimanipulatif, tiba-tiba harus mereka dapatkan sendiri dari alam. Tentu saja ini proses yang tidak mudah. Hampir sama sulitnya dengan melepaskan kembali orangutan yang sudah biasa hidup di penangkaran untuk kembali hidup di alam bebas.

*Hmm, untuk memperoleh keyakinan keberhasilan aklimatisasi kuljar, sepertinya aku butuh studi banding lebih lanjut pada mereka yang sudah berhasil melakukannya (Harus khatam dulu ilmunya sebelum memutuskan untuk benar-benar melakukannya, bis investasi awalnya lumayan cuuy, sayang kan kalau gagal di tengah jalan..).  Apakah anda tahu aku harus ke mana..?😉

2 thoughts on “Kultur Jaringan Skala Rumahtangga

  1. saya tertarik skali dengan artikel mbak tentang kuljar skala rumah tangga, saya ingin informasi yang lengkap dari mbak untuk saya terapkan dan kembangkan di sekolah saya. please help me,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s