Mati di Lumbung..?

“Garamnya aneh..” kataku sambil terus menghancurkan balok garam itu dengan ulekan. “Aneh gimana..” tanya ibu.
“Ni ga mau halus.. Tetap menggumpal. Padahal udah berkali-kali ditumbuk.”
“karena garamnya diimpor dari Australia, jadi ndak kaya biasanya..”
“Tapi bungkusnya merk lokal.. Merk yang sama, seperti biasanya. Buatan Juana.” ujarku sambil mengecek plastik kemasan.
“Iya, tapi bahannya kiriman dari Australia. Hanya dikemas di Juana. Kan tahun kemarin para petani tambak garam di Juana dan sekitarnya pada gagal panen. Hujan mulu sepanjang tahun.”

Hmm, susah memang. Meski garis pantai Indonesia lumayan panjang, air laut juga tersedia melimpah, namun kebutuhan garam domestik tak serta merta terpenuhi. Apakah karena proses produksinya masih tradisional hanya mengandalkan matahari ya? Duh, repot dunk kalo gitu. Mana cuaca dan iklim sekarang ndak bisa diprediksi..

Hmm, sebenarnya bisa ndak ya, garam dibuat tanpa pengeringan dari tenaga matahari ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s