First Day Tandem : Landmarks of Semarang

Kota Tua
Seperti layaknya kota tua, sebagian sudut sepi dan banyak yang terbengkalai, tak terpakai. Becak banyak yang menawarkan jasanya, tapi kami putuskan untuk jalan kaki saja. Kami ndak akan lama di kompleks ini, hanya mampir sesaat untuk kemudian meneruskan perjalanan ke beberapa tujuan berikutnya.

Pertanyaan yang melintas sesaat menelusuri kawasan kota ini, ndak adakah komunitas pecinta kota tua ataupun pihak swasta yang mengadakan kunjungan, kajian sejarah maupun menerbitkan literatur yang terkait dengannya seperti aktivitas beberapa komunitas yang bisa ditemui di kota Jakarta maupun Surabaya ?

Dokumentasi Pribadi Dewi

Museum Ronggowarsito
Ternyata ukiran Jawa tu sungguh-sungguh rumit, ndak seperti yang terlihat pada furniture yang beredar di pasaran saat ini. *takjub setelah melihat gebyog Kudus yang dipasang di pintu masuk ruang display.
Sama seperti museum lain, museum Ranggawarsita juga berdebu dan banyak kotak display-nya yang ndak terisi dan minim informasi. Andai lighting setiap ruangan pamer diperbaiki, sepertinya kesan suram bisa sedikit dieliminasi.

Gambar koleksi pribadi, diambil oleh Fifit

Masjid agung Jateng
Desain yang cantik, bersih dan toiletnya wangi. Sayang kendaraan umum yang bisa mengakses destinasi ini minim sekali (apalagi kalau sore-malam. Pyuuh..). Dalam kompleks masjid ternyata banyak gedung, salah satunya gedung buat nikahan (info bagi yang nyari tempat resepsi di seputaran Semarang).

Pengunjung yang datang ndak cuma jama’ah yang numpang shalat seperti kami, adapula pasangan pacaran (yang datang cuma buat foto). Salahkah.. ? Mbuh, bukan wewenangku buat menilai. Selain pengunjung masyarakat sekitar, ada pula pengunjung yang datang dari jauh, seperti seorang ibu yang mengobrol denganku pasca jamaah Magrib. “Saya tinggal di Bandung, dulunya si bapak dan ibu orang Semarang. Ni ke sini dalam rangka mudik,” ujarnya padaku dan ibu di sebelahku.

Dokumentasi pribadi Dewi

Sam Poo Kong

Kuil yang diresmikan pada tahun 2008 ini dilengkapi dengan patung Cheng Ho pada Juli 2011 kemarin.

Foto dokumentasi pribadi Dewi

Lawangsewu
Dikelola dan direnovasi KAI. Tiket masuknya lumayan mahal. Kalo perlu pemandu tambah biaya lagi dan sepertinya ndak banyak membantu (setelah menguping apa yang disampaikan pemandu pada rombongan sebelah. xixixi).

Kesan: memang sereem kalau malam hari.. (kesan setelah menghapus satu foto yang menampilkan efek burem di jendela).

Salah satu sudut di Lawangsewu. Foto dokumen pribadi Dewi

Iklan

2 thoughts on “First Day Tandem : Landmarks of Semarang

    • iya.. Pas reunian dekne ngandani yen arep mlaku2. Berhubung aku wis 2 bulan lebih standby di rumah khusus untuk pak-bu-mbah, akhire aku ya gabung.. *Mumpung pak-bu-mbah dah pada fit untuk ditinggal..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s