2nd Day Tandem: Gedongsongo dan Kampoeng Kopi Banaran

Gedongsongo
Lagi-lagi, objek yang susah diakses kendaraan umum. Untung ada ojek untuk masuk ke dalam kawasan. Bagi yang ingin menggunakan kendaraan pribadi, sepertinya anda butuh kendaraan yang performanya handal dan sopirnya terampil (terbiasa dengan kondisi jalan yang sempit, naik turun curam dan menikung tajam).

Candi ke-9. Foto dokumentasi pribadi Dewi

Untuk bisa mengakses semua candi yang letaknya terpisah, akan memakan waktu dan tenaga jika berjalan. So, solusinya adalah menyewa kuda seperti yang kami lakukan. Lumayan, kami jadi ndak perlu ngos-ngosan dan bisa berbincang dengan pekathik mengenai tempat ini. Maklum, di objek ini ndak ada pemandu tempat kita bertanya mengenai berbagai hal. Papan informasi di tiap lokasi juga minim. Jadi pekathik bisa jugalah dianggap sebagai pemandu, toh dia orang lokal yang cukup mengenal tempat ini.

Candi ke-6. Foto dokumen pribadi Dewi

Sebenarnya informasi mengenai tempat ini (mungkin) bisa didapatkan dari brosur di loket tiket masuk. Sayangnya hal itu lupa kami lakukan. Jadi, ketika anda berencana ke sini, jangan lupa meminta brosurnya ya, biar ada sedikit informasi yang bisa anda ketahui dan bagikan saat pulang dari sini.

Kampoeng kopi Banaran

Adalah sebuah tempat wisata yang dikelola oleh PTPN. Lumayan lengkap fasilitasnya. Ada taman bermain, kafe, gedung pertemuan, tempat meeting, hotel, lapangan tenis, taman buah, kebun kopi, fasilitas outbound, dll.

Fasilitas yang ada. Foto dokumentasi pribadi

Yang paling mantap adalah pemandangan berlatarkan Rawa Pening dan pegunungan Merbabu-Merapi. Pemandangan ini bisa dilihat dari depan hotel (yang dibangun di puncak bukit). Yahuui cuy..

Foto dokumentasi pribadi

Yang kedua adalah kebun buahnya. Lumayan juga koleksinya, meskipun ndak semuanya jenis lokal. Tapi setidaknya beberapa varietas dari jenis terpilih bisa didapatkan di sini, misalnya saja mangga, jeruk, pepaya, dll.

Kebun buah dengan beraneka ragam koleksinya. Foto dokumen pribadi.

Salah satu koleksinya adalah mangga kelapa. Lho, bukannya mangga dan pepaya ya.. :). Foto dokumentasi pribadi

Overall, penataan landscape kawasan ini lumayan rapi ya. Konsepnya matang, sudah terencana jauh sebelum fasilitas fisiknya dibangun (diawali dengan penanaman pohon, baru disusul sarana lainnya).

Yang enak dari tempat ini adalah pengamanan yang agak terbuka dan tiadanya tiket masuk. Jadi, kita bisa jalan-jalan menikmati fasilitasnya gratisan. Trus karena pelayan kafenya yang dikit, kayaknya kita bisa-bisa aja tuh kabur dari lokasi tanpa membayar pesanan makanan. *Hahaha, tenang sodara-sodara, modus operandi ini ndak kami lakukan kok.. πŸ˜€

Berikut adalah contoh sajian di kafe-nya.

Salah satu sajian di kafe Banaran. Foto dokumentasi pribadi

Catatan tambahan:

Perjalanan di musim libur lebaran ini berdampak pada harga angkot yang tidak dapat diprediksi. Besarnya tarif benar-benar sesuai selera sopir. Kadang yang dekat harganya selangit, kadang yang jauh harganya murah meriah.
Hari kedua tanpa sunblock juga berakibat pada makin tropisnya penampilanku. Kulit makin eksotis euy..! πŸ˜€

Special thanks to sodara2nya Fifit yang ikhlas menyediakan kamar untuk kuinapi dan menghidangkan makam malam gratisnya. Makasih yaaa.. πŸ˜€

Smoga perjalanan berikutnya lancar dan kami kembali pulang ke rumah Pati dengan selamat ya..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s