Bersyukur atas Kemarau yang Memanjang..

Ketika daerah lain berteriak kekeringan dan berbondong-bondong mengusahakan adanya hujan buatan, maka Pati adalah salah satu kabupaten yang cukup gembira dengan makin panjangnya kemarau tahun ini. Bukannya mau sok berdiri di atas penderitaan orang lain ya, tapi kemarau adalah berkah bagi warga Pati.

Dengan musim kemarau yang memanjang, petani garam di pesisir Juana dan Batangan bisa lebih panjang masa produksinya. Jika tahun kemarin mereka gagal berproduksi, maka dalam tahun ini garam 1 ton bisa dihasilkan dalam dua hari. “Alhamdulillah, tahun ini melimpah.. Meski  satu tonnya cuma laku dijual Rp 400.000,-” ujar sepupuku yang memiliki 5 kotak tambak garam di Asempapan, Wedarijaksa.

Tambak garam di pesisir Batangan. Foto dokumentasi pribadi

Tak hanya petani garam yang bergembira. Para karyawan pabrik gula Trangkil juga bergembira karena masa gilingnya lebih panjang. “Sepertinya rendemen tahun ini meningkat karena tebunya ndak sering kena hujan,” curhat pakdeku yang petani tebu. “Wuih, dengan beberapa mesinnya yang baru ples kemarau yang memanjang, makin mantaplah produksi PG tahun ini. Banyak tebu dari luar daerah yang digilingkan di sini karena PG yang lain (PG Rendeng) pada kolaps” tutur sepupuku yang jadi teknisi mesin di PG Trangkil.

Apakah cuma mereka yang bergembira ? Ndak juga. Masih ada yang lain, yaitu para perajin genteng dan batu bata di Trangkil dan Karanglegi. Tahun ini produksi mereka juga lebih optimal. “Mungkin tahun ini kami bisa memenuhi pesanan dari para developer perumahan yang sebelumnya kami tolak..”

Dan agak ke utara, pengusaha tepung tapioka di kecamatan Margoyoso juga bergembira. Produksi tapioka yang selama ini mengandalkan pengeringan alami dari matahari akan maksimal seiring makin teriknya sinar matahari yang menyinari Pati akhir-akhir ini.

Terakhir, para pemilik tanaman buah-buahan juga bersorak gembira. Jika tahun sebelumnya mangga, rambutan dan matoa tak berbuah semua, maka tahun ini pohon-pohon itu digelayuti buah dalam jumlah yang cukup signifikan. Satu pohon matoa saja bisa menghasilkan ratusan ribu jika ditebaskan (dijual ke tengkulak), apalagi kalau durian ya.. 😀

Tapi di balik semua kegembiraan itu, adapula orang Pati yang cukup menderita dengan makin panas dan panjangnya kemarau kali ini. Mereka adalah kawananku, para penderita alergi debu. Dalam beberapa bulan ini,  kami harus siap siaga, bermasker ke mana-mana. Kalo ndak, siap-siap aja mengeluarkan ingus setiap bertemu debu beterbangan yang tak ada habisnya itu. Nasib-nasib.. Punya hidung ko ya sensitif amat.. 😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s