nDeso..

“Oalah Wi.. Wi.. kamu tu lho, ndeso.. dari dulu ko ndak berubah-ubah..” begitulah ujaran beberapa teman ketika melihatku masih canggung dan ndak nyaman saat dibawa ke dalam peradaban dan gemerlapnya dunia.

Tersinggungkah aku.. ? Ndaklah, wong meskipun ndeso begini, teman-teman juga tetap mencari.. (GEDUBRAKK..) Malukah aku.. ? Ndak, biasa aja. Daripada maksa sok ngutho dan akhirnya malah ngisin-ngisini dan menderita..? Kan mending bilang  ndak doyan pizza daripada nanti perutnya masih lapar. Kan mending bilang  ndak mau minuman bersoda daripada nyampe di rumah bakalan sakit perut  tiada tara (Hahaha). Lagian teman-teman juga sudah mulai biasa melihat tatapan polosku saat diajak ke restoran asing, karena itu tanda bahwa mereka harus menerangkan dan merekomendasikan (dan membayarkan??!) makanan dan minuman apa yang sebaiknya kupesan. Hahaha..

Ndeso. Biarlah aku ndeso, kalo toh dengan bergaya seperti itu aku jadi lebih mudah belajar, lebih mudah hidup dan lebih mudah bahagia.

Biarkan saja aku naik angkot karena kalau di situ aku bisa tersenyum iri (dan terbanting harga diri) melihat pasangan muda yang berpacaran di pojokan angkot. Biarkan saja aku naik bis, karena di sana aku bisa mendapatkan tips-tips  menjaga hubungan ala pasangan kakek-nenek yang tetap mesra sampai usia senja. Terima saja kalau aku naik kereta ekonomi karena di sana aku bisa belajar bersyukur pada pedagang asongan yang hilir mudik menawarkan dagangan tanpa kenal lelah. Terima saja kalau aku lebih suka naik bajaj yang sering kau maki karena saat di dalamnya aku bisa ketawa ngakak seiring vibrasi dan liukan beloknya. Jadi terima sajalah, jika di tempat-tempat dan sesuatu yang sederhana itulah sumber kebahagiaanku berasal (toh, aku juga masih bisa nerima tawaran untuk diantarkan dengan mobil kalian ko guys.. Masih juga nerima tawaran diajak makan ke resto yang aneh-aneh asal ndak sering-sering.. *cekakakkk, sungguh aku tak tahu diri).

Tapi mosok si, kamu akan terus ndeso seperti ini Wi..? Percayalah kawan, aku juga terus meng-update diri.. Tapi memang ndak bisa seprogresif kalian. Slowly.. slowly.. dan slowly.. serta hanya bisa sampai pada ambang batas tertentu yang kuanggap perlu. Pizz..!!! 😀

Lha trus rezeki yang slama ini mengalir padamu dan kadang penuh kerja keras itu mau dikemanain kalau ndak dinikmati.. Hehehe, itu adalah rezeki yang mampir, dinikmati seperlunya saja, ndak perlu dihambur-hamburin, ndak perlu dipaksa-paksain untuk sesuatu yang ndak kuperlu, toh aku juga cuma mampir tho.. Biarkan saja sisanya mengalir 😉

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s