Kota Lama Banten

Hampir setahun lalu, aku mengunjungi keluarga Paklikku yang ada di Serang. Di hari kedua, Paklik dan keluarga mengajakku berjalan ke kota Banten Lama. Nah, ini adalah hasil dari kunjungan itu. Maaf ya, karena sesuatu dan lain hal (red: kemalasan), akhirnya baru bisa diupload sekarang. Hehehe.

Kota lama Banten ini terletak di sebelah utara kota Serang yang sekarang. Kayaknya belum bisa diakses angkotan umum, kecuali sewa.

Beberapa situs yang masih bertahan di kawasan Banten Lama ini adalah: benteng, reruntuhan keraton, mesjid, museum dan makam beberapa ulama Banten Lama.

Menurut buku Banten: Sejarah dan Peradaban Abad X-XVII yang ditulis oleh Claude Guillot, Kota Lama Banten ini adalah perpindahan dari Banten Girang. Pada perkembangannya, Banten Lama ini menjadi kota perdagangan internasional dengan produk utama lada putih. Wilayahnya yang didominasi rawa dan sungai memudahkan masuknya kapal-kapal lokal maupun asing. Jika dibandingkan, sungai yang dulu bisa dilalui kapal yang cukup besar itu, kini  berubah menjadi kali-kali kecil yang kotor dan kumuh.

Banten Lama cukup kosmopolit, dikunjungi dan dihuni oleh orang lokal maupun orang luar, seperti Tiongkok dan orang Eropa. Mereka hidup berdampingan bahkan syahbandar utama yang mengatur pelabuhan adalah seorang Tiongkok (atau keturunan ya, aku lupa). Mereka tinggal pada kawasan yang tersegmentasi sesuai ras dan suku.

Menurut Guillot, tadinya perumahan yang berkembang di Banten adalah perumahan panggung karena daerahnya yang berawa. Namun sejak kedatangan Tiongkok di kawasan ini, perumahan panggung pun beralih menjadi rumah daratan berdinding bata, sama seperti perumahan warga Tiongkok tersebut.

Keberadaan dan akulturasi kebudayaan Tiongkok di Banten ini juga bisa dilihat dari menara masjid berikut

Dokumen pribadi Dewi

Perhentian kami yang pertama adalah reruntuhan yang dikenal dengan nama benteng Speelwijk. Jika selama ini benteng-benteng yang pernah kudatangi sebagian berada di tepi pantai, maka benteng Speelwik ini terletak di tepi sungai (sekarang kali, sungai kecil). Tepat di seberang sebuah wihara.

Wujud benteng ini sebagian besar tinggal reruntuhan saja, tinggal pondasi, meskipun dinding di sebelah utaranya masih tampak utuh. Jika dicermati, dinding benteng ini terbangun dari campuran batu karang dan bebatuan lain.

Batu penyusun benteng. Foto dokumen pribadi Dewi

Dinding utara benteng yang masih utuh. Foto dokumen pribadi Dewi

Di bawah dinding utara tersebut, ada lorong ke dalam yang bisa ditelusuri, sayang panjangnya hanya + 10 meter saja. Adikku yang semangat masuk ke dalam pun kecewa, “Yah, kirain panjang dan ada apa-apanya, eh, ternyata cuma gitu aja..”

Lorong masuk benteng. yang tampak di gambar adalah Paklik dan adikku. Foto dokumen pribadi Dewi

Di sebelah utara benteng, tampak sebuah tugu. Setelah kuperiksa, ndak ada tulisan apa pun di sana. Kata satpam benteng, itu adalah makam. Tapi pas ditanya makam siapa, dia cuma menggeleng.

Tugu di bagian utara benteng, konon adalah makam. Foto dokumen pribadi Dewi.

Di sebelah barat, tumbuh pohon ini. Apakah pohon ini tumbuh sejak pembangunan benteng ? Entahlah.. 🙂

Foto dokumen pribadi Dewi

Selanjutnya kami menuju kompleks reruntuhan keraton, Masjid Agung Serang dan museum. “Duuh, ruwet deh mbak, kalau ke kawasan ini. Kumuh, dah gitu PKL, asongan dan pengemisnya buanyaaak, ndak bisa diatur. Bakal ngikutin kita ke mana-mana” demikianlah kata pengantar dari bulikku saat kami masuk ke kawasan. Kawasan ini tepat di seberang sungai yang tampak kumuh, jorok dan kotor, sekumuh dan se-ndak teraturnya perumahan dan rombong PKL yang ada di pelataran luar kawasan. “Untung kita datangnya ndak pas panas, coba pas hujan.. Uhh..” keluh bulikku lagi. Dan sampailah kami di mesjid setelah diikuti banyak pengemis. Ahh, semrawut. Bahkan masjidnya pun tampak semrawut, agak kotor.

Foto dokumen pribadi. Hehehe, foto satu-satunya. Jadi, maaf kalau ada kepalanya njedul.. 😀

Dan berikut adalah foto menaranya.

Menara masjid, terletak beberapa meter dari pelataran masjid. Konon didesain oleh orang asing. Foto dokumen pribadi Dewi

Di pelataran masjid tampak kompleks pemakaman. Ini mengingatkanku pada masjid Ampel, masjid Demak dan masjid Menara Kudus.

Sebelah kiri selasar adalah kompleks makam. Foto dokumen pribadi Dewi

Sesudah berkeliling kompleks masjid, kami keluar dan beranjak ke museum. Museum ini berada di sebelah timur masjid.

Museum Banten. Foto dokumen pribadi Dewi

Di pelataran luar museum dipajang sebuah meriam yang beratnya hampir 7 ton. Selain itu adapula batu penggilingan besar untuk gula dan lada. Mungkin inilah yang tersisa dari kebesaran dan kejayaan lada putih di Banten karena keberadaaan tanaman lada kini sudah ndak ada/jarang ditemui. Konon dulu dicabut dan dibakar oleh Belanda, supaya Banten ndak menyaingi monopoli rempah-rempah mereka.

Meriam ki amuk seberat hampir 7 ton. Coba bayangkan bagaimana memobilisir meriam ini pada masa peperangan di kala itu.Foto dokumen pribadi Dewi

* Btw, ni namanya ko mirip dengan meriam yang ada di keraton Solo ya.. Atau jangan-jangan semua meriam dulu diberi nama Ki Amuk ya..

Penggilingan lada. Foto dokumen pribadi Dewi.

Dan inilah koleksi-koleksi di dalam museum

Koleksi Gerabah. Foto dokumen pribadi Dewi

Naskah khotbah yang dicetak di lempengan bata/logam ya..? Foto dokumen pribadi

Koleksi keramik. Foto dokumen pribadi Dewi

Ko aku ngerasa koleksi keramik di berbagai museum di Indonesia itu didominasi keramik dari Tiongkok ya. Berarti dulu produk mereka juga mendominasi pasar kita seperti zaman sekarang. Ckckck, sungguh dominasi yang hebat, bertahan hingga beberapa masa.

Banten Lama ini sungguh menarik untuk disusuri, diikunjungi dan dikaji. Sayang jika pengelolaan kawasannya ndak dioptimalkan. Transportasi, tata kawasan, kajian kesejarahan sebaiknya terus dikelola, ditingkatkan dan disinergikan supaya keberadaan situs ini ndak hanya mewakili masa lalu, tapi juga bisa memberikan manfaat optimal bagi masa sekarang maupun masa depan.

Salam sender dari dinding Speelwijk 🙂 Foto diambil oleh adikku, Tyo.

One thought on “Kota Lama Banten

  1. To : ibu Dewi
    Salam kenal

    Sangat terkesan dengan, artikel yang ibu tulis.. untuk menambah wahana atau wawasan mengenai keramikcina, saya dapat membantunya.. ibu dapat telp saya di 08129691544, untuk berbagi ilmu khususnya keramik cina.

    Tks, sukses selalu

    Salam
    Kassah Hakim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s