Orang tua Pilihan

Siang ini aku kembali mbrebes mili setelah bertemu dengan orang tua-orang tua pilihan, saat kembali ke Bogor dengan KRL ekonomi. Orang tua pilihan siapa..? Pilihan Gusti Allah. Kok bisa ? Karena dari sekian juta (milyar?) orang tua di dunia ini, merekalah yang dipilih oleh Gusti Allah untuk membesarkan putra/putri yang berpenampilan dan berkebutuhan khusus. Dan mereka istiqomah menjalani peran itu.

==========***==========

Semula aku ndak sadar dengan penampilan khusus bayi yang ditidurkan oleh si bapak di bangku kereta, karena aku berdiri membelakanginya hampir di separo perjalanan. Barulah ketika duduk dan menghadapinya, aku menyadari. Dan saat melihat penampilan adek bayi itu, aku ndak tahu harus berkata. Menjerit ketakutan seperti yang diteriakkan mbak-mbak yang berdiri di depanku aku ndak sanggup. Berkata “kasihan..” seperti yang dilontarkan ibu yang duduk di sebelahku aku juga ndak mampu. Mataku hanya bisa berkaca-kaca ketika si bapak memangku bayi yang tampak mulai bangun, mengusap air liur yang keluar dari ujung bibirnya dan kemudian mengecup pipi anaknya dengan perlahan. Di sampingnya, si ibu yang sedang menggendong si sulung mengusap kaki si bayi supaya tidur kembali. Saat kucermati, tampilan kaki si bayi tampak khusus, demikian pula dengan tangannya.

Subhanallah.. dengan tampilan khusus anak tersebut, orang tuanya tampak ceria saja. Ndak malu, ndak sungkan atau tersinggung dengan pandangan iba dan ngeri dari setiap penumpang yang hilir mudik di sekitarnya. Keduanya masih memperlakukan anaknya dengan penuh kasih sayang. Ndak ada bedanya dengan perlakuan yang diberikannya pada si sulung yang tampak seperti anak kebanyakan.

Ketika kereta sudah sampai di stasiun Bogor, aku berpisah dengan mereka. Aku turun dan menyusuri peron. Saat itulah aku bertemu dengan bapak lain yang berjalan sambil menggendong putranya. Di belakang, si ibu tampak mengikuti. Keduanya berjalan ke bangku di peron yang juga kutuju. Kami duduk bersebelahan. Aku pun menyapa si anak yang tampak tersenyum. Adit namanya. Meski tampilan mukanya khusus, ndak seperti anak kebanyakan, tapi senyumannya manis sekali. Aku sempatkan berbincang dengan orang tuanya. Beberapa menit setelah si ibu menerima telpon, mereka pun berdiri dan beranjak. Sebelumnya, si ibu membantu menggerakkan tangan si Adit untuk melambai, “Dag tante, kami duluan ya..”

Aku terus memandang mereka sampai hilang dari pandangan. Sesak dada ini. Mereka benar-benar orang tua yang mengagumkan. Allah ndak salah memilih mereka sebagai orang tua bagi si adek bayi maupun Adit. Di saat yang lain mungkin malu, menyembunyikan atau bahkan membuang anak-anak yang berpenampilan khusus ini (seperti yang dituliskan Mas Saptuari tentang panti asuhan di blognya), mereka tetap menjaga amanah tersebut. Di saat yang lain memanfaatkan kekhususan tampilan anaknya untuk dikasihani dan dijadikan alat untuk meminta sedekah seperti yang biasa terlihat di kereta ekonomi itu, mereka justru bersikap sebaliknya. Di mata kami yang bertemu dengan mereka siang itu, adek bayi dan Adit adalah berkah amanah yang mereka jaga sama baiknya seperti anak yang lain.

Semoga mereka tetap menjaga amanah tersebut hingga masa yang Kau tentukan ya Allah. Mudahkan mereka.. Amien..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s