Ceria bersama Meja Kompas 3

“Jangan menyerah, jangan menyerah..” hapeku meraung-raung pada jam 06.00. Tepat sejam sejak aku menutup mata ini. Hueeh, siapa pula yang sms pagi-pagi gini, gerutuku. Kubuka, “Mas Erick ga jadi datang. Jadi Dewi siap-siap ngegantiin ya, kita ketemu di stasiun jam 7.30. Hueeh, 1,5 jam lagi. Mandi setengah sadar, packing setengah sadar. Di dalam angkot masih setengah sadar, ditambah perut yang meraung-raung kencang.

Di dalam kereta masih setengah sadar, bertiga, ngobrol seadanya, sambil diri terus mbatin, “Blogshop pertama, kompasiana pula. Hmm, kayaknya bakal serius gila..”. Ahh, membayangkannya bikin perut makin terasa bega.

Sampai di lokasi acara. Mendaftarkan diri pada mas-mas yang standby di meja. Duuh, ndak ada namaku. “Mas-mas, saya pemain pengganti, eh peserta pengganti ni.. Mas Erick yang ada di daftar ini ndak bisa datang, saya yang ngganti. Sudah bilang ke Mas Isjet.” Biar makin afdol, maka saya pun mengenalkan diri pada Mas Isjet yang datang kemudian. “Mas Isjet, saya Dewi, yang ngegantiin Mas Erick.” Dia pun mengangguk, “Oyaya, yang di-sms-in tadi ya. Oke-oke, silakan masuk..” katanya.

Kami pun masuk dan menghampiri sebuah meja. Sudah ada beberapa ibu di sana. Sudah berkenalan pula. Sayang, colokan listriknya ndak memungkinkan kami bergabung di sana. “Kita nyari yang kosong saja..” kata Mbak Yani. Hoopla.. akhirnya kami pun duduk di meja kompas 3, barisan paling belakang dekat mas-mas operator ruangan.

Lalu datanglah seorang bapak, Pak Pensies namanya. “Itu nama belakang saya mbak,” ujarnya. Mbatin, “Weeh, tampangnya serius kali.. Kompasianer banget ini mah..” Tapi pas mule ngobrol, weeeh, bapaknya rame juga. Meja kami pun makin meriah dengan datangnya mbak Dessy dan mbak *** (duuh, mbak, aku selalu lupa dengan nama sampeyan. Maaf, maaf, maaf..) dan terakhir, Mas Nur asli dari Kudus.

Seiring waktu, kesan kompasianer dan blogshop kompasiana yang serius pun terhapus pelan-pelan dari benak. Sepanjang waktu kami rame dan bercanda (rasanya materi dari Pak Pepih, Mas Ahmad Fuadi dan Mas Isjet pun ndak sanggup menyeriuskan cengengesan kami, atau lebih pasnya cengengesanku. hehehe).

Komposisi Penghuni Meja 3

Weeh, pokoknya senenglah bisa datang ke blogshop ini. Seneng bisa berbagi tawa dengan teman-teman di meja 3. Seneng juga dengan ilmu-ilmu yang dibagi para pembicara (sengaja ndak ditulis di sini karena sudah buanyak yang menuliskannya). Pokoknya ndak kapoklah buat datang ke acara Kompasiana selanjutnya. Hehehe.

Biar ndak jamuran di lepi, biarlah gambar-gambar dari kameraku dan kamera mbak Yani ini kubagi di sini. Hahaha.

 

"Alhamdulillah, mahasiswa di tanggal tua seperti ini, masih bisa makan beginian.. Sungguh, sesuatu.. 😀 "

Kiat menulis naratif. *Duuh, buatku yang biasa nulis reportase dan hal-hal yang ndak jelas, materi ini adalah sesuatu banget..

"Mengapa anda harus menulis..? Jadikan itu motivasi untuk terus menulis.." kata Mas Ahmad Fuadi

"BASIC adalah prinsip dasar online" kata Mas Isjet

"Cintaku, kamu.." lantun Dhisa di coffee break ke-dua. Coba yang nyanyi cowok, GR dah.. 😀

Meski ndak dapat "hadiah pintu", namun kami tetap ceria hingga akhir acara. Berandai-andai, coba meja kami pindahkan pas di depan MC-nya ya.. hahaha

 

nb: Mbak Yani, utang impas ya.. hahaha. Mas Erick, makasih karena ndak jadi datang n ngasih kesempatan buatku jadi pemain pengganti. 😀

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s