Siang Hari Farli

Siang sepulang sekolah bukanlah waktu untuk istirahat bagi Farli. Seperti siang ini, dia bergegas ke dermaga, membawa plastik berisi segulung senar, mata kail dan sesisir pisang.

Farli dan buntalan plastiknya di suatu siang

” Kamu memancing buat dijualkah..” tanyaku.
” Tara kakak.. buat dimakan sendiri. Di rumah tara ikang..” jawabnya.

Ahh, keren. Di saat tetangganya hanya mengeluh tentang tingginya harga ikan di pasar, Farli turun tangan memenuhi kebutuhan lauk keluarganya dengan memancing sendiri. Ngapain beli, toh, belakang rumahnya lautan luas.
“Kamu punya sudara berapa..” tanyaku kembali.
“Ada empat Kakak. Saya paling kecil.. Bapak tukang bentor dan emak tidak kerja..” jawabnya sambil melemparkan mata kail ke lautan.

Farli di dermaga

Tak hanya satu mata kail yang dipasangnya. Sesaat dia melihat ikan targetnya melintas di sisi lain dermaga, dia pun segera mengejar ke mana ikan itu berenang. Segera dilemparkan mata kail yang berhias sekelumit pisang di ujungnya. Dan beberapa menit kemudian, dia tampak sibuk menarik senarnya.

Aku pun segera mengejarnya, “Dapat apa Farli..”
“Ikan baubara Kak..” tukasnya.
“Wah, cepat sekali kau mendapatkannya. Biasanya berapa ikan yang paling banyak kau dapat dalam satu siang..” lanjutku.
“Lima ekor dalam setengah jam..” ujarnya bangga.
“Wah, canggih..” tukas temanku, Rahma.

Ikan baubara itu kemudian dikeluarkan insangnya supaya segera mati, sedangkan gale-galenya (saluran yang menghubungkan insang itu dengan organ yang ada di perut) dipotong-potong kecil dan dijadikan umpan selanjutnya.

Insang dikeluarkan dan dibuang, gale-gale dipotong untuk umpan. Foto dok pribadi.

Farli membersihkan baubara yang didapatkannya. Foto dokumen pribadi Dewi

Tak lama kemudian, dia kembali berlari-lari dari satu sisi darmaga ke sisi yang lain. Mengejar ikan yang dirasanya cocok untuk dipancing. Hanya bermodalkan mata telanjang. Hmm, bagus juga penglihatan ni anak.. batinku setelah mencoba berkali-kali melihat ke dalam air dan tak melihat sesuatu pun bergerak di dalamnya.

Darmaga. Foto dok pribadi

Dan tak sampai sepuluh menit, senarnya yang dipasang di dekat lampu dermaga telah kembali ditarik ikan. Segera dia menariknya. Kali ini, ikan yang didapatnya jauh lebih besar dari Baubara. “Ini namanya lilois Kak, siripnya berbisa..”

Farli dan ikan liloisnya. Foto dok pribadi

“Tapi bisakah dimakan..” tanya Rahma.
“Bisa.. tapi harus Emak saya yang membersihkannya karena dia lebih pintar.. Saya tara bisa..” jawabnya sambil memasukkan lilois ke plastik dalam keadaan masih hidup.

Matahari tepat berada di atas kepala ketika kami beranjak dari dermaga, meninggalkan Farli yang masih asyik memancing. Di dalam bentor aku pun merenung. Anak pesisir seperti Farli ini asupan gizinya tentu sangatlah sehat, ndak seperti anak di pegunungan maupun perkotaan yang jarang makan ikan laut. Dengan asupan protein hewani yang setinggi itu, tentulah kecerdasan mereka juga tinggi. Konon, orang Jepang cerdas-cerdas karena konsumsi ikan lautnya yang sangat tinggi tho. Teman-teman yang selama ini merajai peringkat atas kelasku juga kebanyakan anak pesisir. Jadi sepertinya, bolehlah kuasumsikan bahwa kecerdasan anak-anak di sini juga tinggi.

Namun sayang beribu kali sayang, sepertinya fasilitas pendidikan formal di sini masih terbatas. Sekolah masih seadanya, gurunya juga masuk ala kadarnya. Dan mungkin dengan penghasilan ayah yang rata-rata tak seberapa, anak-anak di sini juga ndak bisa meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Yah, memang pendidikan formal bukanlah segalanya. Tapi untuk mendapatkan pekerjaan sekarang, selalu ijazah yang jadi pertanyaan pertama bukan ?

Yaah, semoga saja orang tua dan lingkungan Farli bisa mengembangkan pendidikan non-formal yang jadi alternatif  bagi Farli dan teman-temannya untuk mengembangkan potensi dan kecerdasan mereka. Dan semoga saja sistem pekerjaan di masa depan bukan hanya ditentukan oleh secarik ijazah. Dan semoga, bukan  pegawai saja yang dianggap sebagai matapencaharian yang bermasa depan (apalagi KORUPTOR).

Tapi meskipun demikian, aku masih berharap akan ada banyak lulusan pendidikan tinggi di pulau ini. Karena ini bisa mengurangi ketergantungan mereka akan tenaga kesehatan maupun guru dari luar pulau. Jika selama ini jam belajar di sekolah terbengkalai karena banyak gurunya yang memperpanjang waktu liburnya untuk mudik ke luar pulau, maka ketika gurunya sudah dipenuhi oleh tenaga lokal, hal ini bisa diminimalisir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s