Catatan Sok Teu-ku tentang Film N5M

Memvisualisasikan buku menjadi menjadi sebuah film bukan pekerjaan mudah karena akan berhadapan dengan fantasi penonton yang juga pembaca/penggemar buku tersebut. Jadi, salutlah buat tim produksi film N5M ini. Mereka tetap berani mengangkat novel N5M ini menjadi film meski dengan resiko dikritik para pembaca.

Menurutku, film ini cukup menggugah dan mendidik penonton yang masih anak/remaja. Mengapa..? Karena setelah menontonnya, penonton anak-anak di sekelilingku pada teriak-teriak dengan semangat,  man jadda wa jada !! Hahaha, jadi bolehlah dibilang ini film edukasi terbaik untuk bulan Maret.. (blaaah, sok teu bener dah saya.. :D).

Namun demikian, ada juga sedikit ketidak-sreg-anku pada film ini, misalnya saja soal tokoh Alif.  Menurutku penjiwaan si pemeran Alif di film kurang kuat. Memang dia berhasil menampilkan karakter Alif yang susah beradaptasi dengan kenyataan yang sama sekali berbeda dengan impiannya. Sayang, saat harusnya mulai bersikap antusias setelah berjanji untuk menjalani kehidupannya di pesantren dengan sepenuh hati, muka keragu-raguannya masih nempel juga.

Detil penanda latar tahun 80-an sudah cukup diperhatikan. Namun sayang frame kacamata Alif masih kekinian. Mana ada anak masa 80-an yang frame-nya sekecil itu..Tren saat itu kan frame gede-gede macem kacamata yang dipakai Andika, senior si Alif.

Terus, saat memperhatikan betul-betul adegan Alif dan Bapaknya naik bis ke Jawa hingga saat mereka sampai di pesantren, ko ada yang janggal ya.. Ke mana perginya tas jadul yang mewadahi rendang dan susu yang dibekalkan Emak dari kampung ? Hilang..? Tapi ko rendang dan susunya bisa Alif nikmati di kemudian hari ?

Sebagai orang Jawa, aku merasa bahasa Jawanya Kyai yang diperankan Ikang Fawzi masih terdengar aneh.. Entahlah, mungkin hanya telingaku yang terlalu sensitif.. Maklum tanggal tua.. hahahaa

Terakhir, konsep Man jadda wa jada yang menjadi roh dalam film ini juga kurang menonjol dalam cerita.. Entahlah, rasanya, kerja keras yang ditampilkan dalam film belum mencapai man jadda wa jada yang tertuang dalam buku. Tuh kan, susah emang memuaskan fantasi penonton yang juga pembaca buku. Pasti dibanding-bandingin..!

*Edisi sok teu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s