Pangeran Hitam

Raden Saleh merupakan pelopor seni lukis modern Indonesia. Ia  pelukis pertama Indonesia yang pernah mengenyam pendidikan di Eropa dan pembawa pemahaman baru seni visual ke tanah air. Gaya melukisnya lahir dari perpaduan tradisi Eropa maupun tradisi Jawa, itulah yang membedakannya dari pelukis lainnya. Hampir 120 lithografinya dicetak untuk mempermudah pengajaran menggambar di tanah air pada masa tersebut. Dia juga memprakarsai berdirinya kebun binatang di Jakarta (Ragunankah yang dimaksud..?)

Ingin mengenalnya lebih lanjut ? Berikut adalah sekilas kisah hidupnya

Raden Saleh, si Pangeran Hitam

Raden Saleh lahir di Terboyo, Semarang dari keluarga priyayi. Setelah ayahnya meninggal, dia tinggal bersama pamannya, seorang bupati Semarang. Berkat pamannya inilah dia mulai mengembangkan bakat melukis dan bisa berguru pada 2 pelukis dari Belanda dan Belgia. Setelah berpindah ke beberapa kota di Jawa Barat, Raden Saleh memutuskan untuk belajar lukis di Belanda. Sesampainya di Belanda, dia memohon beasiswa pada raja Belanda dan berhasil mendapatkannya  selama dua tahun. Di tahun-tahun pertamanya, dia berguru pada seorang pelukis potret dan pelukis landskap di Den Haag. Beberapa lukisan potret dan landskap pun lahir dari tangannya pada masa tersebut.

Image

Saint Jerome

Meski tinggal di Eropa dan berguru pada pelukis Eropa, namun pengaruh dari tanah air masih tampak kental pada lukisan Raden Saleh. Lihat saja gambar di atas, meski pun menggambarkan rumah kincir Belanda, namun atapnya merupakan atap genteng rumah Jawa. Efek lumutan seperti yang tampak ketika genteng Jawa sudah lama digunakan pun ditampilkannya secara detil.

Setelah berada di Belanda selama 10 tahun, mengikuti beberapa pameran dan bekerja sebagai seniman lepas yang menerima banyak pesanan lukisan, pemerintah Belanda akhirnya memutuskan bahwa sudah saatnya Raden Saleh pulang ke tanah air. Namun sebelum pulang, dia mendapatkan kesempatan keliling Eropa selama 6 bulan. Negara pertama yang disinggahinya adalah Jerman. Di sana dia berkenalan, bergaul dengan kaum elit Jerman, dan tinggal bersama mereka di Dresden, Coburg dan Maxen.

Siang hari dihabiskannya dengan mengikuti kegiatan perburuan bersama kaum bangsawan dan malam hari dihabiskannya dengan mengikuti jamuan makan. Perburuan dan perkenalannya dengan sebuah pertunjukan hewan keliling, menginspirasikan lahirnya lukisan-lukisan yang bertemakan hewan seperti kuda, singa dan banteng. Lihatlah lukisan-lukisan berikut

Perburuan banteng Jawa

Perburuan kuda

Orang Baduy dengan kuda mati

Kuda diterkam singa

Di kalangan borju Jerman dan Perancis, dia dikenal sebagai Pangeran Hitam yang humoris dan supel. Kemampuannya mengocok perut lawan bicaranya membuatnya disenangi banyak orang.

Suatu saat dia mengadakan pameran seni di Dresden dan pameran ini banyak dibicarakan karena lukisan yang ditampilkannya berani tampil beda, tidak seperti pelukis Eropa lainnya. Ketika pelukis Belanda halus dalam menorehkan warna sementara pelukis Jerman terkenal dengan keromantisannya, dia justru menampilkan ekspresi kelam dalam lukisannya. Dia menampilkan hal-hal yang dihindari pelukis lain, seperti adegan perburuan singa yang menampilkan kegarangan dan sisi buas manusia.

Perburuan Singa

Kemampuan Raden Saleh dan lukisan Perburuan Singanya dibahas sebuah surat kabar. Gara-gara pemberitaan ini, keberadaan Raden Saleh diketahui oleh pemerintah Belanda. Dia didesak lagi untuk segera kembali ke tanah air. Namun Raden Saleh membangkang. Setelah kembali ke Den Haag dan menerima penghargaan jasa medali mahkota dari Raja Willem, Raden Saleh malah pergi ke Perancis. Di sana, dia mengikuti beberapa pameran lukisan dan bertemu dengan orang-orang super penting seperti Raja Louis Phillipe. Dia juga berkunjung ke London dan bertemu Ratu Victoria dan Pangeran Albert. *Ahh, menurutku, inilah senjata yang digunakan Raden Saleh untuk memperpanjang masa bermukimnya di Eropa dari 2 tahun menjadi 22 tahun. Kedekatannya dengan para pembesar. Jika anda sudah dekat dengan para penguasa melalui bakat lukis anda, bakat yang jarang dipunyai orang saat itu, maka tak ada pemerintahan mana pun yang bisa mengusik anda apalagi membuat anda pulang ke tanah air. Ahh, cerdas sekali.. ! 😀

Selama berada di Perancis, dia berkali-kali kembali ke Dresden maupun Maxen, mengunjungi keluarga-keluarga yang selama ini menerima kedatangannya dengan terbuka. Untuk mengenang masa-masanya selama di Jerman, sebuah pavilliun khusus yang bernama Blau moscheea pun didirikan untuknya. Saat pecah revolusi  Perancis , Raden Saleh kembali ke Den Haag. Setelah menerima penghargaan sebagai pelukis kerajaan, akhirnya Raden Saleh pun memutuskan kembali ke Jawa.

Blau moscheea

Sekembalinya di Jawa, pemerintah Hindia Belanda telah menunggunya untuk pekerjaan restorasi lukisan gubernur-gubernur Hindia Belanda.

Lukisan van den Bosch karya RD

Gub jenderal Meijer

Di Jawa, kehidupannya terkekang. Pemerintah Hindia Belanda tidak mengizinkan kehadiran seorang Melayu yang bergaya Eropa di antara mereka.  Segala gerak-gerik Raden Saleh pun diawasi. Gelar Pangeran pun tidak boleh digunakannya. Fasilitas dan kemudahan yang biasa diperolehnya ketika berada di Eropa tak lagi ada. Pakaian yang biasa dikenakannya di Eropa pun ditanggalkan dan berganti dengan beskap ala priyayi Jawa (meskipun menurutku beskap ini juga telah dimodifikasinya :D)

pakaian ketika di Eropa

tampilan RD saat kembali ke Jawa

Raden Saleh yang biasa dilakukan setara dengan masyarakat Eropa, pun menjadi gerah dengan pengekangan ini. Lukisan menjadi salah satu media untuk mengekspresikan kegelisahannya atas perlakuan diskriminasi pemerintah kolonial tersebut.

Lukisan penangkapan Pangeran Diponegoro hasil karya Pieneman yang pernah dilihatnya, direproduksi kembali dengan penafsirannya sebagai kaum pribumi. Di lukisan Pieneman, van De Kock dilukiskan berada setingkat lebih tinggi daripada Pangeran Diponegoro dan bendera Belanda pun tampak berkibar di puncak gedung penangkapan. Namun di lukisan Raden Saleh, mereka ditempatkan setara dan van de Kock ditempatkan di sisi kiri Pangeran Diponegoro, sisi yang biasanya diisi oleh perempuan. Pun tak ada bendera Belanda yang berkibar-kibar gagah di sana. Di lukisan Pieneman, PD ditampilkan sebagai seseorang yang pasrah menerima penangkapannya dengan hati yang hampa, sementara di lukisan Rd Saleh, PD ditampilkan menatap tajam menantang, tidak percaya dengan pengkhianatan sementara van De Kock digambarkan menatap ke kejauhan dan angkuh. Raden Saleh juga menyelipkan sosoknya sebagai seseorang yang menjadi saksi mata kejadian tersebut. Kepala perwira Belanda juga digambarkannya lebih besar, mengingatkan kita pada sosok raksasa dalam tradisi Jawa.

Penangkapan PD versi Pieneman, pelukis Belanda

Penangkapan PD versi RD

Tak hanya melalui lukisan, Raden Saleh juga mengungkapkan kekesalannya dengan membangun rumah yang bergaya gothik di Cikini. Tentu hal ini makin memancing kemarahan pemerintah Hindia Belanda. Mereka menangkap Raden Saleh dengan tuduhan memprovokasi pemberontakan petani. Penangkapan ini membuat Raden Saleh frustasi. Setelah bebas, dia memutuskan untuk kembali ke Eropa. Dia berkomunikasi kembali dengan Duke Sachsen- Gotha dan mengirimkan lukisan kepada raja-raja Perancis, Jerman dan Austria, untuk melancarkan usaha kembalinya tersebut.

kediaman RD di Cikini

Akhirnya, dia dan keluarganya pun kembali ke Eropa. Mereka berpindah-pindah, dari Perancis, ke Belanda, ke Italia dan kemudian kembali ke Perancis. Setelah 4 tahun berada di Eropa, istrinya sakit sehingga mereka harus kembali ke Jawa. Tak sampai setahun di Jawa, Raden Saleh meninggal, setahun kemudian istrinya juga meninggal. Mereka dimakamkan di Empang, Bogor.

Hidup yang tragis, di Eropa dipuja dan di tanah air dikekang-dihinakan..

*Kisah ini disarikan dari film dokumenter dan banner kisah hidup RD yang disajikan dalam pameran lukisan Raden Saleh dan Awal Seni Lukis Modern Indonesia di Galeri Nasional Indonesia tanggal 11-6-2012 lalu.

*Foto dijepret dari lukisan-lukisan yang dipamerkan maupun dari film dokumenter yang ditayangkan. Film ini dibuat oleh filmpunktart dan diproduseri oleh Goethe Institute Indonesia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s