Dua Kata Sakti..

Tiga anak berpakaian SD naik ke angkot yang kutumpangi. Ketiganya asyik dengan mainan yang digenggamnya. Tak berapa lama, bola berwarna merah bergulir ke bawah bangkuku. Ternyata punya salah satu anak. Tanpa diminta aku pun menyerahkan bola tersebut. Si anak menerima bola tanpa mau memandang dan juga tidak berujar apa-apa. Terima kasih tak kunjung keluar dari mulutnya dan wajahnya juga datar-datar saja. Hahaha, nyesek deh aku.. Dan hati pun langsung ngedumel, hmmm, gini ya, kelakuan anak sekarang.. Memang di rumah dan sekolah tak pernah diajarin bilang terima kasih dan tolong ya.. Aih-aih..

Sebenarnya, kalau berkilas balik pada kehidupan sendiri, saat bersekolah dulu pun rasanya tak ada guru yang mengingatkanku untuk berterimakasih dan mengucapkan kata tolong. Dalam pelajaran PMP dan PPKn, aku dituntut menghafal banyak pasal dan undang-undang daripada mempraktekkan dan belajar jadi manusia yang beretika. Aku mulai menyadari pentingnya dua kata sakti itu justru ketika menonton serial 7th Heaven yang dulu ditayangkan di TPI. Film seri ini menggambarkan dengan jelas bagaimana pendidikan etika dijalankan oleh sebuah keluarga. Orang tua selalu mengajarkan anaknya sopan santun dan tertib menggunakan dua kata sakti: terima kasih dan tolong, pada siapa pun di rumah tersebut. Ayah menyuruh anak diakhiri dengan kata please.. Kakak meminta tolong ke adik pun diakhiri dengan kata please. Dan ketika pertolongan itu datang, mereka harus mengucapkan thanks, bahkan pada tukang sampah yang mengambil sampah mereka setiap hari. “Mengapa kita harus berterima kasih pada tukang sampah.. Kan mengambil sampah memang tugas mereka.” tanya si anak. Dan jawaban si ibu intinya seperti ini, “Dengan mengucapkan terima kasih, kita jadi memanusiakan sesama dan diri sendiri”. Sungguh pelajaran hidup yang tak pernah kulupa.

Yah, saat itu, ketika pendidikan etika terabaikan di keluarga dan sekolah, masih ada saluran lain yang menjadi alternatif, yaitu media massa. Sekarang.. ? Aku tak yakin.. Lhah TV nasional aja isinya lebih banyak sumpah serapah.. Lalu bagaimana ? Satu-satunya tempat berpaling mungkin hanyalah keluarga dan optimalnya fungsi orang tua sebagai pendidik utama. Karena menurutku, anak-anak beretika adalah hasil kerja keras orang tua, bukan produk guru dan sekolah saja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s