Bata Putih dari Pulau Garam

Brook..brookk.. begitulah suara yang terdengar dari perbukitan gersang yang berada di sepanjang pantai utara Sumenep. Perbukitan itu ditumbuhi Eucalyptus, panas dan tampak tidak produktif. Tapi siapa sangka perbukitan gersang itu mampu menopang aktivitas pertambangan bata putih selama puluhan tahun dan menjadi penopang ekonomi warga sekitar.

Image

“Butuh hampir 20 tahun untuk menjadikan dataran menjadi jurang sedalam ini.” kata pak Sunar sembari mengendalikan laju truknya yang meluncur pelan ditengah-tengah tebing. “Pemilik lahan mendapatkan uang Rp 190.000,- dari truk yang mengambil muatan bata putih sebanyak 1500 bata/rit. Selain modal lahan, dia juga menyediakan modal alat gergaji pemotong batu, diesel dan pompa air. Sementara kuli pekerja mendapatkan uang 50.000 atas jasanya memotong batu hingga mengangkutnya (melemparkannya) ke dalam bak truk. Dan saya menjualnya ke pemesan di daerah Sumenep sebesar Rp 450.000,- sementara kalau untuk pemesan dari daerah lain, harganya bisa mencapai Rp 650.000,- tergantung jauh dekatnya jarak.” Demikian tutur pria berkumis yang telah menjadi sopir truk batu bata putih selama hampir 20 tahun ini.

Image

“Meski sekarang sepi namun saat malam tempat ini ramai dan terang karena para pekerja memulai aktivitas memotong batu saat malam. Lampu dinyalakan sebagai penerangan dan diesel untuk gergaji pemotongan dihidupkan sepanjang malam. ” Jelas pak Sunari lagi. “Awalnya pemotongan dilakukan di atas, lalu makin turun..makin turun.. mengikuti jalur bebatuan yang memang bisa diolah.” Sambil menyetir salah satu tangan pak Sunari menunjuk sebuah arah. “Dataran yang di atasnya bertumpuk karang hitam yang halus seperti di sana itu biasanya ditinggalkan. Tak diolah karena isinya cadas.”

Mengapa bertahan menyetir truk angkutan bata putih ini selama bertahun-tahun, Pak..” tanyaku. “Sebenarnya banyak tawaran selain menyopir truk bata putih ini.. Misalnya tawaran mengangkut tebu. Namun aku merasa angkut bata putih inilah yang paling menguntungkan. Ga perlu menunggu lama sudah dapat penghasilan. Minimal dalam sehari ada satu rit bata yang harus diantarkan. Enak, jadi kalau sudah tak ada yang harus diantar, bisa nyambi kerja yang lain. Tapi dengan ngangkut bata putih ini saja sudah cukup ko.. Ngapain kemrungsung.. Hidup ga perlu kaya, sewajarnya.. yang penting bermanfaat..” ujar Pak Sunari sambil menghentikan truknya pada ibu-ibu pencari rumput yang melambai-lambai dari sebuah gubuk. Mereka berniat menumpang pulang di truknya Pak Sunari .. “Nah, yang begini prioritas.. Tabungan surga ini..” lanjutnya sambil tersenyum lebar.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s