How to be a writer.. a blogger..

Halaman ini berisi panduan penulisan yang kudapatkan dari browsing, ke berbagai sumber. Beberapa di antaranya adalah yang kudapatkan dari kompasiana.com, public blog yang dimiliki kompas. Selamat membaca dan belajar..

Tulisan pertama ini adalah copy-an dari postingannya Om Budiman Hakim di kompasiana.com

POWER 3

Di Kompasiana banyak penulis yang udah happy banget kalo dapet pengunjung yang banyak. Apalagi kalo buuaanyaaaaaaak banget! Perlu disadari bahwa jumlah hits yang masuk ke halaman artikel belom menunjukkan bahwa tulisan kita bagus. Faktor kuantitas tanpa didukung oleh faktor kualitas hanya akan membuat pembaca muak. Mereka akan bosan dan enggan untuk dateng lagi kalo udah beberapa kali ternyata tulisan kita membosankan. Tulisan yang bagus akan membuat proses brand loyalty berjalan sempurna. Kita mau nulis topik apa aja pasti orang akan semangat aja membacanya. Nah pertanyaannya, bagaimana caranya membuat tulisan kita jadi bagus?

Ini ada ajian POWER 3 yang sering dipakai oleh lingkungan saya. Semoga ada gunanya ya. Apa aja sih POWER 3 itu?

1. Stopping Power

Stopping power adalah metode untuk membuat orang berhenti. Contohnya tentu yang udah biasa kita lakukan di judul artikel. Di halaman ‘Home’ kan ditayangkan tuh 10 artikel terbaru yang hilang timbul silih berganti. Biasanya orang akan berhenti pada satu judul yang menarik. Judul yang provokatif, nyeleneh, sadis dan berbau sex biasanya akan segera menarik pembaca. Dengan rasa ingin tahu mereka langsung mengklik artikel itu dan mulai membaca. Di tahap ini, boleh dikatakan kita berhasil mempraktekkan tahap 1 yaitu stopping power. Artikel Anda akan banyak didatangi pengunjung. Tapi jangan buru2 seneng. Ingat! Di tahap satu Anda sudah menjanjikan sesuatu yang menarik bagi pengunjung. Jangan kecewakan mereka! Masih ada tahap 2 dan 3. Seharusnya tahap berikutnya haruslah lebih menarik dari tahap awal.

2. Shocking Power

Di tahap ini kita mulai bercerita tentang sesuatu yang mengagetkan pembaca. Membuat keingintahuan mereka semakin menggunung. Contohnya pada cerita2 detektif yang dimulai dengan pembunuhan, pencurian, pemerkosaan, pokoknya konflik selalu dimulai di bagian awal. Kalo kita berhasil membuat pembaca shock, itu berarti kita sukses melaksanakan tahap 2. Nah selanjutnya tentu kita berharap orang akan membaca artikel kita sampe habis kan? Kalo ga ya percumalah dua tahap yang sudah capek2 kita bangun.

3. Sticking Power

Tahap ini fungsinya paling berat yaitu bagaimana memaksa pembaca untuk membaca artikel kita sampe selesai. Coba kita liat apa modal yang kita punya? Kalo ada konflik tentunya kita punya solusi kan? Pertanyaannya apakah solusi kita cukup menarik sebagai ending cerita? Kalo dirasa kurang, ga ada salahnya kita kasih dramatisasi agar jadi lebih dramatis. Selain itu Anda bisa menyelipkan jokes, keywords atau kutipan tokoh2 terkenal yang relevan dengan artikel kita. Gunakanlah gaya bahasa sendiri, jangan mencontoh gaya penulis lain. Sehebat apapun cara kita meniru, kita ga akan pernah lebih hebat dari orang yang kita tiru.

Kalo kita berhasil mempraktekkan POWER 3 ini dengan baik, Anda ga usah takut untuk menulis sepanjang mungkin. Kalo tulisan kita panjang tapi masih banyak orang yang mau membacanya sampai selesai maka itulah sebuah indikasi bahwa orang mulai menyukai tulisan kita. Selanjutnya tulisan kita insya Allah akan ditunggu-tunggu oleh member lain.

Ga usah pedulikan jumlah pengunjung. Tulisan saya yang berjudul “Pengecut2 di dunia maya” sebetulnya bisa meraih lebih banyak pengunjung kalo judulnya saya ganti jadi “Bersetubuh dengan mayat!” Tapi saya ga melakukan itu karena relevansi dengan ceritanya kurang erat. Saya ga mau mengorbankan relevansi hanya agar tulisan saya bercokol di Tulisan terpopuler hari/minggu ini.

Dan jangan pernah minta orang lain kasih komen di artikel kita. Biarkan tulisan kita yang mengetuk hati para pembacanya untuk ngasih komen. Kalo pake diminta segala, komen mereka jadinya ga jujur. Mereka kasih komen berdasarkan order kita.

Terakhir, jangan hanya menulis satu topik doang. Karena kita jadi sulit untuk membuat yang lebih bagus pada tulisan selanjutnya. Orang cenderung membandingkan dengan tulisan kita sebelumnya. Ada banyak topik menarik di dunia ini yang bisa kita petik. Hidup ini terlalu berharga untuk diisi hanya dengan 1 hal saja.

P3 UNTUK PENULIS PEMULA

Kalo ada orang tanya, tulisan seperti apakah yang kita bisa anggap bagus? Dulu saya rada bingung nyari jawabannya. tapi sekarang saya bisa menjawab bahwa tulisan yang bagus itu adalah yang menggugah emosi (dalam konteks positif tentunya).

Nah dalam hidup ini berapa kali kita ketawa? Berapa kali kita menangis? Berapa kali kita terharu? Pasti banyak kan? Semua hal tersebut di atas adalah saat hati kita tergugah oleh sesuatu. Nah kenapa semua itu ga kita manfaatkan sebagai latihan menulis? Kalo jelas2 kita tergugah oleh suatu peristiwa, logikanya orang pasti tergugah juga kalo kita ceritain kan?

Problemnya, banyak orang suka berpikiran, “Gue sih pengen latihan nulis tapi ga tau harus nulis apa. Ga tau apa yang harus ditulis.’ Kalo kalian mempunyai masalah yang sama, cobalah gunakan rumus P3 di bawah ini. Sebuah rumus yang ampuh buat penulis pemula. Apa aja sih P3 itu?

1. PENGALAMAN:

Yaitu segala peristiwa yang menggugah hati dan kita alami sendiri. Saya punya folder khusus di laptop yang saya kasih judul ‘gudang ide“. Isinya adalah pengalaman2 saya yang menggugah hati. Semuanya saya kumpulkan dalam folder itu. Pengalaman itu ga perlu berupa kejadian besar. Kejadian sehari-hari pun bisa jadi menarik kalo kita sedikit lebih peka.

Misalnya: Kepala Anda kejatuhan cicak padahal Anda jijik bukan main sama binatang itu. Anda kaget dan panik, sementara Isteri Anda menjerit karena menyangka Anda sedang dilanda kesakitan hebat. Tuliskan peristiwa itu.

2. PENGAMATAN:

Yaitu segala hal yang menggugah hati tapi tidak Anda alami sendiri. Bisa saja Anda ngeliat hal itu di film, buku, internet atau dari cerita orang lain. Pasti kita sering kan nerima email dari temen2 kita? Ada yang berupa cerita haru, ada jokes, ada plesetan pokoknya apa aja. Nah kalo ada yang menggugah hati biasanya saya copy paste lalu saya kumpulkan juga di folder tadi.

Misalnya: Ketika Anda kejatuhan cicak, pembantu Anda mulai menghubungkannya dengan takhayul bahwa itu adalah pertanda akan ada musibah menimpa keluarga Anda. Gara2 cerita takhyul itu hidup Anda jadi ga tenang. Anda beneran jadi takut kalo isteri atau anak Anda akan ada yang meninggal. Atau kalo kebetulan Anda mempunyai kisah lain seputar cicak maka itu bisa digunakan untuk memperkaya tulisan kita. Misalnya ada anak tetangga yang makan cicak untuk menyembuhkan penyakit kulitnya. Tulis dan gabungkan dengan hasil tulisan dari pengalaman.

3. PENGEMASAN:

Yaitu bagaimana kita membungkus tulisan kita agar jadi lebih menarik. Berilah bumbu agar cerita Anda lebih dramatis.

Misalnya: Ketika Anda kejatuhan cicak Anda mengalami kesulitan untuk mengusirnya dari kepala karena Anda memakai Jel rambut yang daya rekatnya kuat sekali. Coba liat? Jadi lebih menarik kan? Isteri Anda berusaha membantu dengan menepok-nepok kepala Anda. Karena cicaknya ga copot juga, isteri Anda menggunakan sapulidi dan menyabet kepala Anda dengan keras

Hahahaha…seru kan? Bisa juga Anda menyelipkan jokes di sana-sini seputar cicak atau apapun yang relevan. Untuk memaksa orang agar terus membaca tulisan kita hingga tamat, gunakan gaya bahasa yang unik atau menggunakan keywords supaya penyajiannya lebih segar. Contoh keywords yang bagus adalah maki-makian Kapten Haddock yang sangat nempel di benak pembaca komik Tin Tin.

Proses berlatih menulis biasanya saya lakukan di dalam Blog. Apapun yang menggugah hati, saya coba tuliskan dan saya lakukan pengemasan supaya ceritanya jadi lebih dramatis. Komentar teman-teman di blog merupakan masukan berharga karena saya jadi punya kesempatan untuk memperkaya dan memperbaikinya.

Kalo Anda mau jadi penulis maka caranya cuma satu: LATIHAN! Percaya deh! Bakat itu cuma satu persen, sisanya yang 99% adalah latihan dan latihan.

NARASI DAN DESKRIPSI

1. Narasi

Hari itu saya mau menghadiri Launching buku Cat Rambut Orang Yahudi karya Chappy Hakim yang diadakan di Gamedia Gran Indonesia. Saya udah punya bukunya dan udah saya lalap sampe habis padahal bukunya lumayan tebel loh, 324 halaman. Eh? Bener ga ya? Lupa lagi saya, pokoknya lebih dari 300 halaman deh hehehehehe…. Di mobil dalam perjalanan menuju ke sana, saya sengaja mendengarkan radio Sonora karena sebelom acara launchingnya, Chappy hakim diwawancara soal buku barunya di radio itu.

Di sana Chappy menceritakan salah satu artikelnya http://chappyhakim.kompasiana.com/2008/11/25/abs-part-2/ yang berjudul Asal Bapak Senang (ABS part 2). Saya ngakak abis mendengar ceritanya. Aneh kan? Padahal saya udah baca artikelnya tetapi kenapa saya masih ketawa? Setelah saya tela’ah rupanya ketika diceritakan secara verbal, cerita itu jadi lucu banget. Jauh lebih lucu dibandingin kalo kita baca sendiri. Ketika Chappy mengadakan briefing, dia menggunakan kalimat langsung pada anak buahnya. Sementara artikel di buku CROY, saya ga menemukan satu pun sebuah kalimat langsung.

Pelajaran apa yang dapat kita petik dari sana? Ternyata ketika kita menggunakan narasi, ada beberapa bagian yang memang lebih terasa emosinya ketika kita menggunakan kalimat langsung. Ketika seseorang sedang marah lebih baik menceritakannya dengan kalimat langsung. Biarkan Si Tokoh mengatakannya sendiri dan gunakan tanda seru agar kemarahan tersebut lebih terasa di hati pembaca.

Coba liat juga tulisan saya di http://budimanhakim.kompasiana.com/?p=21 tentang Mbah Surip. Kalo saya ga menggunakan percakapan dengan kalimat langsung pastinya karakter Mbah Surip ga akan ke luar secara maksimal. Jadi saran saya, setiap kali ada sesuatu yang menarik, cobalah diexercise, apakah bagian itu akan lebih maksimal dengan kalimat langsung atau kalimat tidak langsung.

2. Deskripsi

Kalo narasi biasa disebut dengan penceritaan, deskripsi biasa diterjemahkan dengan penggambaran. Dua elemen ini sangat penting. Kerjasama kedua elemen ini akan membuat tulisan kita jadi punya nyawa. Banyak penulis baru sering terfokus hanya pada narasi saja, mereka menganggap deskripsi adalah bagian yang membosankan. Padahal deskripsi tidak kalah penting dengan narasi. Kalo deskripsinya menarik seharusnya akan membuat tulisan kita jadi semakin berbobot.

Di bawah ini saya mengutip sebuah deskripsi yang saya ambil dari salah satu puisinya WS Rendra yang berjudul ‘Balada terbunuhnya Atmo Karpo.’

“Rembulan menggosok-gosokkan tubuhnya ke pucuk-pucuk para.”

Coba liat deskripsi di atas! Apakah benar rembulan bisa menggosok-gosokkan tubuhnya ke pucuk-pucuk para? Ga gitu kan maksudnya. Dari kalimat di atas, kita bisa menebak bahwa sesungguhnya bukan Si Rembulan yang bergerak tapi pucuk-pucuk paranya yang bergoyang ke sana kemari karena tiupan angin. Kita bisa mengerti bahwa peristiwa itu terjadi di malam hari karena ada kata ‘rembulan’ di sana. Perhatikan sekali lagi kalimat di atas. Bukan main! Rendra bisa menghadirkan ‘angin’ dan ‘malam’ tanpa menggunakan kedua kata itu. Indah sekali bukan?

Deskripsi yang ditulis Rendra di atas memang bagus tapi sama sekali bukan barang baru. Kalimat itu sebenernya adalah sebuah personifikasi. Masih inget kan pelajaran gaya bahasa? Gaya bahasa adalah bagian dari pelajaran Bahasa Indonesia yang kita pelajari sejak SD. Cuma entah gurunya yang salah atau murid2nya yang blo’on, kita selalu menganggap contoh personifikasi sebagai definisinya.

Saya pernah mengajar di sebuah SMA. Dalam suatu kesempatan saya bertanya,”Ada yang tau personifikasi?” Semua pada berebutan menjawab, “Tau dong. Nyiur melambai-lambai!!!!”

Lain waktu, saya lagi jadi pembicara seminar yang dihadiri oleh audiens yang usianya semua di atas 40. Saya melempar pertanyaan yang sama, “Siapa yang tau personifikasi?

Crowd banyak yang ngangkat tangan dan semuanya menjawab,”Saya tau. Nyiur melambai-lambai kan?”

Hhhhhh. aneh banget! Generasi yang bedanya 20 tahun ternyata mempunyai pemahaman yang sama dangkalnya soal personifikasi. ‘Nyiur melambai-lambai’ kan contohnya. Bukan definisinya. Apakah ini indikasi bahwa orang indonesia malas berpikir? Kan seharusnya kita bisa mencari contoh lain? Kenapa sih tiap ditanya personifikasi selalu nyautnya kalo ga ‘Nyiur melambai-lambai’ pasti ‘Ombak berkejar-kejaran’.

Ayo kita ubek-ubek gudang, kita cari lagi buku tentang Gaya Bahasa. Yang paling lengkap keterangannya adalah buku Bahasa Indonesia karangan Gorys Keraaf. Di sana kita bisa memperkaya tulisan kita dengan bermacam-macam gaya bahasa seperti, paradoks, sinisme, sarkasme, metafora, eufimisme dan masih banyak lagi.

KARAKTERISASI

Temen saya namanya Fauzi. Nama panggilannya Bontot karena dia memang anak bungsu. Dia penggemar berat Elvis Presley. Sehari-hari dia sering mengenakan pakaian seperti Elvis. Kalau menyanyi selalu lagu-lagunya Elvis. Apalagi kalau sedang naik panggung dalam sebuah acara. Wah jangan ditanya lagi. Dia bisa bernyanyi dan menari bak Elvis sampai pagi. Begitu kagumnya dia pada karakter Elvis sehingga dia cenderung meninggalkan karakternya dan meminjam karakter idolanya. Tanpa disadari dia merasa lebih nyaman menjadi Elvis imitasi daripada menjadi dirinya sendiri.

Betapa pentingnya karakterisasi mungkin tidak semua orang menyadari. Banyak orang yang sengaja mengenakan pakaian hitam terus menerus, atau mengenakan seragam tentara setiap hari, memakai baret tanpa henti dengan resiko rambut rontok. Kenapa? Ternyata cuma sekedar membentuk karakterisasi.

Mengapa Dedy Corbuzier berdandan serba hitam, alis besar dan rambut seperti yang seringkita lihat? Ya dia ingin menciptakan karakter yang unik. Konon setiap hari dia harus mengerik kepalanya agar gaya rambutnya ga berubah. Dengan atribut seperti itu tentu dia yakin penampilannya menjadi outstanding dibandingkan pesulap lainnya.

Bahkan Limbad The New Master malah sampe rela-relanya ga mau ngomong di depan publik. Gila ya? Orang rela menyiksa diri seperti itu hanya untuk menemukan diferensiasi. Apapun siap dilakukan untuk pembentukan sebuah karakter yang mengundang perhatian khalayak.

Begitu juga dalam penulisan. Karakterisasi adalah faktor yang ga bisa ditawar-tawar lagi. Pembentukan karakter pada sebuah tokoh akan membuat cerita kita menjadi menarik. Cobalah kita liat komik Tin Tin. Kita dengan mudah bisa menjabarkan bagaimana karakter di dalam komik tersebut. Misalnya; Tintin. Seorang wartawan yang baik hati, pintar, pemberani dan suka petualangan. Kapten Haddock, seorang mantan pelaut yang selalu meledak-ledak, pemarah, sembrono dan peminum wiski. Profesor Calculus yang jenius, linglung dan kurang pendengaran. Masih banyak lagi, misalnya Snowy atau Si kembar Thompson dan Thomson. Semuanya mempunyai karakter yang kuat dan menonjol.

Begitu pentingnya karakterisasi sampai-sampai di Hollywood ada jabatan yang namanya Character Director. Tugasnya adalah mengembangkan sebuah karakter tokoh tapi sekaligus menjaga agar karakter dasarnya tidak hilang. Satu orang tokoh disupervisi oleh seorang character director. Kebutuhan character director ini biasanya ini diperlukan untuk film2 seri yang episodenya banyak. Misalnya kayak sitcom Friends, Golden Girls, Cheers dll. Coba perhatikan di sitcom tersebut. Dengan mudah kita akan mengenal masing2 tokoh dengan kekhasan karakternya. Pada episode yang ke sekian karakter mereka akan berkembang tapi hebatnya dia tidak berubah dari karakter dasarnya.

Dari semua tulisan yang saya posting di Kompasiana, saya yakin tokoh Mu’an anak betawi menjadi top of mind di benak pembacanya. Sedangkan tokoh-tokoh lain banyak yang terlupakan. Kenapa? Karena tokoh Mu’an memang karakternya kuat sekali. Logatnya, cara berpikirnya dan becandaannya semuanya sulit untuk dilupakan. Jadi bisa dibayangkan bagaimana pentingnya membangun sebuah karakter dalam sebuah penulisan. Bagaimana membangun tokoh utama, bagaimana membangun tokoh antagonis dan jangan dilupakan semua tokoh bawahan/pendukung juga perlu diberi karakterisasi. Karakter yang kuat akan membuat tokohnya melekat kuat di otak para pembaca.

Perkuatlah karakter tokoh-tokoh utama dalam cerita kita. Misalnya Si A orangnya serius, Si B ke kanak-kanakkan, Si C orangnya bolot. Terserah! Karakterisasi akan membuat si tokoh menjadi lebih menarik. Karakter yang kuat akan membuat orang dengan mudah mengingat semua tokoh-tokoh penting dalam cerita kita. Karakter dapat diperkuat dengan cara menambahkan atribut seperti pakaian yang unik, dialek, gagap, suara cegukan atau kebiasaan unik. Terserah apa aja sepanjang membuat karakter si tokoh menjadi menarik.

THEATER OF MIND

Sejak kecil saya adalah penggemar berat buku cerita silat cina. Dari pengarang OKT, Sd. Liong sampai Kho Ping Ho, saya lalap tanpa pilih-pilih. Salah satu buku favorit saya adalah buku yang berjudul Sia Tiaw Enghiong dan Sin tiau Hiap Lu. Kebagusan buku ini menurut saya bisa direndengkan dengan cerita Maha Bharata dan Barata Yudha dari India.

Entah berapa kali saya membaca buku itu tanpa pernah merasa bosan. Saya selalu kagum bagaimana pembentukan karakter dibangun secara jenius. Di buku itu kita mengenal Kwee Tjeng yang selalu patuh pada norma. Yo Ko yang selalu membangkang pada aturan baku. Siauw Liong Lie yang lugu tapi memiliki kecantikan luar biasa. Auwyang Hong yang licin dan jahat. Oey Yok Soe yang berada di antara baik dan buruk. Ang Tjit Kong pemimpin Partai Pengemis yang terkenal dengan ilmunya Hang Liong Si Pat Tjiang dan tentu saja Tjioe Pek Thong, orang tua nakal yang selalu bertingkah kekanak-kanakan. Semua karakter tersebut benar-benar kuat dan terjaga konsistensinya dari awal sampai akhir cerita.

Baik dari segi deskripsi maupun dari narasi, buku ini saya beri acungan sepuluh jempol. Inilah satu-satunya cerita yang mampu membuat saya tertawa terbahak-bahak tapi di bagian lain mampu membanjiri pipi dengan airmata. Begitu terpesonanya saya pada cerita itu sehingga saya menolak untuk melihat filmnya. Ketika teman-teman saya berbondong-bondong ke bioskop, saya mengeraskan hati untuk tidak ikut. Sewaktu saya ulang tahun, seorang teman memberikan videonya dalam urutan yang lengkap. Tapi sampai sekarang saya tidak berniat menontonnya. Mengapa?

Karena semua tokoh dalam cerita itu sudah terpatri dengan mantap dalam benak saya. Kalau Yo Ko dalam film tidak ganteng seperti yang saya harapkan pasti saya kecewa bukan main. Begitu juga tokoh-tokoh lainnya. Dan terutama kedahsyatan kecantikan Siaw Liong Lie…biarlah tetap tertanam seperti adanya sekarang. Tidak perlu diganggu dengan tokoh lain yang menganggap dirinya Siaw Liong Lie yang sama.

Cara bertutur penulis asli tentu juga berbeda dengan cara bertutur dalam skenario. Saya tidak berani menanggung resiko. Biarlah saya tidak pernah menontonnya. Pokoknya akan saya  jaga cerita indah dengan semua tokohnya ini menempati sudut tersendiri dalam memori otak saya. Cerita dalam pikiran inilah yang biasa orang sebut dengan theater of mind.

Berbeda sehabis baca buku God Father karya Mario Puzo, saya memberanikan diri untuk nonton. Soalnya aktornya hebat-hebat sih, ada Al Pacino, Robert de Niro dan Marlon Brando. Udah gitu sutradaranya adalah Francis Ford Coppola, mana mungkin film besar ini saya lewatkan? Dan hasilnya?

Alhamdulillah ternyata saya sama sekali ga kecewa. Saya harus akui bahwa team produksi film ini jago banget. Penokohannya walau ga sesuai dengan yang ada di kepala saya tapi karena acting mereka hebat-hebat, saya bisa melupakan ketidak-cocokan itu. Al Pacino luar biasa sekali menjiwai karakternya. Begitu juga Marlon Brando dengan suara seraknya.

Yang lebih hebat lagi, suasana Sisilia yang ada di kepala saya ternyata persis banget seperti yang digambarkan dalam film ini. Baik itu hutan, kastil dan pewarnaannya semuanya bisa persis sama. Luarbiasa ya? Mereka bisa menerjemahkan apa yang ada di benak pembacanya.

Karena itu pula penting dipahami oleh seorang penulis bahwa memindahkan theater of mind di kepala ke benak pembaca sama sekali ga mudah. Kita hanya bisa melakukannya dengan cara berlatih terus menerus. Dengan deskripsi yang mendetil, dengan narasi yang lugas dan dengan karakterisasi yang kuat, insya Allah apa yang ada di benak penulis bisa ditransfer kurang lebih sama dengan yang ditangkap pembacanya.

KEMAMPUAN MENULIS ITU SEBUAH PROSES

Pernah ga kita memperhatikan guru-guru kita di jaman sekolah dulu? Mereka begitu piawai di bidangnya masing-masing. Misalnya, saya selalu kagum sama salah satu guru matematik saya di SMP, namanya Pak Koes. Kalo lagi ngajar dia bilang gini, ”Misalkan ada sebuah lingkaran…” Sambil ngomong gitu dia bikin lingkaran di papan tulis.

Dan tau ga? Lingkarannya bunder banget. Mulanya saya pikir ‘Ah kebetulan tuh.’ Tapi dugaan saya salah. Sedang asyik-asyiknya nulis, tiba-tiba Pak Koes ngomong lagi, “Maaf, Bapak salah tulis….”

Terus semua tulisan di papan tulis dia hapus semua sampai bersih. Lalu dia berkata lagi sambil membuat lingkaran lagi, “Bapak ulang ya, misalkan ada sebuah lingkaran….” Dan ternyata lingkarannya bunder lagi. Bunder banget seperti dibikin dengan bantuan jangka. Gile nih Pak Koes. Canggih amat yak?

Pas jam istirahat, saya ambil kapur. Maklum saya ini tipe makhluk penasaran. Jadi saya coba bikin beberapa lingkaran pake kapur di papan tulis. Hasilnya? Ada yang lonjong, ada yang pletat-pletot ga keruan, pokoknya ga ada yang bunder beneran seperti buatan Pak Koes.

“Kamu butuh 22 tahun mengajar kalo mau bikin lingkaran yang sempurna Bud” Tiba-tiba suara Pak Koes ada di belakang saya. Bibirnya senyum-senyum, rupanya dia geli banget ngeliat perbuatan saya.

“Maksudnya gimana Pak?” tanya saya tersipu-sipu karena ketauan lagi melakukan sesuatu hal yang tolol.

“Dulu Bapak juga ga bisa bikin lingkaran yang bunder. Tapi karena Bapak sudah 22 tahun mengajar, tiap hari kerjanya bikin lingkaran melulu ya lama-lama akhirnya terbiasa. Makanya saya bilang kamu butuh 22 tahun untuk mempunyai kemahiran bikin lingkaran sempurna tanpa bantuan jangka.”

Gile! Bikin lingkaran aja butuh waktu 22 tahun? Hahahahaha sebuah pelajaran sederhana yang menarik. Sebenernya Pak Koes mau bilang bahwa kemahiran membuat lingkaran adalah sebuah proses. Jadi bukan sesuatu yang bisa diajari lalu langsung bisa. Prosesnya berupa latihan terus menerus.

Nah…begitu juga dengan kemampuan menulis. Ada prosesnya juga yang harus dijalani. Jadi ga ada jalan lain kecuali berlatih terus menerus. Sama aja kayak atlit olahraga. Ga mungkin kita bisa menjadi juara kalo kita latihan cuma pas mau ada pertandingan doang. Ga ada pertandingan pun kita harus latihan, kalo ga mau dipermalukan oleh lawan.

Sampai saat ini pun saya alhamdulillah masih semangat latihan menulis. Saya, bersyukur banget dengan adanya blog di internet. Tiap kali ada cerita lucu, pindahin ke blog (http://leonhakim.blogspot.com). Kalo ada kejadian aneh, langsung tulis di blog ( http://bikaambon.multiply.com). Tanpa terasa sebenernya blog merupakan tempat ideal untuk menempa ilmu dalam menulis.

Janganlah menulis hanya ketika diberi tugas. Sekali lagi, kemahiran menulis itu adalah sebuah proses. Coba deh bikin blog, kalo udah banyak tulisannya, kita pasti merasakan manfaatnya. Cara ngebuktiinnya gampang kok. Bandingin aja tulisan pertama kita di blog dengan tulisan kita yang terakhir. Pasti banyak bedanya. Pasti keliatan kemajuannya. Saya jamin!

Dan satu lagi yang perlu dicatat. Kenapa saya suka nulis seenaknya tanpa mempedulikan kaidah bahasa Indonesia? Saya harus berterus terang kepada Anda bahwa saya mengalami kesulitan kalo harus menulis dengan bahasa baku. Memang itulah kelemahan saya. Tiap kali saya nulis pake bahasa Indonesia baku rasanya apa yang saya tuliskan belom mengekspresikan apa yang ada di dalam hati. Kurang plong gitu loh ekspresinya. Berdasarkan hal itu saya memutuskan untuk mengabaikan bahasa baku. Saya ga mau punya beban bahasa. Saya ga mau punya beban apapun. Pokoknya masa bodo amat gimana bahasanya yang penting saya bisa berekspresi setotal-totalnya.

Nah itu tadi ilmu penulisan yang kudapatkan dari blog-nya Om Bud di kompasiana.com. Nah, yang berikut ini adalah copy-paste dari blog-nya Kang Pepih Nugraha yang ada di kompasiana.com juga

NETIQUETTE

NETIQUETTE adalah etika berinternet. Aslinya dua kata yang dijadikan satu, yakni networks dan etiquette. Sebelum internet lahir, kata netiquette tentu belum ada. Orang mengartikan sebagai berprilaku sesuai etiket  saat tersambung ke jaringan internet, entah itu saat kita berinteraksi di forum, mailing list, maupun blog. Ternyata, ada etiket yang sejatinya harus dipegang oleh siapapun yang sedang berada di jaringan internet saat mereka berinteraksi. Bagaimana rupa netiquette itu? Prinsipnya sama seperti etiket atau sopan santun pada umumnya, hanya saja ranahnya di dunia maya!

Dengan sangat menyesal, sore tadi kami harus menghapus (delete) sebuah komentar seorang pembaca Kompasiana yang sangat tidak bernetiket, tidak ada sopan-santunnya! Memberi komentar atau menanggapi tulisan boleh-boleh saja, sebab itu cermin demokratisasi. Tetapi bila komentar disampaikan secara tidak sopan, kasar, sarkastis, nyinyir, mendiskreditkan penulis, dan “nggak nyambung”, kami tidak akan memoderasinya (menayangkannya). Kalaupun sudah tayang seperti kasus tadi, kami tidak segan untuk menghapusnya!

Seorang pembaca Kompasiana (tidak usah kami sebutkan identitasnya), mengomentari postingan Budiarto Shambazy berjudul Chicago 4 November 2008. Anehnya, komentar yang disampaikan bukan pada masalah yang ditulis, akan tetapi mengomentari penulisnya secara tidak proporsional. Sang penulis menjadi obyek serangan cacimaki. Sangat tidak bernetiket, jauh dari sikap terpelajar, seakan-akan tidak ada seorangpun yang mengajarinya peradaban.

Sopan santun di dunia maya sama saja seperti di dunia nyata, harus berpegang pada etiket. Masak kepada orang yang belum kenal langsung memaki-maki, di depan umum lagi!

Kompasiana adalah blog publik, dimana setiap tulisan maupun komentar dimungkinkan untuk ditayangkan, dibaca dan sekaligus dikomentari khalayak banyak. Saat pesta blogger berlangsung, Sabtu 22 November lalu, Kompasiana mulai membuka registrasi lengkap dengan tata-caranya bagi mereka yang berniat untuk menjadi penulis Kompasiana. Mengapa registrasi diberlakukan? Ini semata-mata agar penulis Kompasiana bukanlah anonimi alias “siluman”, tetapi orang yang berani menunjukkan identitasnya secara jelas, bahkan berani menampilkan foto dirinya sendiri!

Selama ini pembaca yang menukilkan komentar pada postingan tertentu tidak diharuskan melakukan registrasi. Dibiarkan bebas begitu saja, meski pada akhirnya harus dimoderasi. Mungkin ada baiknya juga jka si pemberi komentar pun kelak harus melakukan registrasi agar menjadi anggota Kompasiana terlebih dahulu. Tentu saja sikap ini harus diambil karena kita ingin menciptakan komunitas dengan identitas jelas, bukan mereka yang menyembunyikan identitas karena mungkin kurang percaya diri.

Kita ingin dan mendambakan komunitas yang berani berpendapat, bertanggung jawab atas apa yang ditulisnya, dan tetap memegang etiket bergaul di internet. Namun di sisi lain, Kompasiana tetap terbuka untuk dibaca dan dipetik manfaatnya oleh siapapun!

ISU UNTUK MENULIS ARTIKEL 1

PADA pelatihan jurnalistik di Universitas Diponegoro, Semarang, 24 hingga 27 Juli 2008 lalu, saya mendapat banyak pertanyaan seputar jurnalistik. Ini lumrah. Akan tetapi, ada pula peserta yang bertanya seputar bagaimana membuat artikel untuk media massa, meski pertanyaan itu dilontarkan saat rehat. Kebetulan, ada lulusan S1 Undip yang beberapa kali artikelnya dimuat di Harian Kompas edisi Jawa Tengah. Kepada dialah saya memberi sedikit ilmu.

Tidak usahlah disebut namanya. Tetapi sejujurnya, saya senang mendapat pertanyaan kritis seputar artikel yang ia buat. Ia mengaku menulis mengenai “dunia pendidikan”. Tanpa bermaksud mengujinya, saya melontarkan beberapa pertanyaan. Bukan apa-apa, inilah cara saya sharing dan berbagi ilmu. Jelek-jelek begini artikel saya pernah dimuat di Halaman Opini Kompas, 20 Juni 1990, jauh-jauh hari sebelum saya menjadi jurnalis!

“Kalau kamu mengikuti dunia pendidikan, jadilah pakar pendidikan. Jangan beralih ke lain subyek. Geluti saja pendidikan dari hulu sampai hilir,” demikian saya membuka percakapan. “Sebenarnya, apa concern kamu terhadap persoalan pendidikan mutakhir?” tanya saya lagi. Ia ragu menjawab, dan memang tidak menjawab. Saya katakan, “Tengoklah persoalan besar pendidikan nasional dewasa ini. Tengoklah dunia pendidikan tinggi yang semakin matre dan mata duitan. Jangan harap orang desa yang tidak berpunya seperti saya bisa masuk perguruan tinggi, meskipun mungkin saya bisa lolos.”

Dia mengangguk. Mungkin mengerti. Saya meneruskan meski bukanlah seorang ahli pendidikan, kecuali seorang jurnalis. “Pendidikan di perguruan tinggi sekarang tidak adil! Menteri Pendidikannya tidak punya visi ke depan soal pendidikan yang seharusnya!” Ia agak terkejut, tetapi masih mau mendengarkan saya.

Saya melanjutkan, “Disebut tidak adil karena hanya orang-orang berpunya saja yang bisa masuk perguruan tinggi negeri ternama. Anak-anak tidak berpunya walaupun pintar, jangan harap bisa masuk. Tengok produk manusia-manusia Indonesia 10, 15, atau 20 tahun mendatang! Apa jadinya kalau SDM Indonesia dijejali anak-anak orang kaya yang karena berpunya bisa belajar di perguruan tinggi, meski otaknya pas-pasan? Sementara anak-anak pintar yang tidak berpunya cukup menjadi buruh atau petani. Tidak tertarikkah kamu pada persoalan mendasar ini?”

“Tertarik. Tetapi saya harus mulai darimana?” jawabnya sekaligus melempar tanya.

“Coba baca UUD 1945 dan perubahannya, di situ tertera dana APBN untuk pendidikan sebesar 20 persen,” kata saya lagi. Dia balik bertanya, “Sangat sedikit ya, Pak?” Saya lalu memotong, “Itu sudah cukup besar! Tapi coba kamu lihat. Perguruan Tinggi yang seharusnya disubsidi biar mahasiswanya tidak harus bayar mahal uang uliah, malah disuruh cari duit sendiri. Coba kamu tengok semrawutnya buku pelajaran yang selalu terjadi setiap tahun! Janganlah lihat jauh-jauh, karena kamu tinggal di Semarang, coba belajar kedekatan (proximity), apa imbas dari semrawutnya dunia pendidikan nasional ini di Provinsi Jawa Tengah?”

“Wah, terima kasih atas penjelasannya, Pak,” katanya lagi. Tetapi saya masih mau menjelaskan sedikit lagi kepadanya tentang kesamaan jurnalis dengan kolumnis dalam menangkap isu, mengembangkan, dan menuliskannya. Lain kali sajalah ya… (Bersambung)

ISU UNTUK MENULIS ARTIKEL 2

BAIK, saya teruskan lagi postingan sebelumnya yang sempat terputus. Saya tekankan kepada teman itu bahwa menangkap isu dalam membuat artikel maupun berita ada kesamaan. Bedanya, tugas membuat artikel menjadi “lebih mudah” karena biasanya para penulis artikel mengikuti berita dan mengetahui perkembangan peristiwa mutakhir. Ini masuk akal karena artikel mensyaratkan kupasan yang sedang aktual diperbincangkan!

“Jadi, apakah saya juga harus seperti wartawan, Pak? Maksud saya, apakah saya juga harus mewawancara narasumber?” tanyanya yang langsung saya sambar, “Mengapa tidak?” Dan, dia langsung terdiam demi mendengar jawaban saya itu.

Saya katakan, penulis artikel tidak selayaknya “hidup dalam dunianya sendiri” seperti, maaf, orang-orang autis itu. Penulis artikel tidak selayaknya menganggap bahwa opini dan pendapatnya saja yang benar. Di luar itu, semua salah. Di luar darinya semua itu tidak penting. Maaf, jangan sekali-kali berpikir seperti itu. Berpikirlah bahwa salah satu tujuan Anda membuat artikel itu untuk memberi pencerahan, berbagi ilmu, berdiskusi, belajar menerima pendapat orang lain, atau belajar menyanggah pendapat orang lain (atau berita) dengan cara santun dalam bentuk artikel.

Buatlah sebuah artikel yang memberi solusi, bukan melulu pertanyaan tanpa jawaban. Bukan melulu gugatan tanpa perbaikan. Berilah pembaca sebuah alternatif dari cara-cara yang sudah umum diketahui, tetapi tidak dengan cara mengajari. Berpikirlah bahwa Anda setara dengan pembaca, sehingga Anda terhindar dari cara-cara menggurui. Yakinkan bahwa solusi yang Anda tawarkan merupakan upaya perbaikan atau novelty (hal baru) yang selama ini belum ada. Namun demikian, jangan sekali-kali mencela solusi yang pernah ditawarkan orang sebelumnya!

Kembali ke cara kerja itu tadi, apakah penulis artikel juga harus seperti wartawan? Saya jawab, “Ya, dalam bata-batas tertentu!” Yang saya sebut “dalam batas-batas tertentu itu” misalnya, apa salahnya kalau penulis artikel juga bisa bertemu dan berbincang-bincang dengan para pakar lainnya. Mungkin tidak secara resmi, tetapi di saat si pakar itu mengadakan seminar atau acara-acara santai lainnya. Gali saja informasi yang Anda butuhkan dari situ. Gali sebuah persoalan yang kelak akan dijadikan isu dalam artikel yang Anda tulis. Itu pertama.

Kedua, tidak ada salahnya kalau Anda sering-sering datang ke perpustakaan untuk mencari informasi sesuai isu yang ingin Anda kembangkan. Cari informasi di internet sebagai pelengkap isu mutakhir dan jaga kemungkinan tulisan itu sudah ditulis penulis artikel lain. Kalaupun sudah ditulis, cari dari sudut pandang yang berbeda asalkan tidak melakukan plagiat saja. Ketiga, baca buku yang relevan, sekadar melihat “kesejarahan” dari sebuah persoalan. Nah, bukankah cara-cara ini sama dengan apa yang dilakukan oleh wartawan dalam menulis berita?

“Kamu mengerti?” tanya saya menyadarkan lamunan teman saya itu. Dia mengangguk dan tampaknya paham atas apa yang saya bicarakan. Maaf, saya terlalu dominan bicara kala itu karena posisinya sebagai orang yang ditanya. Saya pun menjawabnya sepengetahuan yang saya punya berdasarkan pengalaman menulis artikel yang saya alami. Jika pun postingan ini tidak ada gunanya, abaikan saja! Oke, sampai di sini dulu, sampai jumpa di bahasan lain…

JADILAH DIRI SENDIRI

MENULIS dan membaca ibarat suami-istri atau remaja yang saling jatuh cinta. Saling kasmaran. Saling membutuhkan. Saling merindukan. Menulis tanpa membaca, membuat tulisan hampa, kosong, dipaksakan, dan tidak bermutu. Membaca tanpa diakhiri dengan menulis, juga akan sia-sia. Ilmu yang Anda baca hanya sekadar beredar di kepala, menjadi konsumsi bagi diri sendiri. Setelah kita mati, lenyap pulalah ilmu yang kita punya.

Bayangkan sedikit saja kita menulis dari apa yang telah kita baca, maka Anda meninggalkan ilmu pengetahuan bermanfaat bagi banyak orang. Saat saya mati kelak, saya tidak meninggalkan apa-apa buat Anda kecuali tulisan dalam blog ini yang akan bisa Anda baca terus-menerus, Anda akses sebebas-bebasnya dan bagikan lagi kepada yang lainnya yang kebetulan belum tahu. Kelak tulisan di blog ini akan menjadi bermanfaat selama bisa diakses. Tidak usah merasa berutang budi dengan tulisan ini, sebab saya melakukannya dengan senang hati dan ikhlas. Berbagi ilmu adalah kesenangan tersendiri.

Akan tetapi, yang ingin saya ketengahkan di sini adalah “pengaruh buruk” dari apa yang sudah kita baca terhadap gaya kepenulisan. Maksud “pengaruh buruk” di sini bukan berarti tidak boleh membaca. Ini pemahaman keliru. “Pengaruh buruk” di sini tidak lain karena kita merasa “harus” menulis seperti yang ditulis para penulis itu, yang bukunya begitu mengesankan kita, sehingga kita “ingin menjadi” dirinya. Maaf kalau saya potong langsung saja: jangan menjadi orang lain, jadilah diri sendiri!

Ini umum terjadi pada dunia kepenulisan fiksi, atau kadang-kadang menulis artikel. Setelah membaca buku-buku Pramoedya Ananta Toer, maka si penulis sudah merasa hebat kalau menulis dengan gaya Pram, Muchtar Lubis, Arswendo Atmowiloto, Ahmad Tohari, atau Putu Setia. Beruntunglah saya yang ditempa khusus hanya untuk menulis berita “hard news” yang tidak boleh ada bunga-bunga tulisan, kata-kata bersayap, kiasan, atau kata-kata tersembunyi. Maka tulisan saya adalah lurus-lurus saja, sesuai fakta apa adanya.

Menulis berita, apakah itu berita “soft news” atau “hard news”, bagi saya tetap harus menggunakan gaya kepenulisan yang standar, yang kadang terasa “garing” dan tidak bertenaga. Ada yang bilang dan bahkan setengah mendewakan “jurnalisme sastrawi”, tetapi itu bukan berarti menggunakan bahasa yang mendayu-dayu, memanjang-manjangkan hal yang sesungguhnya pendek saja. “Jurnalisme sastrawi”, apapun namanya, tetap harus menyampaikan fakta dan kebenaran kalau dimaksudkan sebagai menulis berita.

Tetapi apa boleh buat, yang ingin saya sampaikan dalam menulis berita adalah sebuah fakta dan kenyataan, bukan fiksi atau khayalan. Untuk yang satu ini, pembahasan berhenti di sini. Mari kita lihat menulis fiksi atau artikel, yang kadang-kadang rentan dengan pengaruh gaya bahasa atau gaya bertutur orang lain!

Menjadi Pram, Ahmad Tohari atau Jakob Oetama, tidak masalah. Tidak ada yang melarang, tidak ada hukum yang menjerat kalau Anda melakukannya. Just do it! Tetapi yakinlah, setelah itu Anda akan merasa hampa sendiri. Anda tidak akan puas hanya karena telah menjadi orang lain, sebagus apapun tulisan, cerpen, novel, atau artikel Anda. Bukankah lebih baik menjadi diri sendiri sejelek apapun tulisan kita?

Satu hal yang harus menjadi catatan, bahwa kita membaca, Anda membaca tulisan orang lain, bukan untuk menirunya, sekuat apapun pengaruh tulisan yang Anda baca itu merasuk ke seluruh sel darah Anda. Kita membaca untuk sekadar memperluas pengetahuan kita, memperkaya kepala kita dengan ilmu pengetahuan bernas yang mungkin didapat setelah Anda membaca buku atau tulisan seseorang. Bukan dimaksudkan untuk meniru lantas menjadi orang lain. Bukan!

Membaca adalah memperkaya diri dengan ilmu pengetahuan. Ini memperkaya diri yang baik, daripada memperkaya diri dengan harta yang tak akan ada habis-habisnya. Hiasilah wajah Anda dengan pengetahuan yang bermanfaat, yang bisa Anda curahkan kapanpun untuk kepentingan diri, saudara atau orang lain. Niscaya Anda tidak akan terasuki penyakit macet saat menulis, kehilangan kata-kata dan frasa, lalu menjadi afasia sebelum kata-kata itu keluar dari ujung-ujung jari Anda di atas tuts ketikan atau pena.

Membaca berarti Anda mengisi amunisi isi kepala Anda dengan pengetahuan yang siap dimuntahkan saat Anda perlukan dalam menulis. Ini berlaku baik dalam menulis fiksi maupun nonfiksi. Amunisi itu harus tetap Ada. Novel atau cerpen tanpa riset bacaan, hanya bualan yang sama sekali tidak bermanfaat, buang-buang energi saja bagi yang membacanya. Menulis artikel tanpa membaca hanya menjebak Anda dalam pikiran kuda, maunya menang sendiri, seperti diri sendiri saja yang benar. Menulis berita dimana isi kepala sarat dengan pengetahuan dari bacaan, membuat berita tidak sekadar “melaporkan”, tetapi sekaligus “memberi pengetahuan”.

Itulah selintas mengenai pentingnya membaca untuk menulis. Membaca di sini adalah menggali ilmu pengetahuan, baik itu dari cara membaca dalam arti sesungguhnya, atau “membaca” saat kita mendengarkan ceramah cendekiawan, ilmuwan, agamawan, teman, atau siapapun yang bermanfaat. Membaca di sini bisa juga diskusi atau bertukar pikiran dengan siapapun. Pokoknya membaca dalam arti seluas-luasnya demi sebuah tulisan yang berbobot dan bermanfaat.

MULAILAH DENGAN CATATAN HARIAN

Menulis bukanlah hobi semata, tetapi banyak orang bisa hidup dari menulis. Menulis bukan pula monopoli orang-orang tertentu, misalnya wartawan. Siapa saja bisa dan boleh menulis, sepanjang menulis tidak dipajaki. Menulis apa saja: buku, novel, berita, catatan harian, memoar. Dimana saja: di rumah, di internet, dalam perjalanan wisata, atau saat terbaring sakit.

Percayalah, menulis itu gampang, memulai menulis itulah yang sulit. Padahal kalau sudah mulai menulis, tulisan mengalir bagaikan air tanpa sampah dan limbah di atasnya, lantas siapapun bisa kecanduan, barangkali termasuk kita-kita…

Saya baca majalah Fortune (edisi 18/9), mantan Presiden AS Bill Clinton berutang US$ 10 juta (Rp 100 miliar) saat meninggalkan Gedung Putih. Tetapi dia menutup utangnya dengan menulis memoar “My Life” yang menghasilkan US$ 10 juta. Clinton masih mendapat US$ 20 juta lagi dari honor berbicara di berbagai forum diskusi bergengsi. Kini Clinton menghabiskan masa pensiun dengan menjadi filantrofis sejati, mendorong orang-orang kaya dunia menyumbangkan sebagian kekayaannya untuk kemanusian, mulai dari memerangi HIV/AIDS, kemiskinan global, sampai obesitas anak-anak.

Ah, cerita Clinton pun saya dapatkan dari hasil tulisan seorang wartawan Fortune, bukan? Jadi, betapa asyiknya menulis. Joan Katherine Rowling, penulis tokoh Harry Potter, kini tercatat sebagai salah seorang manusia terkaya di jagat ini. Lagi-lagi dari menulis. Oh ya, jangan jauh-jauh deh, saya bisa menghidupi diri dan keluarga juga dari menulis, sebagai wartawan tulis!

Mari kita berbagi tips di sini, tetapi bukan berarti saya sok tahu… Pasti di antara sahabat ada yang jauh lebih tahu, lebih mahir, dan lebih profesional dalam menulis. Tips sederhana yang ingin saya sampaikan di sini… mulailah menulis catatan harian (diary). Tentang apa saja, tentang perasaan kita: marah, sebel, kecewa, kaget, bahagia, senang, dan masih banyak lagi perasaan lainnya.

Mulailah menulis dari apa yang kita lihat, saksikan, rasakan, alamai dan selami… pasti akan menghasilkan sebuah catatan, minimal catatan kecil buat kita nikmati sendiri. Sahabat tahu, kata “jurnal” (harian) itu berasal dari bahasa Latin, acta diurna, yang pada masa Romawi kuno itu berisi cacatan sehari-hari, baik catatan di balaikota (pemerintahan) ataupun catatan tentang para korban perang yang disampaikan seorang kurir.

Sekarang dengan maraknya weblog, orang menulis catatan harian di internet, ya kita-kita ini. Tetapi ke depan, selain menuliskan perasaan yang kita alami semata, cobalah menulis apa yang kita lihat atas sebuah peristiwa: kecelakaan maut di jalan, menemukan anak hilang, melihat demonstrasi, menyaksikan kerusuhan, melihat kekerasan dalam rumah tangga, memergoki perampokan, dan sejuta peristiwa lainnya… lalu tuliskan di blog kita, seperti yang biasa kita lakukan. Besar kemungkinan salah satu di antara kita, para sahabat, kelak menjadi pewarta warga (citizen reporter).

Di belahan dunia lain, pewarta warga ini begitu tren. Popularitas koran internet Ohmynews.com di Korea Selatan milik Oh Yeong Ho yang memiliki ribuan pewarta, kini mengalahkan koran-koran cetak mainstream. Suatu saat, saya akan cerita tentang sukses Oh Yeong Ho yang pernah saya tulis di Kompas. Tetapi sebagai pemanasan untuk sama-sama belajar menulis, saya sajikan tulisan mengenai citizen journalism yang juga sudah saya tulis di Kompas dengan judul “Kita Semua Wartawan”, Kompas print edisi 15 Februari 2006.

Peristiwa
KITA SEMUA WARTAWAN

Bom yang mengguncang London, Inggris, 7 Juli 2005, tidak hanya mengguncang dunia karena persoalan kemanusiaan dengan tewasnya lebih dari 50 warga. Akan tetapi, bagi pengamat media massa, bom London
juga dianggap “tonggak” sejarah lahirnya pers baru, yakni jurnalisme warga atau citizen journalism.
Dalam citizen journalism, bukan wartawan/reporter profesional yang membuat berita, tetapi warga biasa.

Adalah Tim Porter, seorang warga yang menuangkan unek-uneknya di situs pribadi miliknya, First Draft. Saat bom meledak, istrinya berada di dekat lokasi kejadian. Porter baru mengetahui serangan teroris itu saat ditelepon mertuanya. Setelah menjemput istrinya, Porter lalu berselancar di dunia maya (internet) mencari informasi lebih lanjut.

Mengapa tidak mencari informasi di radio atau televisi?

Mengherankan, kedua jenis media massa elektronik itu masih sunyi, bungkam seribu bahasa, seakan-akan tidak ada kejadian dahsyat. Situs dot.com, yang biasa menyuplai berita flash, juga sama saja. Apalagi
mencari informasi di tumpukan koran yang terbit hari itu, sama juga bohong. Porter dengan cepat menemukan informasi paling gres dan mutakhir tentang ledakan bom London dari sebuah situs pribadi. Jeff
Jarvis dan Steve Yelvington, dua warga yang berada paling dekat dengan pusat ledakan, yang mem-posting-kan rekaman video kepanikan orang di dalam stasiun kereta api bawah tanah ke sebuah situs
pribadi. Gambar diambil Adam Stacey, penumpang lainnya, dengan menggunakan telepon genggam yang dilengkapi dengan kamera video miliknya.

Beberapa menit kemudian, gambar yang sangat “berbicara banyak” itu sudah dapat diklik dan diambil (download) saluran televisi BBC untuk segera disiarkan. Dalam First Draft, Porter menulis: “Terorisme membuat Stacey menjadi korban, teknologi membuatnya menjadi reporter! “

Dari kejadian itu, Jarvis yang mem-posting-kan gambar karya Stacey menyadari saat peristiwa penting terjadi, saksi mata yang berbekal alat komunikasi sekaligus perekam gambar bisa langsung menyiarkan peristiwa itu dalam beberapa menit setelah kejadian. “Berita yang dibuatwartawan tidaklah seperti itu. Tetapi
kini, cara itu (warga menyiarkan berita) sudah menjadi kenyataan,” katanya.

Lalu, di mana peran wartawan dot.com, radio, televisi, atau wartawan harian yang katanya profesional itu? Cukup menampar wajah para jurnalis sebab kecepatan menyiarkan peristiwa tidak lagi monopoli wartawan profesional, tetapi diambil alih warga biasa. Warga yang menjadi wartawan!

Peristiwa bom London bukanlah yang pertama di mana warga biasa atau saksi mata menjadi mata kamera pertama sebelum sebuah peristiwa diliput wartawan sungguhan.

Tahun 1991, saat George Holliday, warga perumahan Lake View Terrace tengah mencoba handycam barunya, matanya tertumbuk pada satu adegan. Empat polisi kulit putih Los Angeles tertangkap kamera menyiksa seorang pengendara sepeda motor kulit hitam. Polisi menganggap korban, yang kemudian diketahui bernama Rodney G King itu, memacu kendaraannya di luar ketentuan.

Bukannya diproses atau diingatkan, polantas itu malah menyiksa King sampai babak belur dan pingsan. Holliday merekam peristiwa berdurasi 81 detik itu dengan geram. Tidak sampai hitungan jam, Holliday mengirim “gambar hangat” itu ke sejumlah saluran televisi nasional. Televisi menyiarkannya berulang-ulang dan warga Amerika pun murka.

Majalah Time menulis peristiwa itu dengan judul America’s Ugliest Home Video, pelesetan dari America’s Funniest Home Video, salah satu program televisi yang merekam kejadian-kejadian lucu yang saat itu sedang digemari. Kerusuhan berbau SARA pun pecah, merenggut korban puluhan nyawa, justru ketika pengadilan membebaskan keempat polisi yang menganiaya King tadi.

Di Indonesia, terjangan tsunami Aceh direkam oleh seorang penduduk menggunakan kamera genggam. Stasiun televisi swasta, Metro TV, “menjual” peristiwa aktual dan penting itu dengan menayangkannya
berulang-ulang. Saat pesawat Lion Air tergelincir di Bandara Juanda, Surabaya, 4 Maret 2006, Kompas memuat foto utama yang dibuat seorang penumpangnya, Sidik Nurbudi. Ia memotret penumpang lainnya yang berhamburan panik ke luar pesawat. Bandara yang dijaga ketat aparat keamanan mustahil dapat diakses warga sipil, termasuk wartawan.

Sejauh mana kiprah warga yang kebetulan menjadi saksi mata mengancam eksistensi wartawan dengan foto atau gambar bergerak yang disiarkan lewat situs-situs pribadi? Akankah fenomena ini mengganggu
kredibilitas wartawan profesional? Bagaimana media massa mengantisipasi serbuan para blogger yang kenyataannya lebih dahulu menyiarkan berita dibandingkan dengan media massa konvensional?

Itulah pertanyaan yang tidak hanya menjadi pemikiran para pakar komunikasi, tetapi juga orang-orang media massa. Dan Gillmor yang menulis buku We the Media: Grassroots Journalism by the People for
the People (2006) juga mengingatkan para pemilik media massa akan kehadiran teknologi internet yang memungkinkan orang membuat situs pribadi atau mailing list untuk menyiarkan berita cepat.

Abad 21 ini, katanya, akan menjadi tantangan berat bagi media massa konvensional atas lahirnya jurnalisme baru yang sangat berbeda dengan jurnalisme terdahulu. Dalam citizen journalism, siapa pun dapat membuat, menyebarkan, bahkan menjadi narasumber, sekaligus mengonsumsi berita dalam format tulisan, foto, suara, maupun gambar bergerak.

Syarat demokrasi

Gillmor, mantan kolumnis teknologi di San Jose Mercury News, mempromosikan jurnalisme warga ini dalam blog pribadinya, Bayosphere, sampai dia menulis bukunya itu. Shayne Bowman dan ChrisWillis dalam laporannya We Media: How Audiences are Shaping the Future of News and Information mengatakan,
partisipasi warga dalam menulis dan menyiarkan informasi independen, akurat, tersebar luas, dan relevan adalah syarat-syarat bagi demokrasi. Citizen journalism adalah media untuk memberdayakan kelompok kecil warga yang terpinggirkan dari kelompok masyarakat lainnya.

Warga yang sekaligus reporter, misalnya, akan efektif menyiarkan berita yang tidak tergarap media massa konvensional, seperti radio/televisi lokal, tentang isu yang “tidak seksi”, seperti rendahnya pendapatan wanita pekerja, kelompok minoritas, bahkan kelompok anak muda. Karena tidak memiliki akses terhadap media inilah, warga lebih bersandar pada informasi yang diperlukan kelompoknya.

Namun, pakar komunikasi Universitas Indonesia, Dedy Nur Hidayat, Sabtu (22/4), menyebutkan, blog atau mailing list hanya efektif di lingkungan terbatas. Masalah kredibilitas dari para blogger juga patut dipertanyakan sehingga untuk informasi penting yang dapat dipertanggungjawabkan orang tetap mengandalkan media massa konvensional.

Jangan lupa, tanpa pelatihan jurnalistik pun orang yang berdiri di pinggir jalan dengan handycam, telepon berkamera, atau kamera digital di tangan dapat merekam dan menyiarkan peristiwa yang dialami atau dilihatnya lewat blog. Dalam kasus bom London, terbukti reporter media massa profesional kalah cepat dibandingkan dengan warga biasa.

MENGHALAU MITOS LAMA

ILHAM untuk menulis artikel atau analisa bisa datang setelah kita mengamati, bercakap-cakap dengan teman, membaca, atau mengikuti perkembangan zaman bidang khusus, misalnya jurnalistik. Akan tetapi kesan mendalam tentang seseorang, ikatan batin dengan kota dimana kita tinggal atau singgahi, berikut dengan keunikan penduduknya, bisa juga menghasilkan ilham tulisan.

Ikatan batin saya dengan Kota Makassar yang begitu kuat, membuat saya mencermati dan harus selalu dekat dengan kota ini. Kehadiran koran maya “Panyingkul” dari netizen atau citizen journalism Makassar, termasuk perhatian saya yang kemudian saya tulis dan dimuat Kompas edisi, Rabu 16 Agustus 2006, halaman 48.

Ada beberapa penulis cerita pendek atau novel, atau bentuk fiksi lainnya, yang “terpaksa” mendaki gunung atau menyeberang lautan hanya untuk menyepi mencari ilham. Konon ilham menulis akan datang saat kita menyendiri, saat kita menyepi sambil menyeruput kopi. Tetapi mungkin itu berlaku dalam dunia menulis fiksi.

Menyepi dan menyendiri itu diyakini sebagai “cara lama” dalam menghadirkan ilham. Padahal untuk masa sekarang, itu tidak diperlukan lagi dan tidak banyak menolong. Sekarang ilham bisa didapat dengan cara membaca banyak buku berkualitas, berdiskusi dengan teman, menghadiri seminar dan kuliah umum, travel atau bepergian di alam terbuka, menonton film atau mendengar radio, bahkan sekadar window shopping.

Ilham bisa datang dengan sendirinya asalkan kepekaan kita menangkap suatu masalah terus terasah.Penulis yang jempolan juga harus bisa menulis dalam berbagai medan, termasuk dalam keadaan ramai dan bising sekalipun. Jadi, sepi, hening dan harus menyendiri itu adalah mitos lama. Sekarang menulis bisa lebih enjoy, dan itu bisa kita lakukan di tengah keramaian, di cafe, di tengah gangguan anak kita yang lucu-lucu, atau “gangguan” pacar” yang terus merajuk dan gelendotan. Menulis, jalan terus…

Sahabat dapat mengikuti tulisan saya tentang “Panyingkul” di bawah ini. Datangnya ilham untuk tulisan ini bukan karena adanya “gangguan” pacar yang merajuk atau gelendotan, tetapi setelah saya bercakap-cakap dengan komunitas teman-teman Makassar di Warung Kopi Phoenam di Jalan Wahid Hasyim Jakarta. Kebetulan belum lama muncul “Panyingkul”, situs bernuansa Makassar, yang menjadi topik hangat pembicaraan kala itu.

Panyingkul: Di Simpang Jalan?
PEPIH NUGRAHA

Dalam bahasa Makassar, panyingkul berarti sebuah titik yang merupakan hasil persilangan dua jalan. Ia merupakan penanda sebuah persilangan atau perempatan dari empat arah mata angin.
Akan tetapi, dalam dunia maya, Panyingkul berarti sebuah pewarta warga (citizen journalism) yang sejatinya hadir sebagai pelepas dahaga warga Makassar, khususnya warga di perantauan, akan sebuah warta “tanai air” mereka.

Diluncurkan di Hotel Quality yang menghadap Pantai Losari, 1 Juli 2006, sampai 1,5 bulan usianya Panyingkul baru dikunjungi 389 netter, sebuah kunjungan yang boleh dibilang sepi untuk sebuah koran maya yang memproklamirkan diri sebagai citizen journalism. Bandingkan dengan blog pribadi yang bisa dikunjungi ratusan tamu setiap harinya. Apalagi bila dibandingkan blog milik foto model Indonesia yang pernah berpose tanpa busana di majalah Playboy edisi asli, yang dikunjungi ribuan tamu per harinya.

So, ada apa dengan Panyingkul? Tidak cukupkah peluncurannya sebagai penanda kelahirannya dilakukan di sebuah hotel yang cukup ternama di Kota Anging Mamiri? Mengapa hanya segelintir saja warga Makassar, atau mereka yang terikat batin dengan kota ini, yang mampir di Panyingkul? Apakah Panyingkul itu penanda sebuah persilangan atau justru ia sedang berada di persimpangan jalan itu sendiri?

Sejumlah wartawan Makassar saat berkumpul beberapa waktu lalu di Warung Kopi Phoenam Jakarta mengkritik, sajian berita Panyingkul terlalu kaku dan formal karena menggunakan bahasa tinggi jurnalisme sehingga tidak mencerminkan lagi berita itu ditulis oleh warga biasa. Padahal, salah satu kalimat yang keluar saat peluncuran dan juga yang selalu tertera dalam situsnya selalu dikatakan, “Mari merayakan jurnalisme orang biasa”!

“Terlalu bakunya bahasa jurnalistik yang dipergunakan membuat bahasa Panyingkul seperti layaknya bahasa jurnalistik umum yang ditulis wartawan profesional sebuah koran konvensional. Mungkin karena pendirinya ingin koran maya itu tampil perfect,” kata Arsyad, wartawan Fajar, sebuah harian yang terbit di Makassar.
Yusran, wartawan Tribun Timur, harian yang juga terbit di Makassar, tidak lupa mengkritik tampilan Panyingkul yang sejak kelahirannya tidak pernah ada tambahan posting baru atau berita-berita baru yang dikirim para pewarta warganya. “Isinya itu-itu saja, tidak berubah, sehingga pengunjung tidak mendapatkan hal baru. Terlalu lama kami menunggu,” katanya.

Harus diakui, informasi Panyingkul sejak awal kelahirannya masih berita yang itu-itu saja, tidak lebih dari tujuh cerita seputar Lapangan Karebosi, sebuah kawasan yang menjadi ikon Kota Makassar. Namun, harus diakui pula bahasa yang ditampilkan dengan gaya bercerita itu cukup memikat sehingga terkesan justru tidak ditulis oleh warga biasa.

“Kami mengadakan kelas online tentang jurnalistik, reportasi dan penulisan feature ber-genre narrative journalism, sebuah gaya penulisan yang sulit dikembangkan dengan baik media lokal yang penuh ’statement atau straight news’. Tentu kami ingin hadir tidak ingin menjadi pesaing media mainstream, tetapi justru ingin menjadi bagian dari ekosistem media,” kata Lily Yulianti Farid, pendiri Panyingkul, dalam surat elektronik yang kami terima beberapa waktu lalu.

Sedangkan mengenai seretnya tambahan informasi di Panyingkul, Lily yang mantan wartawan sebuah media mainstream itu mengatakan, “Kami menyiasati akses internet yang masih terbatas dan rendahnya minat menulis masyarakat di Makassar. Kami memang menargetkan terbit bulanan di tahun pertama dengan mengedepankan featured-news style tentang Makassar.”

Laporan dan tulisan untuk Panyingkul edisi perdana disiapkan oleh peserta “Pelatihan Jurnalisme Orang Biasa” angkatan pertama, yang dilakukan beberapa bulan sebelum peluncurannya. Mereka yang menjadi pewarta warga terdidik ini ialah Aan Mansyur, Nilam Indahsari, Nurhady Sirimorok, Mansyur Rahim, Irayani Queencyputri, dan Rahmat Hidayat. Sedangkan proses editorial dikerjakan oleh The Private Editors dan Dekat Rumah Project.

Salah satu tulisan Panyingkul berjudul Karebosi dan Cinta Seorang Pebasket yang ditulis Nurhady Sirimorok, misalnya, menampilkan profil mantan pebasket lokal. Mukhtar, pemuda berusia 31 tahun, kini tidak lagi menjadi tulang punggung tim basket Sulawesi Selatan, tetapi menjadi medical representative. “Tugas saya membawa brosur produk, menjelaskan keunggulan obat-obatan yang diproduksi perusahaan kami kepada para dokter dan klinik. Jadi, jangan bayangkan saya berkeliling menjajakan obat,” kata Mukhtar, sebagaimana ditulis Nurhady.

Diceritakan pula, sudah dua tahun Mukhtar menjalani profesi barunya itu. Dengan mengendarai sepeda motor, ia mendatangi klinik dan para dokter di Kota Makassar. Sumber nafkah utamanya adalah dari profesinya ini, sementara waktu di luar kesibukannya bekerja mempromosikan obat dicurahkan untuk melatih bola basket dua kali seminggu di sebuah SMP swasta yang terletak tidak jauh dari Karebosi, serta ikut menjadi wasit dalam pertandingan. “Pekerjaan yang pertama adalah demi uang, sementara pekerjaan kedua adalah demi panggilan hati dan kecintaan pada olahraga bola basket,” demikian Panyingkul menulis.

Penyampaiannya menggunakan gaya bercerita yang memikat, lepas dari ikatan rumus lawas jurnalistik “5W+1H” dari Rudyard Kipling, yakni what, when, who, where, why, dan how. Bayangkan saja seorang warga yang bercerita tentang seseorang, yang tidak harus diinterupsi dengan pertanyaan. Tulisan ini mendapat tanggapan dari seorang pengunjung, Nesia Andriana, yang menilai tulisan ini bagus. “Karena mengangkat apa yang tidak dilirik media massa mainstream,” komentarnya.

Panyingkul sendiri, sebagaimana tertulis dalam pengantar edisi pertamanya, bertekad ingin mendekati peristiwa yang juga didekati media mainstream, tetapi dengan sudut pandang orang biasa. Ia berada di tepi jalan ketika arak-arakan demonstrasi buruh lewat. Pada saat yang lain, ia berada di tengah-tengah buruh itu sendiri.

Ia, katanya, bisa tiba-tiba berada di rumah wali kota atau gubernur, kemudian juga hadir di kamar para pegawai rendah. Ia mengembangkan gairah bercerita, bukan sekadar melaporkan peristiwa. Ia, antara lain, membagi kesan mendalam tentang kemiskinan dan bukan sekadar mengabarkan berapa jumlah orang yang dikategorikan miskin di suatu tempat di suatu masa.

“Berangkat dari gairah bercerita inilah, kami tidak mengembangkan jurnalisme yang angkuh dan tentu tak pernah berangan-angan untuk menjadi bagian dari elitisme media mainstream. Jurnalisme kami adalah berbagi dengan segenap inisiatif dan gairah. Berbagi kabar, juga impresi, bahkan emosi yang menyertainya, seperti dalam kehidupan sehari-hari kala kita saling bertukar cerita,” demikian tekad Panyingkul.

Pendirinya, Lily, kini bekerja sebagai spesialis bahasa untuk NHK dan tinggal di Tokyo. Ia kini menjadi salah satu warga biasa penyumbang tetap blog ternama di Korea Selatan, Ohmynews International yang didirikan Oh Yeong Ho. Lily bergabung sejak Oktober tahun 2005 dan kini sudah masuk satu dari 20 penulis pilihan yang memiliki kolom yang harus diisi minimal tiga kali sebulan.

Dalam kata pengantar Panyingkul yang disebut Kitakita itu juga disebutkan, semangat yang diusung koran tanpa kertas beralamat di www.panyingkul.com ini adalah menjadi bagian dari ekosistem media secara keseluruhan dan selalu berharap terjadinya dialog dinamis dengan melibatkan masyarakat biasa dalam proses lahirnya sebuah berita. Persoalannya, mengapa Panyingkul masih sepi dari pengunjung?

Rusman Madjulekka, mantan wartawan dan kini bekerja sebagai penerbit rumahan, mengusulkan, sebaiknya Panyingkul tidak usah terlalu diformalkan dengan gaya bahasa baku yang sudah pasti terkesan kaku.
“Biarkanlah warga biasa yang melaporkan berita mereka, bukan warga yang sudah dilatih secara khusus. Pelatihan akan menciptakan keseragaman, padahal yang kita inginkan adalah keberagaman. Kalau Panyingkul mengubah paradigma ini, saya mau kembali berkunjung ke Panyingkul dan bahkan dengan sukarela akan mengajak warga mengirimkan beritanya,” papar Rusman. ***

MENULIS PERLU CANTELAN

Menulis perlu cantelan. Menulis apapun, baik menulis catatan harian ataupun catatan resmi, apalagi menulis berita. Menulis tentang sejarah suatu benda pasti membosankan kalau tidak ada cantelan. Cobalah menulis tentang lumpur, misalnya, kalau tidak ada cantelan dengan peristiwa semburan lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur, pasti akan garing. Atau sebaliknya menulis tentang Sidoarjo kalau tidak ada cantelan peristiwa semburan lumpur, juga tidak akan menarik. Cantelan juga membantu menyambungkan ingatan seseorang atas sebuah peristiwa yang pernah didengar atau bahkan dialaminya.

Semua berita dan tulisan di koran pasti ada cantelannya, ada kaitannya dengan peristiwa lainnya. Kalau kita tiba-tiba menulis tentang sosok mantan PM Thailand Thaksin Sinawatra yang kini menjadi gelandangan politik di luar negeri, misalnya, pasti tidak akan menarik kalau tidak ada peristiwa cantelan, yakni kudeta tentara pimpinan Jenderal Sonthi Boonyaratkalin. Menulis sosok Dan Brown pasti membuat orang bertanya “siapakah orang ini?” kalau bukunya “Da Vinci Code” tidak meledak. Buku yang ia tulis adalah cantelan, pintu masuk ke tulisan sosok Dan Brown. Banyak lagi contoh lainnya, yang tidak bisa dipaparkan satu persatu. Silakan sahabat gali sendiri…

Demikian juga saat saya menulis tentang blog atau weblog. Apa menariknya menulis tentang blog? Jelas akan garing, sebab kalau itu dipaksakan apa yang kita tulis tidak lebih dari tulisan ensiklopedis semata. Ibaranya membuka ensiklopedi dan menelusur entri “blog”, maka di sana tertulis A to Z atau ABC-nya blog. Ingin saya katakan, dalam menulis wartawan harus memiliki kepekaan akan cantelan ini, akan keterkaitan dengan peristiwa lainnya.

Saya menulis tentang blog dengan cantelan kepergian Bunda Inong. Sahabat blogger pasti tahu siapa Bunda Inong. Dia seorang ibu muda yang meninggal di Singapura karena asma akut, meninggalkan suami dan dua putera-putrinya, juga meninggalkan “rumah duka” berupa tiga blog miliknya. Nah, saya cantelkan peristiwa kepergian Bunda Inong, sekalian untuk mengenangnya (obituari), dengan tulisan tentang “sejarah blog”. Pembaca saya giring kepada sebuah peristiwa, yang dalam hal ini maaf, peristiwa menyedihkan (dolorosa), untuk kemudian masuk ke dunia blog.

Dengan segala hormat kepada mereka yang ditinggalkan Bunda Inong, saya meminta maaf atas “kelancangan” menulis obituarinya di harian tempat saya bekerja. Semoga yang ditinggalkan diberi ketabahan selalu, dan contoh “keriangan dan keikhlasan” Bunda Inong seperti yang tercermin dalam ketiga blognya, menjadi inspirasi kita semua.

Saya meramu tulisan blog dengan cantelan kepergian Inong sebagai berikut:

Dunia Maya
KEMATIAN “BLOGGER”
Oleh Pepih Nugraha

Tidak ada kematian paling ditangisi banyak orang selain dalam dunia blogger. Hingga empat pekan kepergiannya ke alam baqa 1 September lalu, Anna Sitti Herdiyanti, biasa dipanggil Inong atau Bunda dalam dunia blog, masih disapa ratusan orang yang “melayat” ke “rumah duka” miliknya, sebuah blog beralamat di http://www.zidansyifa.blogspot.com. Paling tidak sampai saat tulisan ini diselesaikan, Rabu (27/9).

Shout box yang menjadi salah satu pelengkap blog, sarana orang bisa langsung menyapa ke alamat dituju untuk mengucapkan duka, tercatat sudah 3.092. Posting terakhirnya berjudul “Ibu Peri Datang”
dikomentari 142 blogger, belum lagi puluhan obituari untuk mengenang Inong. Ibu muda dua anak, Zidan dan Syifa, ini sedang mengembara di Singapura saat Sang Khalik memanggilnya karena sakit asma akut.

“Sedih banget rasanya tiap mampir ke sini, seperti bertamu ke rumah tanpa penghuni,” tulis Lia dalam shout box Inong, 18 September lalu. Pada hari yang sama Nyam menulis, “Rasanya seperti masuk ke rumah kosong.” Bunda Almar menulis, “Meski tak pernah bersua, setiap kali datang ke sini selalu saja air mata ini tak tertahan untuk turun. Sedangkan kami yang sama sekali tidak mengenal Inong menorehkan obituari di http://www.pepihnugraha.blogspot.com.”

Entah berapa ribu lagi pelayat yang akan mampir ke rumah dukanya, baik rumah duka virtual dalam bentuk blog yang beralamat di atas atau dua rumah duka lainnya yang ia gunakan, masing-masing untuk berbagi resep masakan dan rumah di mana ia biasa menulis puisi. Blog tempat ia berbagi resep sampai kini sudah dikunjungi 278.498 pengunjung!

Kini para blogger yang bersimpati berencana menerbitkan resep masakan dan puisi-puisi Inong! Meski tidak saling mengenal, solidaritas begitu spontan dalam dunia blogger. Bahkan, sejumlah blogger menghimpun dana sebagai tanda duka.

Ketiga blog milik Inong kini sepi tak berpenghuni. Ibarat rumah yang dibiarkan tidak terkunci, tanpa ada posting baru, dan membiarkan semua orang masuk melayat, menyampaikan kerinduan, atau sekadar
berteriak kangen, “Bundaaaa..”

Kekuatan media

Kehadiran blog atau weblog adalah isyarat lahirnya sebuah kekuatan baru media. Technorati, lembaga penelusur blog, mendapati kenyataan jumlah blog bertambah dua kali lipat setiap bulannya. Blog kini 30 kali lebih banyak dari tiga tahun lalu. Setiap hari tercipta 70.000 blog baru di seluruh dunia. Sampai Oktober 2005 Technorati, sebagaimana dikemukakan Shayne Bowman dan Chris Willis dalam Jurnal Nieman Harvard University, mencatat hadirnya 20,1 juta blog.

“Sejumlah laporan memperkirakan, kini telah tercatat 50 hingga 100 juta blog di seluruh dunia. Sepuluh persen pengguna internet membaca blog sekali atau lebih dalam seminggu,” tulis Bowman dan Willis mengutip hasil survei Forester Research.

Memang belum ada penelitian berapa pengguna atau pemilik blog di Indonesia, tetapi seiring banyaknya penyedia gratis untuk membuat blog seperti Blogspot atau Blogdrive, diperkirakan pengguna blog negeri ini membengkak dari hari ke hari.

Apa yang bisa ditangkap media massa mainstream menghadapi kelahiran blog dan masifnya penggunaan internet di seluruh dunia? Membiarkan blog sebagai sesuatu yang tidak patut dirisaukan karena tidak pernah berujud secara fisik? Atau sebaliknya, berdamai dengan blog dengan mengadopsi sejumlah kekuatan yang dimilikinya?

Gaya hidup

Blog awalnya lahir sebagai sebuah gaya hidup masyarakat urban yang melek internet. Tetapi sekarang, anak-anak muda, eksekutif, sudah tersambung ke internet memiliki blog.

Survei kecil-kecilan yang kami lakukan di beberapa tempat di Jakarta dan Bandung menunjukkan, sebagian besar pengguna internet di sejumlah warung internet kini membuka blog miliknya atau melakukan blogwalking, jalan-jalan ke blog temannya, daripada melakukan chatting. Penyedia blog gratis seperti Friendster dan Blogspot menjadi rujukan terfavorit.

Padahal, masuk ke dalam kategori personal media di dunia maya selain blog adalah video blog (vlog), foto blog (photoblog), dan audio blog (podcast). Orang bisa meng-up load (memuat) video, foto, maupun musik di blog masing-masing.

Inilah realitas media internet, lengkap dengan serbuan variannya, mulai blog, jurnalisme warga (netizen), online berita, sampai metamorfosis sebuah koran menjadi koran online. Padahal, blog mulanya diciptakan sebagai catatan harian elektronik. Sebelum blog lahir, cikal bakalnya antara lain e-mail, mailing list, usenet, dan bulletin board system.

Justin Hall, pemuda kelahiran 16 Desember 1974 yang juga seorang wartawan freelance, dianggap sebagai blogger pertama karena menulis catatan hariannya di internet tahun 1994.

Istilah weblog diperkenalkan Jorn Barger pada 17 Desember 1997, sementara kependekannya, blog, diciptakan Peter Merholz dua tahun kemudian. Pemilik blog disebut blogger. Xanga, penyedia blog, yang
diluncurkan tahun 1996 semula hanya memiliki 100 catatan harian pada tahun 1997. Akan tetapi, sampai Desember 2005 Xanga sudah meluncurkan 50 juta blog.

Tahun 1998 muncul Open Diary dan setahun kemudian Brad Fitzpatrick meluncurkan LiveJournal. Masih di tahun yang sama muncul Pitas.com dan Diaryland, juga Evan William dan Meg Maurihan yang meluncurkan Blogger.com, yang kemudian dibeli Google tahun 2003.

Pemilik blog bisa saling tersambung satu sama lain berkat hadirnya permalinks, blogrolls, dan TrackBacks, yang bersama mesin pencari atau pelacak jejak blog memungkinkan para blogger tersambung sesuai minat masing-masing.

Dulu, media massa hanya dimiliki orang berpunya, tetapi sekarang setiap warga bisa memiliki medianya (blog) sendiri-sendiri. Anggota warga dunia tanpa mengenal sekat-sekat negara bisa tersambung satu
sama lain sehingga menciptakan komunitas yang sedemikian besar.

Kematian Inong yang mengharu biru di dunia blog hanyalah salah satu contoh kecil. ***

 

DENGAR, DENGARKAN SAJA MEREKA

Larry King, pewawancara terkemuka dengan pertanyaan paling tajam di dunia yang bekerja di jaringan televisi CNN pernah menyatakan, untuk menjadi pembicara atau penanya yang baik (wartawan), pertama-tama yang harus dilakukan adalah menjadi pendengar yang baik. Bagi King, mendengar jauh lebih sulit karena memerlukan energi ekstra, setidak-tidaknya kerja otak yang jauh lebih keras ketimbang berbicara.

Karena sifatnya yang jurnalis media massa tulis, saya kerap mempraktikkan petuah jitu ini dalam setiap kesempatan peliputan, khususnya liputan lapangan saat bertemu dengan orang-orang (people) ternama. Lain barangkali kalau saya jurnalis elektronik atau penyiar yang harus terus ngoceh daripada mendengarkan. Kalau tidak begitu nyerocos, bisa-bisa dikira pandir karena dianggap tidak menguasai masalah.

Sayangnya, tidak sedikit jurnalis maupun penulis (yang melakukan wawancara untuk penulisan buku) kurang menyadari pentingnya mendengar narasumber. Ia lebih dominan bertanya dan menguasai percakapan, padahal fungsi pewawancara dalam kegiatan jurnalistik maupun penulisan adalah membiarkan narasumber berbicara selugas-lugasnya dan apa adanya. Biarkan mereka bicara!

Dalam kesempatan ini saya mau berbagi pengalaman menulis kisah pendek artis yang saya temui sambil lalu atau tidak sengaja (by accident) . Mengapa artis, sebab mereka ini masuk dalam kategoriprominent people alias orang ternama. Bolehlah mengambil bahasa Perancis, celebre, atau bahasa Belanda, bekend, yang sama-sama berarti kondang atau terkenal. Masuk ke dalam kategori ini antara lain politisi, da’i, tokoh masyarakat, tokoh agama, pengusaha, atlet, bahkan penyiar atau wartawan ternama.

Namun, saat bertemu prominent people, sering wartawan yang sudah pengalaman pun kadang kurang pede alias kurang percaya percaya diri. Nah jika kurang percaya diri untuk bicara, maka sebaiknya dengarkan saja ia bicara. Tetapi tentu perlu keberanian jurnalis untuk memulai percakapan. Kalau kita tahu artis itu bermain bagus dalam sebuah film, mulailah membuka “basa-basi” tentang film. Percaya deh, ia pasti menyambut. Tetapi kalau malu atau ragu, perkenalkan diri saja bahwa saya wartawan a, b, c, dan seterusnya.

Menulis prominent people bukanlah monopoli jurnalis yang biasa meliput artis. Jurnalis apapun bisa, bahkan kita, para blogger pun bisa. Janganlah karena kita wartawan politik, misalnya, maka tidak ada “kewajiban” menulis artis. Ini anggapan yang keliru. Sepanjang menjadi wartawan Kompas, saya belum pernah sekalipun ditempatkan di desk budaya atau desk minggu yang harus bersinggungan dengan artis. Tetapi untuk menulis artis, mengapa tidak? Saya lakukan juga sepanjang ada rubrik yang disediakan untuknya. Masak hanya karena kita wartawan politik yang biasa meliput kegiatan presiden di istana, kita lewatkan begitu saja pembunuhan sadis yang menewaskan tiga anggota keluarga di lingkungan kita? Tidak demikian, bukan?

Saya menulis sejumlah artis beken (menurut pandangan saya) secara tidak sengaja dalam perjalanan atau bertemu di jalan. Boleh dibilang berita jenis god given facts alias berita yang turun dari langit. Berita jenis ini ternyata tidak melulu kejadian bencana alam atau kecelakaan dahsyat, tetapi juga anugrah bertemu artis dan orang ternama lainnya. Saya ambilkan saja tiga contoh tulisan di rubrik Nama & Peristiwa di Harian Kompas yang ketiga-tiganya bercerita tentang artis.

Perlu sahabat ketahui, meski tulisan dalam rubrik ini kecil saja dan harus disertai foto terbaru, ini rubrik yang paling ekslusif karena tidak bisa sembarangan orang bisa menjadi cerita di sini, kecuali orang yang dianggap celebre itu tadi.

Pertama, Utha Likumahuwa. Dia penyanyi Ambon yang atraktif di panggung. Saya bertemu dengannya secara tidak sengaja, Sabtu, 4 November 2006 di sebuah Toko Sepeda di kawasan bisnis Bintaro Jaya, saat saya membelikan sepeda untuk Zhaffran, anak saya. Terus terang saja, saya tidak mengira kalau orang yang saya sapa dan ajak bicara soal sepeda itu adalah Utha. Saya sudah tidak mengenalinya lagi sebab kepalanya plontos. Pada saat dia menjauh, saya tanya pelayan toko sepeda. “Itu Pak Utha Likumahuwa, ia langganan sepeda di sini,” jawab si pelayan ketika saya bertanya. Astagfirullah, terasalah bahwa saya kurang cermat!

Saya kembali menemui Utha dan meminta maaf kalau saya tidak mengenalnya lagi. Di luar dugaan, Utha orangnya baik dan tidak mudah tersinggung hanya karena dia sudah tidak dikenali lagi. Lantas darimana saya harus memulai menulis sosok ringkasnya? Tidak jauh-jauh dari dunianya (menyanyi) dan apa yang sedang dilakukannya sekarang (bersepeda gunung). Jadilah sebuah tulisan yang dimuatKompas, Selasa, 7 November halaman 16.

SEPEDA GUNUNG UTHA

Lama tidak terdengar, penyanyi Utha Likumahuwa (53) kelihatan asyik di sebuah toko khusus sepeda di sebuah kawasan perumahan di Jakarta Selatan akhir pekan lalu. Lengkap dengan kostum bersepedanya, ia tengah membetulkan sepeda gunungnya.

Sudah pensiun menyanyi? “Tidak juga, selalu ada job kecil-kecilan, tetapi memang tidak seramai dulu,” kata pelantun tembang Puncak Asmara ini. Adakah kaitan antara bersepeda dan menyanyi? Dengan bersepeda, katanya, ia bisa mengatur napas panjang saat menyanyi. “Sehari minimal saya tempuh jarak sepuluh kilometer. Kalau disuruh menyanyi dua jam atau push up, saya masih sanggup. Ini berkat bersepeda,” katanya serius.

Ketika kegiatan menyanyi boleh dibilang setengah vakum, tawaran berusaha pun datang dari salah satu rekannya yang kebetulan pebisnis. Toh, penghasil album Koleksi Klasik (2003) ini saat ini lebih suka disebut “penganggur” saja dan tidak mau menyebut rencana usahanya.

Tidak berhasrat come back ke dunia rekaman atau beraksi di layar kaca dengan kepala plontosnya? Ia tercenung sejenak, sebelum bilang, “Mudah-mudahan orang masih mengenal saya.”(PEP)

Kedua, Rachel Maryam Sayidina. Ia artis film mungil yang cantik. Saya satu acara yang sama di Timika, Papua Barat, untuk meliput pemancangan stasiun base receiver sebuah operator ponsel dimana Rachel diundang sebagai MC (Master of Ceremony), sedang artis penyanyi lainnya yang meraimaikan acara adalah Fatur. Saya duduk berdampingan dengannya; Rachel di window (jendela) sementara saya di aisle (lorong).

Kami semula tidak saling bercakap-cakap, tetapi percakapan mulai menghangat justru saat pesawat hendak mendarat, saat “kejadian mengerikan” itu tiba. Kemudian saya mendengar unek-unek Rachel tentang kejadian yang membuatnya ketakutan itu. Mengapa saya menulis Rachel? Mengapa saya tidak menulis penyanyi Fatur yang juga satu rombongan dengan kami di Timika? Saya putuskan menulis dua-duanya, tetapi beat atau tekanan tentu saja pada Rachel. Hasilnya? Sebuah berita “ketakutan” Rachel dimuat Kompas, 26 Agustus 2003 halaman 12.

NAMA DAN PERISTIWA

Aktris Rachel Maryam Sayidina (23) penakut? Paling tidak, ia takut jatuh dari pesawat terbang. Beberapa detik sebelum pesawat Merpati mendarat di Bandara Hasanuddin, Makassar, Minggu (24/8) pukul 13.15, setelah terbang 2,5 jam dari Timika, Jayapura, pemeran Renata Adhiswara dalam film Andai Ia Tahu itu “terpaksa” merapat ke Kompas yang kebetulan duduk di sebelah kirinya.

“Wah, wah, mengapa kok pesawat oleng begini,” katanya dengan raut wajah yang asli ketakutan. Maksudnya, tidak pura-pura seperti kalau ia berakting. Terang saja dia ketakutan. Penumpang lain pun menyatakan hal yang sama saat pilot terlalu tajam bermanuver meski tidak seheboh Rachel yang sempat dua kali berpegangan erat ke kursi depan akibat guncangan cukup mengagetkan itu.

“Belum pernah saya mengalami kejadian seperti ini,” kata dara kelahiran Bandung, 20 April 1980, ini sambil membuka seat bealt karena harus transit 40 menit di Makassar sebelum melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Selama dua hari Rachel berada di Timika. Ia diminta menjadi MC dalam acara temu pelanggan sebuah perusahaan telekomunikasi untuk telepon seluler.

Keberadaannya sebagai seorang aktris cukup dikenal masyarakat Timika yang sebagian besar pendatang. Ia bermitra dengan penyanyi Fatur, yang juga memeriahkan acara tersebut. “Ada wartawan gosip enggak ya di Timika sini. Saya takut digosipin dan gosipnya sampai di Jakarta. Padahal kita enggak ada apa-apa ya Fatur,” kata pemeran sinetron Strawberry ini.

Fatur malah ngocol. “Ya, kalau mau sama aku, doain aja putus sama pacar saya.” Rachel Maryam keliru, setidaknya ada wartawan yang mendengarnya. (PEP)

Ketiga, Puput Novel. Saya bertemu dengannya dalam pesawat dari Jakarta menuju Pekanbaru. Puput pemalu, tetapi setelah bercerita, ia akan berbicara dengan antusias. Di sini saya membiarkan Puput bicara dan saya mendengarkan. Tulisan itu dimuat Kompas, 4 Juni 1999 halaman 12.

NAMA DAN PERISTIWA

Penyanyi Puput Novel (23) tidak hobi tidur, tetapi kalau ada kesempatan untuk memejamkan mata, kesempatan itu tidak disia-siakan. Ini ia buktikan dalam perjalanan Jakarta-Pekanbaru, Rabu (2/6), yang makan waktu satu jam 20 menit. Dalam kabin pesawat yang dingin itu seluruh waktunya hampir dicurahkan buat tidur. Makanan dan teh yang dari pramugari bahkan tidak mengusiknya.

“Saya ngantuk berat Mas, kurang tidur,” aku mahasiswa jurusan Bahasa Inggris tingkat akhir ini. Begadang sampai larut malam? Usut punya usut, ternyata pemilik rambut panjang tergerai ini punya sisa pekerjaan yang mesti diselesaikan, yaitu merampungkan jingle sebuah sinetron garapan Starvision. Meski sudah berusaha merampungkannya sampai pukul dua dini hari, tetap saja belum tuntas. Judul sinetron? “Saya lupa, tetapi musiknya digarap Mas Dwiki (Dharmawan). Sebentar lagi siap tayang,” katanya.

Lalu mengapa dibela-belain terbang ke negeri Lancang Kuning meski pekerjaan di Jakarta sedang menumpuk? Apakah karena telanjur simpati pada partai politik yang mengundangnya berdendang di sela-sela kampanye partai? Puput yang dulu beken sebagai penyanyi anak-anak mengaku, sudah terikat kontrak dengan partai yang bersangkutan. Tidak takut diserang massa? “Ada juga sih, tetapi saya percaya diri sajalah,” ujarnya. Iyalah. (PEP)

BELAJAR BERKOMENTAR

MEMBERI komentar atas sebuah artikel yang ditulis para penulis Kompasiana, bukan persoalan ringan. Mengapa saya katakan demikian, sebab selain berurusan dengan proses bertanya pada diri sendiri, memberi komentar atas sebuah tulisan berarti terlibat dalam proses berwacana itu sendiri. Jika diibaratkan sebagai sebuah simposium atau seminar, mengacungkan tangan untuk berkomentar akan menjadi lebih berarti dan bernilai dibanding hanya menjadi pendengar pasif. Demikian juga jika Anda berinteraksi di Kompasiana. Menyampaikan komentar bisa berarti menunjukkan keberadaan (baca: keakuan) Anda dan ini jauh lebih bernilai. Sejelek apapun, komentar pastilah dihargai!

Bercermin pada Kompasiana, saya sering menemukan komentar yang sangat berbobot, cukup panjang dan komprehensif. Ia tidak sekedar berkomentar, tetapi juga berusaha melengkapi sebuah tulisan, bahkan melengkapinya dari sudut pandang lain, sudut pandang si pemberi komentar yang luput dari perhatian atau bahasan penulisnya sendiri. Maka, tidak jarang saya mengangkat komentar yang bernas menjadi tulisan tersendiri di rubrik yang saya namakan sendiri “Gelar Komentar”. Ini semacam penghargaan dan peng-AKU-an bagi si pemberi komentar yang mampu melengkapi atau menambahkan deskripsi dari sudut pandang lain.

Tetapi, tidak jarang pula saya menjumpai komentar yang “asbun” alias asal bunyi. Komentar yang tidak mengupas atau menanggapi isi tulisan, tetapi sekedar TERIAK, sangat personal dan bahkan nggak nyambunjg sama sekali. Sebagai admin, saya masih menolerir misalnya ucapan terima kasih atau rasa senang atas sebuah tulisan. Bagaimanapun, itu sebuah penghargaan bagi penulisnya, meski hanya sepatah dua patah kata. Akan tetapi jika komentar yang diberikan hanya digunakan sebagai ajang untuk saling bersapa antar pemberi komentar tanpa terkait dengan bahasan tulisan, sangat mubadzir kelihatannya dan maaf…. “nggak nyekolah banget”.

Saya bisa maklum, karena rekan-rekan pemberi komentar mungkin berasal dari kultur dunia FORUM yang memang cukup berteriak-teriak saja untuk menunjukkan eksistensinya, bahwa dengan cara begitu keakuannya diakui (bingung ya dengar kalimat “keakuannya diakui”?). Jangan lupa, Kompasiana adalah “Forum” besar dan terhormat!

Bayangkankanlah Anda berada di sebuah ruangan atau lapangan terbuka bernama Kompasiana. Masing-masing orang di ruangan atau lapangan itu diberi kehormatan untuk berbicara di sebuah podium/panggung kehormatan. Anda bicara di sana menyampaikan gagasan baru dan bernas! Anda yang cukup menjadi pendengar saja sudah menjadi kelompok “terhormat” karena menjadi bagian dari panggung besar itu. Apalagi kalau dalam forum, ruangan atau lapangan itu Anda menyampaikan pendapat kepada si pembicara. Anda diberi kehormatan berdiri, diberi “mike”, dan pandangan hadirin pun tertuju kepada Anda.

Jika kemudian kehormatan yang diberikan itu Anda sia-sia dengan hanya berteriak tidak bermutu sama sekali, mengumpat, atau hanya menjelek-jelekkan si pembicara secara personal, alangkah tidak bermutunya! Berbeda kalau dalam kesempatan itu Anda menyampaikan sudut pandang yang sejalan atau berbeda tetapi dengan kemungkinan solusi alternatif lainnya, mungkin sambutan pun akan Anda terima dari hadirin.

Demikianlah saya bicara tentang komentar. Semata-mata untuk perbaikan mutu Kompasiana yang tidak sekadar dari bobot tulisannya, tetapi juga komentarnya. Saya tidak terlalu terkesan dengan rating artikel yang banyak dikomentari orang kalau komentarnya, maaf, asal teriak.

Okay….. jangan takut berkomentar!

BERPIKIR KELAS IBARAT LANGIT DAN COMBERAN

Dunia jurnalistik memang unik. Setidak-tidaknya ini yang pernah saya rasakan. Dulu waktu ditugaskan di Desk Politik, mengharuskan saya bertemu dengan para pejabat, baik zaman Rezim Soeharto, Habibie, Abdurrahman Wahid, sampai Megawati. Mulai sang presiden, para menteri, anggota Dewan, sampai broker-broker politik.

Tentu saja mereka datang dari dunia gemerlap; mobil keluaran baru, pakaian gemerlap, sepatu mengkilat, sampai bau parfum menyengat. Untuk menyentuh mereka, sulit bukan main, sebab para penjaga tubuh (bodyguard) siap mengusir siapapun di kala mendekat, termasuk wartawan. Saya sudah terbiasa dengan suasana menyebalkan seperti ini. Tetapi ini tugas jurnalistik, sudah harus teken kontrak sejak awal: tidak boleh ditolak.

Dalam waktu yang sama, saya juga harus mengunjungi tempat-tempat paling kumuh di seputaran Jakarta, yang mungkin sulit dibayangkan lewat imaji liar sekalipun. Pernah dengar lokalisasi prostitusi “kelas teri” di Bongkaran Tanah Abang? Saya pernah ditugaskan oleh editor ke sana hanya sekadar melihat-lihat keadaan dan menangkap suasana. Juga pernah selama sebulan “ditanam” di kamar mayat RSCM. Semua bagian dari tugas dan panggilan hati.

Mungkin sahabat bertanya, apa menariknya menulis dunia prostitusi yang kotor itu? Juga apa gunanya “menginap” di kamar mayat? Oke, mungkin tidak menarik. Tetapi di sini kita bisa melihat kehidupan yang sesungguhnya. Kita bisa berlajar, bagaimana mereka berjuang untuk hidup dengan mencari penghidupan di sana. Pada akhirnya kita yang bisa berselancar di dunia maya (internet), membaca atau membuat blog, rasanya kita harus lebih banyak bersyukur. Selain kita sudah diberi nikmat kehidupan, perjuangan untuk melanjutkan kehidupan tidaklah seberat mereka.

Tetapi tetaplah saya kadang berpikir “kelas” (mungkin terlalu banyak membaca buku-buku Pramoedya Ananta Toer atau Dominique Lapier), yang gemar mempertentangkan dua kelas kehidupan berbeda: dunia gemerlap (para pejabat) dan dunia muram (prostitusi, penjaga kamar mayat, dan kantong kemiskinan lainnya). Saya selalu menyebut perbedaan itu bukan lagi “bagai langit dan bumi”, tetapi “bagai langit dan comberan”.

Kembali pikiran “kelas” saya tumbuh setelah menyelami kehidupan para pemulung barang-barang bekas di Desa Jombang, Ciputat, Tangerang. Di sana ada “markas” seluas 1.000 meter persegi. Terdapat 25 bedeng tripleks ukuran 2 x 1,5 meter, mungkin lebih luas dari kamar mandi atau WC kita yang nyaman, yang kadang masih enak buat baca-baca sambil buang hajat. Tetapi di sini 20 keluarga hidup pada masing bedeng yang rekat satu sama lain. Tidur tanpa kasur, tanpa lemari pakaian. Saya pernah mengunjungi tempat-tempat pengungsian di Aceh, Poso maupun Ambon, rasanya tempat-tempat mereka jauh lebih baik.

Hal yang membuat pikiran “kelas” saya tumbuh, sebab bedeng-bedeng mereka itu terpisahkan oleh tembok panjang setinggi tiga meter, tembok yang melingkupi perumahan mewah Bintaro Jaya. Hemmm…. Inilah kehidupan. Barangkali para penghuni rumah mewah itu tidak pernah melongok sekalipun apa yang terjadi di balik tembok betonnya, tidak pernah meraba denyut kehidupan sesamanya, bahwa di balik tembok juga ada orang-orang yang baru bisa hidup setelah mengorek-ngorek sampah mencari-cari barang bekas.

Ironisnya, tempat-tempat sampah di beberapa perumahan kini sudah digembok dengan alasan sampah mereka takut berantakan diacak-acak anjing dan… pemulung! Mungkin sahabat bisa lebih lanjut mengikuti penelusuran dan kisah saya ini:

MENGAIS-NGAIS SAMPAH UNTUK SEKOLAH
Oleh Pepih Nugraha

Pengantar Redaksi:
Para pemulung barang-barang bekas yang jumlahnya jutaan jiwa di negeri ini sering dipandang sebagai warga kelas kesekian. Pekerjaannya yang harus bergumul bersama tumpukan atau gunungan sampah di tempat pembuangan akhir (TPA), membuat mereka hanya bisa berada di lingkungan yang sama, yakni di komunitas-komunitas pemulung. Mereka sering dianggap kotor karena biasa hidup tidak sehat. Padahal, apa yang mereka lakukan hanyalah menyabung nyawa, karena negara ini tidak mampu menyediakan lapangan pekerjaan yang “layak” buat mereka. Jika terjadi kecelakaan di timbunan sampah, pejabat seenaknya menyalahkan mereka tanpa ada rasa empati sedikit pun. Padahal, tidak sedikit orang menggantungkan hidupnya dari mengais-ngais sampah, untuk makan bahkan untuk sekolah.

Suatu pagi, Heri, pemulung barang-barang bekas, nyaris menjadi amukan seorang warga di suatu perumahan mewah. Gerobak yang selalu ia bawa ke mana ia pergi mengais-ngais sampah ditahan warga, sementara Heri yang kala itu masih duduk di kelas VI sekolah dasar diinterogasi warga.

“Kamu kan yang mencuri dua pasang sepatu anak saya tempo hari?” Heri didorong sampai punggungnya menempel di tembok.

“Sumpah Om, saya enggak nyuri, saya cuma nyari barang-barang bekas.”
“Ah, bohong kamu. Pergi kamu dari sini dan jangan pernah kemari lagi!”

Heri mengenang peristiwa tiga tahun lalu saat kami menemuinya. Minggu, (17/9), kami baru bisa menemuinya bersama kedua adiknya setelah tiga hari berturut-turut berada di tempat penampungan barang-barang bekas, di tanah seluas 1.000 meter persegi di Desa Jombang, Ciputat, Tangerang.

“Orang itu mengira saya yang mencuri hanya karena kebetulan saya sedang nyari di tempat sampahnya,” kenang Heri yang masih mengenakan pakaian kerjanya, yakni pakaian sehari-hari yang di beberapa tempat
sudah dihiasi tambalan, sementara kotoran kering lekat menempel di bagian depannya.

Agak sulit menemui Heri dan dua adik laki-lakinya, Hedi dan Hadi, sebab pagi hari mereka berangkat sekolah dan sehabis pulang sekolah langsung mencari barang-barang bekas sampai magrib menjelang. Di
tempat penampungan barang-barang bekas itulah Heri tinggal bersama orangtua dan adik-adiknya.

Hari Minggu mestinya hari bermain bagi umumnya anak-anak. Tetapi bagi Heri, Hedi dan Hadi, hari luang itu justru dijadikan hari ekstra untuk mencari barang-barang bekas di perumahan-perumahan di sekitar kawasan elite Bintaro. Pada hari Sabtu dan Minggu, banyak ibu rumah tangga membuang sepatu, baju atau pakaian bekas. Kalau rezeki itu datang, pakaian dan sepatu bekas itu untuk mereka pakai.

Sehari sebelumnya Heri mendapatkan tas sekolah bekas yang dibuang seorang warga. Murid kelas III SMP Paramarta, sebuah SMP swasta di Jombang, ini kemudian mencuci dan membersihkannya. Hari ini saat kami
menemuinya, tas sekolah bekas itu masih tergantung di jemuran. “Saya mau memakainya besok, Om,” katanya.

Nama lengkapnya adalah Heri Setiawan (15) yang bersama dua adik laki-lakinya, Hedi Susanto (13) dan Hadi Prayitno (10), merupakan keluarga pemulung. Adik perempuannya, Herni (4), masih terlalu kecil untuk ikut memulung. Hanya memang, mereka berasal dari keluarga pemulung. Ayah mereka, Yono, juga seorang pemulung. Sedangkan sang ibu, Hadijah, mengurus rumah tangga.

Di tempat penampungan barang-barang bekas itu terdapat 30 bedeng terbuat dari bilik bambu atau tripleks. Tiap-tiap bedeng yang hanya terpisahkan sekat-sekat tanpa jarak itu berukuran lebih kurang 1,5 x 2 meter. Di sanalah 25 keluarga menumpang hidup. Bedeng dan gerobak disediakan oleh Ajid, juragan penampung barang-barang bekas. Ajid yang biasa dipanggil “bos” itu mempekerjakan para pemulung, termasuk
keluarga Yono serta tiga anaknya.

Tempat operasi

Tempat operasi mereka berlainan. Yono, sang ayah, sejak subuh sudah berangkat “nyari”, istilah yang biasa mereka pakai untuk memulung. Ketiga anaknya, Heri, Hedi, dan Hadi, beroperasi kala sekolah usai, sekitar pukul 13.00 setiap hari. Heri sudah biasa nyari sendiri dengan gerobak sendiri, sedangkan Hedi dan Hadi selalu berdua, tetapi sudah membawa gerobak masing-masing.

“Sebenarnya saya sudah berani sendiri, Om, cuma kasihan sama Hadi yang masih kecil,” kata Hedi yang duduk di kelas I SMP, satu SMP dengan Heri, tentang adiknya. Hadi masih bersekolah di SD Sawah Baru I kelas V. Tetapi dalam mencari barang-barang bekas, kedua abangnya mengaku bahwa Hadi jauh lebih terampil. “Sampai ini hari saja gerobaknya sudah penuh tuh, Pak,” sela ibunya, Hadijah, di tengah perbincangan.

Ia seorang ibu asal Rangkasbitung, Banten, yang sudah menikah saat masih berusia 15 tahun. Saat bertemu Yono 16 tahun lalu, suaminya yang asal Semarang itu sudah mencari nafkah sebagai pemulung di Rangkasbitung. Pekerjaan yang tidak berubah sampai sekarang. Tetangga Hadijah, Arni dan Nia, ikut mendengar perbincangan kami. Sementara para suami mereka, termasuk suami Hadijah, saat itu belum
pulang dan masih menjalani pekerjaan rutinnya. Hadijah sendiri saat itu tengah memasak sayur di atas tungku bertenaga kayu bakar. Ia memasak sayur dan menanak nasi untuk makan keluarganya.

Jika disatukan, penghasilan bapak dan ketiga anak-anaknya itu setiap dua minggu, saat proses pengiloan barang berlangsung, bisa mencapai Rp 700.000. Karena sebulan berlangsung dua kali pengiloan, setiap bulannya keluarga Yono bisa menghasilkan Rp 1,4 juta. Uang sebesar itulah yang menghidupi keluarga itu, termasuk untuk biaya sekolah.

Hadijah, misalnya, menghitung, untuk biaya sekolah Heri per bulannya Rp 50.000, Hedi Rp 60.000, dan Hadi Rp 15.000. Total sudah Rp 125.000. Anak-anaknya masing-masing mendapat Rp 3.000 sebagai bekal untuk sekolah, sehingga rata-rata per bulan Rp 250.000. “Sisanya ya buat makan, Pak,” kata Hadijah yang fasih
menghitung pengeluarannya.

Hadijah dan Yono, Hadi dan si bungsu Herni tidur satu ruangan, sementara Heri dan Hedi, karena dua-duanya sudah SMP dan sudah beranjak dewasa, diberi satu bedeng terpisah oleh Ajid. Sama seperti
umumnya kamar anak-anak, di kamar Heri terdapat poster Spiderman, lemari bekas pakaian, kasur yang tanpa seprai, dan beberapa onggok kertas bekas yang siap dijual. Semua berjejalan di bedeng itu.
Heri yang bercita-cita meneruskan sekolahnya tahun depan ke STM sudah menjadi pemulung sejak kelas IV SD di Rangkasbitung. Ia bertekad akan terus menjadi pemulung untuk membiayai pendidikannya,
demikian juga Hedi dan Hadi.

“Kami tidak memaksa anak-anak nyari. Hanya saya bilang tidak bisa membiayai sekolah. Bolehlah kami dikatakan memeras tenaga anak-anak jika itu untuk keperluan rumah tangga. Tetapi mereka nyari buat biaya sekolah mereka, sesuai kemauan mereka,” kata Hadijah tentang ketiga anaknya.

Heri mengaku hampir semua teman sekelasnya tahu apa yang ia kerjakan selepas pulang sekolah, termasuk guru-gurunya. Tetapi sejauh itu, teman-teman jarang menghinanya sebagai pemulung. “Ada juga yang menghina, Om, tetapi saya bilang, ‘Elu tuh yang harusnya malu, sekolah dibiayain orangtua’. Biasanya mereka malu sendiri,” katanya.

Akil balig

Sebagai anak yang beranjak akil balig, Heri mengaku pada dirinya timbul perasaan suka terhadap lawan jenis, teman-teman perempuan sekelasnya. Tetapi ia mengaku harus lebih berkonsentrasi pada pelajarannya. “Apa ada Om cewek zaman sekarang yang mau pacaran sama pemulung?” kata Heri dengan nada bertanya. Kami semua terpancing untuk tertawa.

Barang-barang bekas yang Heri dan adik-adiknya cari umumnya plastik bekas minuman kemasan, kertas dan karton bekas, dan juga logam. Tetapi sebagai anak-anak, mereka akan senang kalau menemukan
mainan. “Beyblade (gasing) ini juga hasil mulung, Om,” kata Hadi menunjukkan mainannya.

Demikian juga sepatu dan baju sehari-hari yang mereka kenakan, sebagian besar dari hasil memulung, seperti tas sekolah yang ditemukan Heri yang kini sudah kering di atas jemuran. Satu hal yang mereka keluhkan, dan ini keluhan umum para pemulung, bahwa rata-rata tempat sampah di perumahan sudah dikunci rapat-rapat pemiliknya. Ini karena pemilik rumah tidak mau tempat sampahnya diacak-acak binatang atau pemulung.

Padahal, dari barang-barang bekas yang masuk tempat sampah itulah Heri, Hedi, dan Hadi bisa bersekolah.

========

Demikian copy-paste-an yang saya dapatkan dari kompasiana.com, tempat yang menjadi rujukan bagi saya untuk belajar  menulis dan menulis. Semoga artikel copy-paste-an di atas berguna dan dapat memotivasi saya dan Anda.

5 thoughts on “How to be a writer.. a blogger..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s